Mariatul Qibtiyah

Keikhlasan Pengabdian Sang Apoteker

“Yang terpenting adalah bekerja Ikhlas dan memberi manfaat sebanyak mungkin”

Mariatul Qibtiyah merupakan alumnus Fakultas Farmasi (FF) Universitas Airlangga (UNAIR) angkatan 1989 yang kini diamanahi sebagai Kepala Unit Pelayanan Farmasi IRNA Anak RSUD Dr.Soetomo. Selain itu, pengabdiannya pada dunia Kesehatan tidak main-main, Qibti, panggilan akrabnya, juga dinobatkan sebagai Tenaga Kesehatan Teladan Kategori Tenaga Kefarmasian di Rumah Sakit Tingkat Nasional. 

Wejangan Ibunda Untuk Kelancaran Kuliah

Qibti bercerita, seusai lulus dari SMAN 2 Surabaya, ia dihadapkan pada dua pilihan. Sang ayah menginginkannya untuk melanjutkan studi di bidang farmasi, sedangkan sang ibu ingin sekali anak semata wayangnya menjadi mahasiswa fakultas kedokteran. Namun, dengan berbagai pertimbangan, salah satunya karena ia mengambil jurusan fisika ketika SMA, akhirnya Qibti memutuskan memilih teknik kimia dan farmasi sebagai pilihan studinya, namun, akhirnya ia diterima di jurusan farmasi.

“Ayah saya meninggal saat semester tiga. Saat itu ada program beasiswa supersemar dan saya mendaftar. Untungnya kampus negeri itu tidak semahal kampus swasta. Akhirnya ibu saya masih bisa membiayai,” ungkapnya.

Saat berkuliah, ia sempat aktif dalam kegiatan rohani keIslamaan dan senat fakultas. Dari sanalah ia banyak mengenal kakak tingkat dan mahasiswa lainnya. Qibti selalu ingat ketika dirinya harus mengulang mata kuliah praktikum resep. Ketika itu, praktikum resep memang salah satu mata kuliah yang sulit. Menurutnya, jarang sekali ada mahasiswa yang langsung lulus, biasanya memang pasti mengulang, bahkan ada yang harus mengulang beberapa kali.

“Harus teliti, misalnya mau bikin salep. Kalau komposisinya nggak tepat, ya tidak jadi salep. Untungnya saya hanya mengulang satu kali saja,” kelakarnya.

Selama perkuliahan, ia selalu diberikan wejangan oleh sang ibunda untuk kelancaran perkuliahannya. Ia kerap mendawamkan doa yang dinasihatkan oleh Ibunda dalam menghadapi permasalahan yang ada. Suatu ketika, ia sedang bimbingan. Menurutnya, dosen pembimbingnya termasuk dosen yang ditakuti. Namun, ia mencoba untuk mendawamkan doa yang diberikan sehingga ketika bimbingan dapat dilancarkan. Doa itu pun ia rasakan manfaatnya.

Perjalanan perkuliahannya pun ditutup dengan penghargaan sebagai wisudawan terbaik di tahun 1994. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan pada profesi apoteker dan mendapatkan penghargaan yang sama, yaitu lulusan apoteker predikat terbaik pertama pada tahun 1995. 

Menjadi Tenaga Honorer Puluhan Tahun

Setelah lulus profesi apoteker, Qibti mencoba untuk melamar pekerjaan di beberapa rumah sakit. Ia memang memiliki minat dalam ranah farmasi rumah sakit. Hal itu dibuktikan dengan mengambil Spesialis Farmasi Rumah Sakit untuk pendidikan lanjutannya.

Ketika lulus dan mendaftar di rumah sakit, ia menjadi tenaga honorer selama 12 tahun. Ketika itu, memang pembukaan CPNS untuk formasi farmasi di wilayah surabaya tidak ada, bahkan zero growth. Saat itu, rumah sakit memang sangat butuh banyak tenaga farmasi, namun karena pembukaan formasi tidak ada, akhirnya perekrutan lewat jalur honorer banyak dilakukan.

“Saat itu instalasi farmasi punya bisnis seperti koperasi farmasi. Mungkin saja untuk tenaga honorer seperti kami, honornya diambil dari perputaran uang di bisnis itu,” jelasnya.

Ia selalu mengingat momen ketika Ryaas Rasyid menjadi Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara RI. Saat itu ia membuat kebijakan tentang tenaga honorer daerah dan kontrak yang sudah mengabdi lama akan diangkat sebagai PNS secara bertahap. Akhirnya Qibti diangkat sebagai CPNS pada tahun 2007 dan PNS pada tahun 2008. Prosesnya hingga diangkat sebagai PNS tentu bukan hal yang mudah, namun baginya setiap porses yang dilalui merupakan bentuk pembelajaran dan pendewasaan.

“Untungnya masa kerja itu dihitung. Jadi SK saya itu tahun ini sudah terhitung 26 tahun. Sebentar lagi dapat Satya Lencana 30 tahun,” katanya.

Kontribusinya Untuk Negeri

Qibti sangat bersyukur bisa berkarya di RS Dr Soetomo. Karena Dr Soetomo tidak hanya sebagai rumah sakit pada umumnya, Dr Soetomo juga sebagai rumah sakit pendidikan yang dimana terdapat pusat penelitian, pengembangan, dan hal-hal rujukan lainnya. Hal itu membuat ia kaya akan pengalaman dan selalu dituntut mempelajari hal baru. Tidak jarang ia pun diminta untuk mengajar atau sekadar memberikan bimbingan kepada mahasiswa, khususnya mengenai kefarmasian.

“Beberapa kuliah pakar juga pernah kita isi. Saya pun juga masih diminta mengajar di Universitas Jember, Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Biasanya sebelum pandemi kita itu offline kesana,” tambahnya.

Pada tahun 2022, Qibti mendapatkan penghargaan dari Kementerian Kesehatan RI sebagai  Tenaga Kesehatan Teladan Kategori Tenaga Kefarmasian di Rumah Sakit Tingkat Nasional. Ketika itu dirinya pun tidak menyangka akan meraih hal tersebut. Maklum saja, berdasarkan ceritanya, waktu persiapan untuk seleksi terbilang cukup singkat karena ia pun dikabarkan menjadi perwakilan Jawa Timur untuk tingkat nasional sebagai perwakilan tenaga kesehatan sangatlah mendadak.

Selain bekerja secara formal. Dirinya pun ikut mengawal beberapa aturan dibidang kesehatan sejak penyusunan hingga implementasinya. Diantaranya adalah Peraturan Menteri Kesehatan (PMK) RI No 28 Tahun 2021 Tentang Pedoman Penggunaan Antibiotik dan PMK RI No 8 Tahun 2015 Tentang Program Pengendalian Resistensi Antimikroba di Rumah sakit. Selain itu, Qibti pun ikut serta dalam pembuatan Buku Panduan Penatagunaan Antimikroba di Rumah Sakit. Hal tersebut menjadi salah satu dukungan dan kontribusi nyatanya bagi sektor kesehatan di Indonesia. 

“Kalau sekarang banyak yang membutuhkan dan mencari, berarti saya bermanfaat. Saya akan sangat menderita kalau tidak ada lagi orang yang menghubungi saya, tidak ada orang yang membutuhkan saya,” katanya.

Dirinya berharap, kedepan, UNAIR beserta alumninya dapat selalu bersinergi secara baik. Baginya, alumni menjadi salah satu parameter bagaimana kualitas dari kampus. UNAIR telah mampu menelurkan berbagai orang-orang hebat yang kini berada di berbagai sektor dengan beragam amanahnya masing-masing. Menjadi tugas bersama untuk mampu menguatkan persaudaraan antara alumnus dalam satu naungan kampus yang sama.

Riwayat Pekerjaan

  • Sekretaris Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA)

    Kemenkes R.I

    2014 - now

  • Koordinator Penjaminan Mutu Instalasi Farmasi

    2015 - now

  • Satgas COVID-19

    RSUD Dr.Soetomo

    2020 - now

  • Tim Agen Perubahan

    RSUD Dr.Soetomo

    2023 - now

Riwayat Pendidikan

  • S1 Sarjana Farmasi

    Universitas Airlangga

    1994 - now

  • Profesi Apoteker

    Universitas Airlangga

    1995

  • Spesialis Farmasi Rumah Sakit

    Universitas Airlangga

    2001

  • Postgraduate Student of Doctoral Program

    Universitas Airlangga

    2022

Alumni Berprestasi

Copyright © Universitas Airlangga