Akrab dengan Lingkungan Pesantren Sejak Kecil
“Selama masih hidup teruslah berkarya agar bisa memberikan kebaikan kepada orang lain,”
Menjalani hidup seperti air mengalir. Begitulah gambaran sosok H. Ainul Yaqin, S.Si., M.Si., Apt yang merupakan alumnus Fakultas Farmasi (FF) Universitas Airlangga (UNAIR). Sosok yang sejak dahulu gemar mengikuti organisasi semasa kuliah ini kini menjabat sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur.
Sekilas Perjalanan Hidup
Ainul bercerita saat ia menempuh pendidikan sarjana, ia terbilang kuliah dalam waktu yang cukup lama. “Saya termasuk yang kuliahnya lama, karena aktif berorganisasi di luar. Dengan kondisi begitu, saya juga harus bekerja untuk biaya kebutuhan kuliah,” katanya. Lalu pasca menyelesaikan pendidikan apoteker, sempat beraktifitas di Pusat Inkubasi Bisnis Usaha Kecil (PINBUK) Surabaya, sebuah LSM yang bergerak di bidang pemberdayaan Masyarakat melalui pengembangan baitul mal wat tamwil. Tak lama sesudah itu Ainul hijrah ke Sumenep untuk menjalankan tugas wajib kerja sarjana (WKS). Selama di Sumenep dua minggu sekali ke Surabaya karena masih tetap berkiprah di PINBUK.
Selang beberapa waktu setelah menyelesaikan WKS ia kembali ke Surabaya untuk melanjutkan kuliah di Pasca Sarjana Unair. Ainul juga sempat mengabdikan dirinya pada LPPOM MUI Jatim, yang merupakan lembaga pemeriksa halal pertama yang dibentuk oleh MUI. Di LPPOM MUI Jatim sempat menjabat sebagai Sekretaris kemudian wakil direktur. Dari sinilah Ainul banyak bertemu dengan para ulama dan membangun relasi. Bahkan Ainul sempat menulis berbagai buku saat awal ia mulai bergabung dengan MUI.
“Ketika MUI waktu itu ada rencana menulis buku, lewat situlah saya menawarkan diri untuk ikut berkontribusi,” tuturnya.
Berkat buku yang ia tulis akhirnya Ainul mendapatkan amanah untuk masuk ke dalam kepengurusan MUI saat itu. Lalu setelah diamanahi menjadi Sekretaris MUI pada 2005 hingga 2010, Berikutnya menjadi ketua MUI Jawa Timur sejak 2020. Ainul menerangkan bahwa ia telah berkiprah bersama MUI selama 23 tahun lamanya. Selama berkiprah di MUI dan berinteraksi dengan berbagai pihak mewakili MUI banyak yang mengira ia bukan seorang Apoteker.
Akrab dengan Kultur Pesantren
Ainul mengungkapkan bahwa sejak kecil sang ayah telah mengajarkan ilmu agama sejak kecil. Bahkan ia telah akrab dengan kultur pesantren dari budaya keluarganya. Sebelum mengenyam pendidikan di UNAIR tercatat Ainul sempat menjalani pendidikan di pesantren. “Sejak kecil sudah belajar agama dari ayah. Sempat sekolah di pesantren juga lalu keterima di Fakultas Farmasi. Jadi karena sekarang bertugas di MUI ilmu agamanya nggak hilang,” ungkapnya.
Selama berada di bangku perkuliahan Ainul turut aktif dalam organisasi keagamaan hingga menjadi aktivis masjid kampus. Saat itu ia bercerita bahwa masjid UNAIR telah menjadi tempatnya berdialog bersama para tokoh-tokoh Islam. “Masjid UNAIR dari dulu sangat luar biasa, masjid yang memberikan ruang dari berbagai latar belakang untuk tampil di sana. Tokoh dari latar belakang Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan ormas lain bisa berkumpul di sini. Kultur seperti ini yang terdapat juga di MUI,” jelasnya.
Sepak Terjang sebagai Pengurus MUI
Bagi Ainul MUI merupakan organisasi yang unik. Bagaimana tidak, organisasi ini bisa menjadi wadah bagi semua kelompok untuk berdiskusi. Diskusi yang berlangsung di MUI sangatlah dinamis, hal ini yang membuat Ainul terpacu untuk senantiasa belajar. Banyak pengalaman baru yang Ainul dapatkan semenjak menjadi pengurus MUI. Ia banyak mengurusi kasus paham menyimpang hingga isu ekstrem yang meresahkan masyarakat.
Bahkan isu soal salam beda agama yang menjadi perdebatan di kalangan masyarakat menjadi masalah yang Ainul tangani.
Ainul menjelaskan bahwa dalam dalam agama Islam salam bukan hanyalah budaya tegur sapa semata. Tapi dalam sebuah salam ada doa yang tersirat di dalamnya. Hal inilah yang menurut Ainul ingin MUI jaga. “Dalam salam ada doa, ketika berbicara soal doa artinya ibadah. Karena ibadah maka perlu kita atur. Hal ini agar akidah umat Islam dan keimanannya bisa terjaga,” jelasnya. Pengalaman-pengalaman seperti ini yang bagi Ainul menjadi pengalaman hidup yang menyenangkan. Ia bisa berkesempatan berdialog dengan masyarakat hingga menjadi pelindung para umat.
Menjadi manusia yang memberikan manfaat kepada masyarakat menjadi mimpi yang selalu berusaha Ainul wujudkan. Baginya selama ia diberikan kesehatan dan umur panjang, ia akan mempergunakannya untuk menanam kebaikan. “Allah menilai orang itu dari manfaat yang dia berikan dari apa yang manusia miliki. Dengan cara ini kita akan terus memperbaiki diri dan berkontribusi lebih banyak untuk kepentingan masyarakat. Cara seperti ini yang akan membuat hidup lebih nyaman dan tidak buang-buang waktu,” pungkasnya.