Jairi Irawan

Menumbuhkan Kepedulian dari Langkah Kecil

“Menjaga kepercayaan dan hidup apa adanya”

Bagi sebagian orang, perjalanan menjadi seorang politisi acap kali diawali dengan sebuah langkah kecil. Ketika di bangku kuliah, misalnya. Saat tergabung dalam organisasi, banyak yang mulai belajar menyuarakan pendapat, ide, dan bekerja sama demi satu tujuan. Dari diskusi hangat hingga aksi di lapangan, pengalaman tersebut menjadi bekal untuk menempa kepedulian, keberanian, dan langkah yang lebih jauh. 

Sosok Jairi Irawan, S.Hum., M.KP, alumnus Bahasa dan Sastra Indonesia sekaligus Kebijakan Publik Universitas Airlangga (UNAIR) menjadi salah satu figur tersebut. Ia kini menjadi salah satu orang yang mendapatkan amanah untuk menjadi Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerh (DPRD) Provinsi Jawa Timur periode 2024 hingga 2029. 

Tak dinyana, keputusannya untuk aktif organisasi ketika kuliah justru menjadi pemicunya untuk terjun di dunia politik. Ia bercerita bahwa karier yang didapatkannya saat ini tidak terlepas dari apa yang didapatkannya ketika berproses bersama dalam sebuah wadah organisasi.

“Pilihan karier di dunia politik saat ini tidak terlepas dari rangkaian kegiatan dan pengalaman selama perkuliahan,” ungkapnya.

Titik Balik Kepedulian

Dimulai dari pendidikan sarjananya, Jairi sudah mulai aktif di berbagai organisasi, baik intra kampus layaknya Himpunan Mahasiswa Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia dan Badan Legislatif Mahasiswa, hingga ekstra kampus. Selain itu, selama kuliah ia juga kerap kali bersinggungan dengan pihak dari berbagai latar belakang profesi yang semakin memicunya untuk menapaki dunia politik. 

Titik balik terbesar yang kemudian membulatkan keputusannya saat itu adalah ketika ia menjadi salah satu relawan di pinggiran Sungai Kalimas. Tepatnya tahun 2006 ketika ia masih menempuh sarjananya, ia melakukan pendampingan di sana dan mendapatkan kesempatan untuk mengajar Al-Qur'an untuk anak-anak sekolah dasar hingga menengah. Semangat dan keadaan merekalah yang menumbuhkan kepeduliannya terhadap sesama.

“Dua kali dalam seminggu kami diberi kesempatan untuk mengajar baca Al-Qur'an untuk adik-adik usia sekolah dasar dan menengah. Mereka tinggal di bedeng-bedeng kecil sepanjang sungai yang ketika musim hujan tentunya sangat memprihatinkan,” jelasnya.

“Mereka seharusnya memiliki tempat tinggal dan pelayanan dasar yang layak sebagaimana masyarakat lainnya. Setelah kegiatan tersebut, saya semakin intens mengikuti berbagai kegiatan masyarakat terutama ekstra kampus,” lanjutnya. 

Keselarasan Akademik dan Nonakademik 

Kendati aktif dalam organisasi, Ia juga tidak serta merta mengesampingkan kewajibannya dalam akademis. Menurutnya, dunia akademis dan nonakademis adalah dua hal yang harus selaras karena keduanya menjadi penyokong dalam karier dan saling melengkapi satu sama lain. 

“Dunia akademik melatih kita untuk memahami masalah kemudian mengambil kebijakan dengan analisis yang mendalam. Hal ini diperlukan agar kebijakan tidak serta merta dipandang hanya dari sudut pandang politis,” ujarnya.

Alasan inilah yang kemudian melatarbelakanginya untuk mengambil program yang berbeda ketika berkuliah magister. Meskipun ada jarak sepuluh tahun sejak ia lulus S1 dan masuk S2, bahkan kuliah di jurusan yang berbeda, ia tetap tidak mempermasalahkannya mengingat keputusan yang ia ambil nantinya akan berdampak kepada banyak orang dan tentu harus memiliki dasar.

“Ada jarak sepuluh tahun jika ditarik mundur antara S1 dan S2. Selama rentang waktu tersebut saya banyak berkegiatan terutama dalam dunia politik. Saya merasa ada yang perlu ditingkatkan dalam menentukan kebijakan yang akan diambil,” jelasnya.

“Untuk itu, saya memutuskan untuk mengambil magister Kebijakan Publik sebagai langkah selanjutnya dalam karier politik,” sambungnya.

Pelajaran di Panggung Politik

Hingga kini, kariernya di dunia politik telah berlangsung selama lebih dari satu dekade. Tentu pahit dan manis selama berproses telah ia rasakan secara berkala. Kendati demikian, ia menganggap semua jatuh dan bangunnya di dunia politik adalah hal biasa yang sudah pasti terjadi ketika merintisnya. 

“Menjadi anggota legislatif bukan karier politik pertama saya. Sebelumnya tahun 2014 hingga 2018 menjadi Tenaga Ahli Menteri Sosial Kabinet Indonesia Maju. Naik turun karier politik adalah hal yang umum dan biasa saja.”

Atas sepak terjangnya itu, satu pelajaran yang dapat dipetik dari panggung politik adalah selalu membersamai masyarakat. Siapapun orang yang menjadi pilihan dan perwakilan rakyat nantinya, baginya perlu untuk belajar bersama mereka dan peka terhadap hal yang dihadapi mereka dalam hidupnya.

“Belajar membersamai masyarakat dengan berbagai hiruk pikuk yang ada di dalamnya, insyaallah kita akan menjadi peka terhadap persoalan yang ada. Penting juga untuk menjaga kepercayaan dan hidup apa adanya,” tutupnya.

Riwayat Pekerjaan

  • Konsultan Pendidikan/Pendamping Guru Next Edu Surabaya

    2023

  • Tenaga Ahli

    Menteri Sosial Kementerian Sosial RI

    2014 - 2018

  • Manajer Program Klinik BUM Desa Jawa Timur

    2019 - 2023

  • Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerh (DPRD) Provinsi Jawa Timur

Riwayat Pendidikan

  • S1 Bahasa Dan Sastra Indonesia

    Universitas Airlangga

    2005 - 2010

  • S2 Kebijakan Publik

    Universitas Airlangga

    2020 - 2023

Alumni Berprestasi

Copyright © Universitas Airlangga