Menempa Diri saat Studi di Belgia
Salah satu alumnus Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unair yang berhasil meniti karier profesional ialah H. Taufik Arsono, Ak., MBA., LLM. Setelah menyelesaikan S1-nya di FEB Unair, H. Taufik Arsono beberapa waktu kemudian meraih Advanced Master in International Tax Law di KU Leuven (Belgia) pada 2006. Kini ia menjabat sebagai CEO Amadea Killa Indonesia, Jakarta.
Awal Karier di Jakarta
H. Taufik Arsono, S.E alumnus FEB. Ia mengisahkan, selepas lulus 1986 dari FEB, dirinya diterima bekerja di beberapa perusahaan di Jakarta. Selanjutnya ia pelan-pelan mulai melirik karier di dunia perpajakan. Masih di Jakarta juga. Sampai kemudian ia eksis berkarier di International Tax Law, melalui perusahaan yang dipimpinnya yakni PT Amadea Killa Indonesia, Jakarta, sampai saat ini.
Mencanangkan Tekad dan Menghasilkan Karya Bermanfaat
H. Taufik Arsono, S.E memiliki prinsip dalam bekerja. Menurut dia, dalam bekerja harus selalu berupaya memberikan hasil terbaik. Baginya, pekerjaan dan jabatan adalah amanah yang harus dijalankan dengan baik. Karena itu, dia harus memberikan seluruh kemampuan lahir dan batin kepada pemberi amanah. Tetapi, tuturnya, yang utama ialah tekad untuk menghasilkan karya yang bermanfaat.
“Prinsip saya dalam bekerja dan bermasyarakat adalah menjalankan kesetiaan yang juga merupakan amanah, integritas, dan rendah hati.”
Ia mengatakan, apapun yang dikerjakan harus dijalankan dengan sungguh-sungguh. Jangan setengah-setengah. “Jika etos kerja seperti itu yang dijalankan, insyaallah akan menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat,” tuturnya.
Pengalaman Inspiratif Studi di KU Leuven
H. Taufik Arsono meraih Advanced Master in International Tax Law dari Katholieke Universiteit Leuven (KU Leuven), Belgia, pada 2006.
Pria asal Porong, Sidoarjo ini mengatakan selama studi di KU Leuven menjadi pengalaman hidup yang sangat inspiratif. Yakni, dalam menjalankan kehidupan sehari-hari harus mulai dari susah, berkeringat, dan dijalani dengan sederhana serta rendah hati.
Menurut H. Taufik Arsono, semasa kuliah di KU Leuven, ia harus menjalani kehidupan serba “warisan.” “Sepeda sebagai alat transportasi dari dan sekitar tempat kos warisan kakak angkatan yang sudah selesai masa studi. Selimut juga warisan. Bahkan alat masak di kos juga warisan,” tuturnya.
Salah satu yang sangat diingat H. Taufik Arsono ialah hidup pas-pasan. Karena itu harus berhemat dalam semua kebutuhan termasuk soal makanan. Selama studi di Belgia, kata dia, harus bisa belanja makanan murah untuk satu minggu ke depan.
Kebetulan di sana ada Pasar Jumat yang menjual makanan sangat murah. Tapi Pasar Jumat itu hanya berlangsung 30 menit, dari pukul 12.30 sampai pukul 13.00. “Di Pasar Jumat itu, saya borong makanan murah termasuk lauk-pauk, untuk ukuran satu minggu ke depan.
H. Taufik Arsono menuturkan, harga normal satu potong ayam adalah 1,8 Euro. Namun bila menjelang pasar tutup, harga diobral. “Euro 8 bisa dapat 15 potong sayap atau paha ayam. Bisa untuk makan seminggu. Jadi tiap hari saya selalu makan ayam selama 18 bulan. Untung nggak tumbuh bulu ayam di badan,” cerita dia sambil tertawa.
Pasar Jumat itu buka dari pukul 09.00 pagi dan tutup pukul 13.00 siang. “Saya harus menunggu mulai 12.30 menjelang pasar tutup. Saya turun dari kelas tempat kuliah menuju Pasar Jumat. Lokasinya juga dekat, kurang lebih hanya 5 menit jalan kaki. Menjelang pasar tutup makanan dan minuman termasuk ayam bakar diobral daripada dibuang,” kata H. Taufik Arsono tentang pengalamannya hidup pas-pasan selama kuliah di KU Leuven.
Relawan Riset Obat Anti-Pikun
Sebagaimana riset vaksin Covid-19, sebelum dinyatakan layak dan resmi digunakan untuk masyarakat, terhadap obat anti-pikun juga harus dilakukan serangkaian riset dan penelitian untuk menjamin obat tersebut aman bagi masyarakat.
Setelah melalui berbagai rangkaian percobaan yang diuji cobakan kepada binatang, obat tersebut diuji cobakan kepada manusia. Tentu para dokter menjunjung tinggi etika kedokteran agar mereka yang berpartisipasi menjadi relawan dalam riset dan percobaan tersebut terjamin keselamatannya.
Tidak gratis. Relawan yang mau menjadi objek uji coba diberi honor sebesar 7.500 Euro. Karena cukup besar honornya, sayapun ikut menjadi relawan uji coba obat anti-pikun itu.
“Bagi saya yang hidup pas-pasan selama kuliah di KU Leuven, besarnya honor itu dapat menambah bekal biaya hidup. Saya senang sekali mendapatkan bayaran 7.500 Euro,” ujar H. Taufik Arsono seraya menambahkan mungkin dia dan teman-temannya yang menjadi relawan merupakan manusia pertama yang mengikuti program riset tersebut.
Pembentukan Karakter
Pengalaman studi di KU Leuven itu, kata H. Taufik Arsono, menjadi salah satu proses pembentukan karakter dirinya menjadi pekerja profesional yang tidak mudah menyerah. Di KU Leuven pula, H. Taufik Arsono mengaku terlatih membina diri untuk mempraktikkan kepemimpinan serta pergaulan di tingkat yang lebih luas dan lebih tinggi.
Terkait almamaternya, Unair yang kini masuk ranking 521-530 universitas top dunia, ia ikut senang dan memberi apresiasi. “Tetapi saya berharap pimpinan Unair jangan cepat puas dengan pencapaiannya. Saat ini ruang untuk berkembang dan bersaing dalam percaturan global sangat terbuka dengan tingkat kompetisi yang semakin tajam,” demikian saran Taufik kepada almamater Unair.