Selami Hukum Indonesia dengan Penuh Dedikasi
“Saya ingin terus mengembangkan diri di bidang lain karena apa yang kita lakukan ini bisa menjadi amal ibadah”
Semua orang sama di hadapan hukum. Kiranya itulah yang hingga kini dipegang oleh sosok Dr Adhryansah, S.H., M.H. Adhry, sapaan akrabnya, adalah alumnus program doktor Ilmu Hukum Universitas Airlangga (UNAIR) yang telah lama berkiprah dan menunjukkan kontribusinya di bidang hukum. Ia lulus pada akhir 2024 dengan predikat wisudawan terbaik dengan meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,82 dalam waktu 3 tahun 2 bulan.
Saat in, Adhry menjabat sebagai Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Ambon. Perjalanan karir Adhry dalam bidang hukum terbilang cukup panjang. Mulai dari menjadi staf hingga menjadi kepala kejaksaan, dengan berpindah dari satu daerah ke daerah lain.
Awal Karir
Adhry bercerita, tidak ada latar belakang khusus mengapa ia memilih hukum sebagai bidang yang ia geluti. Sejak awal, hukum telah menjadi salah satu pilihannya untuk ia pelajari pada perguruan tinggi, meski pilihan utamanya adalah akuntansi. Namun, seolah takdir berkata bahwa pada hukumlah Adhry harus mengabdi.
“Dalam melakukan suatu hal, ketika kita memutuskan memilih suatu jurusan, maka konsekuensinya kita harus fokus. Bahkan seharusnya merasa tidak cepat puas sampai strata itu saja, sehingga melanjutkan pada strata tertinggi sebagai pencapaian yang bisa diraih,” ucapnya.
Karir gemilang Adhry ia rintis sejak lulus pendidikan sarjana. Sebelumnya, ia menempuh S1 Ilmu Hukum di Universitas Katolik Parahyangan Bandung. Selepas lulus, ia sempat bekerja sebagai pegawai di Kejaksaan Negeri Kota Bandung. Kemudian, ia melanjutkan pendidikan magister di bidang yang sama, yakni Hukum di Universitas Padjadjaran. Ya, Adhry muda lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bersekolah dan berkarir di Kota Kembang itu. Baru setelah itu, Adhry diamanahi untuk mengikuti penempatan di berbagai daerah.
“Selama berkarir, awalnya saya ditempatkan di Kejari Bandung kemudian di Lampung. Lalu tiga kali juga saya berpindah-pindah tempat sebagai kepala kejari,” ujarnya. Sebelum bertugas di Ambon, Adhry pernah menahkodai Kejaksaan Negeri Pasaman, Sumatra Barat; Kejaksaan Negeri Kraksaan, Probolinggo, Jawa Timur.
HAM Menjadi Inspirasi
Selama perjalanan karirnya, Adhry mengaku lebih banyak ditugaskan di bidang intelijen dan pidana khusus kasus korupsi. Namun, pada tahun 2020 ia ditunjuk untuk menjadi Adhry pernah menjabat sebagai Kepala Sub Direktorat Penyidikan HAM Berat pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus, Kejaksaan Agung Republik Indonesia. “Ketika saya diamanahi itu, pertimbangannya adalah adanya perintah langsung dari Presiden Jokowi, di mana janji politiknya untuk menyelesaikan perkara HAM berat,” tuturnya.
Adhry menyadari, permasalahan HAM berat di Indonesia masih menjadi pekerjaan rumah yang tak kunjung terselesaikan. Masih banyak tantangan dan kendala yang dihadapi, terlebih adanya campur tangan politik masih mendominasi. Kendati demikian, carut marutnya permasalahan HAM berat di Indonesia justru mengilhami Adhry untuk terus belajar dan memberikan dedikasi terbaiknya.
“Kondisi itu menginspirasi saya untuk membuat disertasi berkaitan dengan penanganan HAM berat. Dengan harapan ke depan bisa menjadi masukan, yang artinya dalam menangani perkara tersebut harus memiliki rasa keadilan yang memenuhi komponen kehidupan berbangsa dan bernegara,” tegasnya.
Berpindah dari Satu Daerah ke Daerah Lain
Setidaknya lebih dari 20 tahun Adhry berkiprah di bidang hukum. Selama itulah, berbagai daerah telah ia jajaki untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan hukum yang ada. Tidak mudah bagi laki-laki kelahiran Palembang itu untuk menunaikan semua tugas dengan kondisi masyarakat dan budaya yang berbeda-beda. Namun, tekadnya yang kuat untuk terus mengabdi mampu mengalahkan kesulitan-kesulitan yang ada.
Lebih lanjut, Adhry menyadari bahwa perbedaan budaya di setiap daerah adalah hal yang lumrah. Sebagai kepala kejaksaan, ia pun menyadari bahwa kemampuan secara teknis saja tidak cukup. Kepiawaian menyelami kehidupan masyarakat dan bagaimana cara mengambil keputusan yang selaras dengan kearifan lokal tempatnya bertugas juga amat penting untuk dikuasai.
“Tentunya berpindah-pindah tempat itu menjadi tantangan tersendiri. Bahwa menangani suatu perkara itu tidak ada kata berjalan mulus, pasti ada tantangan, hambatan, hingga ancaman. Tapi kita harus menjalani itu dengan penuh rasa ikhlas dan keyakinan bahwa kita mampu menyelesaikan,” tukasnya.
Pendidikan Tunjang Kualitas Diri
Pengalaman Adhry di bidang hukum tentu tak perlu diragukan lagi. Namun, seperti yang selalu ia percayai, bahwa manusia pantang merasa cepat puas, maka baginya terus meningkatkan kualitas diri adalah sebuah kewajiban. Ia melakukannya dengan terus belajar dan belajar, hingga mencapai jenjang pendidikan tertinggi.
“Apa yang sudah menjadi modal kita untuk meniti karir tentunya harus kita tingkatkan, salah satunya dengan pendidikan formal yang mumpuni. Dalam hal ini kita harus berusaha bagaimana pendidikan bisa sampai titik tertinggi,” katanya.
Tidak cukup dengan hanya belajar, Adhry juga menyebarkan ilmu yang telah ia dapatkan selama menempuh pendidikan, juga pengalaman yang ia peroleh selama menangani berbagai kasus hukum. Ia dipercaya untuk menjadi seorang pengajar di Universitas Pattimura, salah satu perguruan tinggi negeri di Ambon.
“Di sana ternyata banyak alumni sesama UNAIR, sehingga membuat saya semakin termotivasi untuk menjaga amanah dan membuat saya ingin terus mengembangkan diri di bidang lain karena apa yang kita lakukan ini bisa menjadi amal ibadah,” tandasnya.
Pada akhir, Adhry menyampaikan harapannya atas kondisi hukum di Indonesia. Ia berharap dapat terus berkontribusi dalam menciptakan hukum yang berkualitas. “Dalam artian, hukum berkualitas sesuai dengan perkembangan di masyarakat, bisa menjadikan rasa aman dan adil dalam hidup masyarakat kita. Hukum yang berpihak pada seluruh rakyat Indonesia,” pungkasnya.