Pilih Jalani Hidup Mengalir dan Jadi Orang Bermanfaat
Dapat mengenyam pendidikan tinggi, kemudian lulus sebagai alumni Universitas Airlangga (UNAIR) diakui Subali merupakan salah satu hal paling membanggakan dalam hidupnya. Alumni Antropologi Sosial FISIP UNAIR tahun 1995 itu lalu melanjutkan, rasa bangga saja tak cukup untuk membuat hidup seseorang jadi berkesan. Menyandang gelar sarjana dari kampus besar tak otomatis membuat perjalanan karir Subali mulus tanpa kendala. Sama seperti para lulusan baru pada umumnya, Subali sempat berulang kali mencoba peruntungan dan berebut peluang di dunia kerja. Terlebih, saat itu ia dihadapkan realitas bahwa jurusan kuliah yang diambilnya tergolong kurang marketable atau familiar di dunia kerja Indonesia.
“Tentu setiap alumni punya jalan hidup dan cerita sendiri-sendiri. Kodrati kita sebagai manusia biasa tidak bisa dibantah, rahasia hidup kita ke depan adalah rahasia Tuhan Yang Maha Kuasa. Manusia hanya bisa berencana, Tuhan-lah yang menentukan segalanya,” tutur dia.
Meski tidak mudah, namun Subali pantang menyerah. Segala kesulitan yang dihadapi tak lantas menciutkan nyalinya. Subali bertekad setelah lulus dari UNAIR pantang baginya menganggur dan pulang ke kampung halaman sebelum berhasil memperoleh pekerjaan. Kala itu dirinya memilih untuk bertahan di Surabaya dan menjalani masa survival pasca tidak dibiayai orang tua lagi.
Akhirnya berkat bantuan kakak kelas, Subali memperoleh pekerjaan pertamanya sebagai anggota peneliti atau surveyor beberapa konsultan pembangunan di Surabaya. Diantaranya, PT CSW, PT Surya Abadi, PT Geoplano hingga konsultan Perancis BCEOM. Subali mengaku sangat menikmati pekerjaan tersebut. Ia pun sering berkeliling dari satu daerah ke daerah lain, bahkan ke luar Jawa, guna melakukan assessment sosial terkait perencanaan pembangunan. Bagi Subali, bidang pekerjaannya kala itu termasuk pekerjaan mulia, sebab hasil dari survei yang dilakukannya menjadi analisa awal pre-detail engineering design dan menjadi pembuka komunikasi dengan masyarakat calon penerima manfaat ataupun dampak pembangunan.
Tantangan Baru Pekerjaan
Pada tahun 2004 Subali mendapat tantangan baru dalam pekerjaannya, yakni menjadi Koordinator Program Kemitraan Pendidikan Dasar Indonesia–Australia (Indonesia–Australia Partnership in Basic Education) dan tergabung dalam AusAID Project di Gresik. Meski tak memiliki latar belakang ilmu pendidikan, Subali yakin dirinya dapat memberikan yang terbaik dalam pekerjaan barunya itu. Sering berinteraksi dengan pekerja internasional, dosen perguruan tinggi kependidikan, kepala sekolah, guru dan stakeholder pendidikan sempat membuat Subali merasa canggung. Namun Subali berusaha terus belajar dan mengelola setiap tantangan dalam pekerjaan barunya. Subali membuktikan kinerjanya di AusAID Project selama tiga tahun dijalani dengan sukses. Dirinya pun menuai apresiasi dari berbagai pihak, mulai dari bupati, DPRD, Dinas Pendidikan, hingga sekolah. Program yang dibuat pun menjadi salah satu pilot project dan benchmarking peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia.
Ketika Subali masih menikmati pekerjaannya di AusAID Project, ia Kembali mendapat tawaran bergabung ke pekerjaan baru. Pada tahun 2006 Subali ditugaskan menjadi Konsultan CSR Pendidikan di perusahaan minyak dan gas, HESS Indonesia Pangkah Limited, sebuah perusahaan hulu migas dari Amerika Serikat. Setahun kemudian Subali beralih menjadi CSR External and Government Relation. Delapan tahun kemudian, tepatnya di tahun 2014 Subali diamanahi tugas menjadi Senior Social Responsibility, External and Government Relation pada perusahaan hulu migas PGN Saka yang merupakan anak usaha Perusahaan Gas Negara (PGN).
Pekerjaan tersebut ditekuni Subali hingga sekarang. Bekerja di lingkungan industri ekstraktif hulu migas merupakan hal baru yang lagi-lagi penuh tantangan berat bagi Subali. Namun ia menyebutkan, justru di sanalah jiwa antropolog-nya muncul, semisal mencari cara bagaimana menjembatani dunia perusahaan yang high tech (padat teknologi), high capital (padat modal) dan high risk (penuh resiko) dengan dunia masyarakat sekitar yang penuh kearifan lokal.
“Biar tidak terjadi gap dan konflik, harus ada effort dan jalan untuk bisa hidup berdampingan, living in harmony,” ujar pria asal Saradan, Madiun itu.
Pengalaman dan pelajaran tentang bagaimana bekerja dengan konsep tersebut telah ditulis Subali dalam bukunya berjudul “Living in Harmony, Sebuah Interaksi Sosial di Blok Pangkah”. Berkat konsep itu pula Subali memperoleh penghargaan Dharma Karya Energi dan Sumber Daya Mineral oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) RI Ignasius Jonan pada tahun 2017.
Hobi Menulis dan Pegang Teguh Prinsip
Siapa sangka pria bersahaja ini memiliki hobi menulis sejak muda dan masih ditekuni hingga sekarang. Sejak dulu ia dikenal aktif mengirimkan tulisan ke berbagai media cetak. Pengalaman menulis tersebut sudah lama diasah mulai jenjang SMP, SMA hingga ketika menjadi mahasiswa. Subali kerap menulis dan mengirim artikel ke media seperti Jawa Pos, Surabaya Post atau Memorandum. Honor menulis yang ia peroleh sering ia gunakan untuk mentraktir teman-temannya di kampus. Bahkan, waktu itu ia sering meminjam fotokopi kartu mahasiswa teman-temannya supaya bisa mengirim artikel di berbagai media. Apabila tulisannya dimuat dan mendapat honor, Subali akan membagi honor tersebut dengan teman yang meminjaminya KTM.
Saat Subali masih bekerja sebagai tenaga social analyst konsultan pembangunan secara paruh waktu, ia masih menyalurkan passion menulisnya dengan menjadi jurnalis di Majalah Tilik Desa dan menjadi Redaktur Majalah Warta Giri. Ia mengatakan, menjadi seorang jurnalis adalah tonggak untuk mengasah kemampuan community relation. Berkeliling ke berbagai kabupaten/kota di Jawa Timur, bertemu orang desa guna meliput dan mempromosikan produk UMKM adalah kenangan tak terlupakan bagi Subali. Dari dunia jurnalis, talenta menulisnya kemudian merambah ke penulisan buku. Hingga kini, Subali telah berhasil menulis dan menerbitkan 6 judul buku.
Lika-liku pekerjaan yang dijalani pasca lulus kuliah hingga sekarang, diakui Subali bukanlah sebuah proses yang direncanakan. Menurut dia, semua mengalir begitu saja. Prinsipnya adalah selalu menikmati dan mensyukuri apapun pekerjaan yang dilakukan.
“Karena pekerjaan adalah rezeki, maka sudah seharusnya dalam menjalani harus memiliki dimensi manfaat. Bermanfaat bagi diri sendiri, keluarganya, institusi tempat bekerja, dan orang lain,” ungkap Subali.
Ia menambahkan, apalah artinya memiliki jabatan dan gaji yang tinggi tapi hidupnya tidak bermanfaat. Subali mengibaratkan hal tersebut seperti hidup dan bekerja di ruang hampa. “Walaupun tidak memiliki jabatan dan penghasilan yang berlimpah, namun jika seseorang dapat bermanfaat bagi orang lain, hidup akan terasa lebih nikmat. Syukur Anda memiliki dua-duanya, hidup tidak hanya terasa nikmat tapi juga lengkap,” imbuh dia.
Prinsip bekerja untuk memberi manfaat bagi orang lain, membuat Subali merasa terbantu menjalani pekerjaan yang sulit dan penuh tantangan. Sebab, bagi Subali membantu orang lain atau masyarakat adalah panggilan jiwa yang dapat menjadi sumber motivasi tersendiri dalam bekerja. Hal tersebut pula yang memberikan kepuasan dan ketenangan batin dalam menjalani hari-hari kerja Subali selama ini.
“Hiduplah mengalir, dan jadilah orang yang bermanfaat di manapun Anda bekerja atau beraktivitas. Selamat berdharma bakti suci berjasa mulia dengan menjadi orang yang bermanfaat,” pungkas dia.