Ignatius Jonan

Konflik Internal

ignasius Jonan seolah tak tergantikan. Kurang dari tiga bulan setelah lengser dari menteri kabinet presiden Joko Widodo, dia dipanggil kembali untuk duduk di kursi pemerintahan. Jika sebelumnya dilengserkan dari Menteri perhubungan pada 27 Juli 2016, kali ini dia ditunjuk menjadi Menteri energi dan sumber Daya Mineral (esDM) pada 14 Oktober lalu.

penyebab Jonan diberhentikan Jokowi juga tidak jelas. presiden asal solo tersebut juga tidak mengungkapkan alasannya. Begitu juga Jonan. saat ditanya penyebab pencopotannya, dia juga menggeleng. “silakan tanya presiden,” katanya. Jonan sejatinya sudah cukup akrab dengan dunia manajemen di lingkungan pemerintahan. sebelumnya, alumnus sMa Katholik st. louis 1 surabaya tersebut menjabat sebagai direktur utama pt Bahana pembinaan usaha indonesia (Bpui). Dari perusahaan pelat merah tersebut dia ditunjuk sebagai orang nomor satu di pt Kereta api indonesia (Kai).

lima tahun di Kai (2009–2014) Jonan mereformasi total karakter dan layanan kereta api. Revitalisasi dilakukan mulai stasiun hingga gerbong. layanan kereta

api yang biasanya pas-pasan sekarang dibikin sangat nyaman. Bahkan, semua kelas kereta kini menggunakan pendingin udara. Ongkos kereta api dan pesawat terbang kini bahkan berjarak sangat tipis. Kereta mulai menjadi moda transportasi utama yang tak kalah dengan pesawat terbang. Kiprah Jonan diakui banyak pihak. Hasilnya, dia dipromosikan sebagai Menteri perhubungan pada 27 Oktober 2014. Dari situlah karirnya berlanjut hingga sekarang menduduki kursi menteri esDM.

Dua Fase: Swasta dan Pemerintah

Kiprah Jonan sejatinya dibagi dalam dua fase. Masing-masing merentang 15 tahun. Dalam 15 tahun pertama, hidupnya dihabiskan untuk berkecimpung di dunia swasta. Jabatan terakhirnya adalah direktur pelaksana citibank. Sedangkan 15 tahun kedua adalah di pemerintahan. Menurut Jonan, dua dunia itu sangat berbeda. Di swasta, semua orang fokus terhadap pekerjaan. Hampir tidak bisa mengurusi kepentingan lain di luar tugasnya. sebaliknya, di pemerintahan tingkat fokusnya sangat minim. Hanya sekitar 30 persen dari pekerjaan utama. Mereka selalu disibukkan dengan urusan politik, sosial, dan intrik-intrik internal. padahal, kata Jonan, indonesia harus memacu kecepatan untuk mengatasi ketertinggalan di Tingkat global konflik konflik internal hanya akan menghambat kinerja Apalagi, sering penyebab konflik tersebut sangat sepele dan tidak sehat misalnya, beberapa pihak tidak rela jika ada prestasi seseorang yang menonjol.

Jonan mengakui, salah satu alasan mengapa dirinya bisa berkiprah sejauh ini karena tak pernah memedulikan hal-hal itu. Dia fokus terhadap apa yang ditugaskan kepadanya. ”tak ada urusan dengan yang lain,” kata arek suroboyo ini. Karena itu, Jonan mengaku hanya fokus pada tugas yang diberikan. ”tugas yang diberikan harus dibalas dengan kinerja yang optimal,” ujarnya. Menurut Jonan, agar bangsa indonesia kuat dalam kompetisi global, gesekan antar komponen bangsa harus dilenyapkan. ”Jangan saling gesek sehingga kita menjadi tidak cepat maju,” paparnya. 

Unair Jangan Inward Looking 

terkait target unair yang ingin masuk 500 besar dunia, Jonan justru balik mempertanyakannya. Mengapa 500? Mengapa tidak langsung memancang target lebih tinggi? 100 besar, misalnya. unair, kata Jonan, memiliki sumber daya manusia yang unggul. Banyak profesor, doktor, dan tenaga dosen yang cemerlang di bidangnya. Bersaing di level 100 dunia seharusnya tidak membuat unair gentar.

apalagi, dia menganggap almamaternya selama ini cenderung hanya melihat ke dalam. tidak membandingkan dirinya dengan perguruan yang lebih besar di level dunia. Jonan mengaku pernah menyampaikan saran tersebut kepada Rektor unair prof. Dr. Moh. nasih. Menurut dia, target masuk dalam 100 besar universitas dunia itu bisa dicapai dalam waktu 5 tahun. Yang penting langkahnya jelas dan konkret. ”pasti terwujud,” kata alumnus sMp santo Yosep, di daerah Joyoboyo surabaya itu. Meski demikian, Jonan memberikan apresiasi terhadap unair. selama kuliah di Fakultas ekonomi dan Bisnis (FeB) dia merasakan kebersamaan yang kuat. ”Rasa saling menolong sesama mahasiswa amat kuat. Dosen-dosen saya sangat sungguh-sungguh saat mengajar,” tuturnya. *

Riwayat Pekerjaan

  • Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral ke-17

    Kementerian ESDM

    2016 - 2019

  • Menteri Perhubungan ke-36

    Kementerian Perhubungan Republik Indonesia

    2016 - 2016

  • Direktur Utama

    PT Kereta Api Indonesia

    2009 - 2014

Riwayat Pendidikan

  • Fletcher School

    Tufts University, Amerika Serikat

  • S1 Akuntansi

    Universitas Airlangga

    1982 - 1986

Alumni Berprestasi

Copyright © Universitas Airlangga