Berawal dari Lorong Musik FEB Unair
Universitas Airlangga (Unair) salah satu kampus yang ternyata juga subur melahirkan beberapa musisi tersohor di negeri ini. Salah satu di antaranya ialah Satriyo Yudi Wahono atau yang akrab disapa dengan nama Piyu “Padi”.
Memulai kuliah tahun 1990 sebagai mahasiswa jurusan Ilmu Manajemen FEB Unair, Piyu memiliki kisah hidup yang tidak bisa dipisahkan dari loronglorong dan kantin kampus.
Meski berhasil menyelesaikan studinya pada tahun 1996, Piyu mengalami masa-masa dinamis terutama di awal-awal karirnya sebagai musisi.
Piyu menuturkan lingkungan di Kampus Unair pada saat ia kuliah sangat menyenangkan. Piyu masih ingat semasa dia kuliah ada acara musik yang namanya musik lorong. “Saya sering main di situ. FE tidak bisa saya lupakan karena sejarah saya ada disini,” tuturnya.
Gemar Menggambar Gitaris Sejak SD
Piyu asli Arek Suroboyo. Ia lahir 15 Juli 1973. Sejak kecil Piyu sudah menunjukkan ketertarikannya pada dunia musik. Bahkan sejak SD, ia sudah gemar mendengarkan musik-musik karya Led-Zeppelin.
Ia bahkan punya hobi menggambar sosok-sosok gitaris membawa gitar Gibson sebuah gitar impian yang kemudian pertama kali berhasil ia beli pada 1996. “Dibeli dari hasil keringat menjadi Kru Dewa 19,” katan ya.
Ketika menginjak ke las 2 SMP, Piyu mulai serius belajar gitar untuk pertama kalinya. Piyu bercerita, dirinya sempat diremehkan ket ika minta diajari bermain Gitar oleh teman sekolahnya. Ia kemudian memutuskan untuk berlatih sendiri.
“Sejak itu saya belajar sendiri. Nanya ke kakak saya, terus nanya ke yang bisa main gitar, pelan-pelan akhirnya saya bisa. Dari situ saya serius main gitar terus.” katanya.
Barulah ketika SMA, Piyu mulai aktif bermusik dalam grup band yang dibentuk bersama teman-teman sekolahnya. Keseriusannya dalam bermusik sempat mendapat penolakan dari orang tua. Ayah Piyu yang selalu menekankan dalam hal pendidikan, membuat Piyu sering kena marah ketika sedang asik bermusik.
“Saya sering ngeband, sering ketemu sama Andra (personil Dewa 19). Kalau Andra di Surabaya lalu ke rumah, lalu main, saya sering dimarahi ayah,” ujar Piyu mengenang mas lalunya.
Unair bagian dari Sejarah Karir Musik Piyu
Episode perjalanan Piyu dalam dunia musiknya menginjak babak baru ketika ia diterima di juruan Ilmu Manajemen di fakultas yang dulu bernama Fakultas Ekonomi itu.
Selama kuliah, Piyu juga menyibukkan diri dengan menjadi panitia acara-acara musik (event organizer). Di waktu senggang, Piyu menghabiskan waktu dengan teman-temannya. Kantin menjadi tempat favorit untuk bercengkrama soal passion musiknya.
Bagi Piyu, Unair telah menjadi bagian sejarah hidup yang tidak akan pernah dilupakan. Ia berkisah bahwa di masanya, kampus bukan hanya jadi tempat untuk kuliah, namun juga tempat untuk berekspresi. Kampus pun memberikan wadah kepada mahasiswasnya untuk berkreasi, termasuk dalam bidang musik.
Nekat ke Jakarta Sempat jadi Cleaning Service
Menjelang masa akhir studinya pada tahun 1994, Piyu nekat pindah ke Jakarta untuk mengejar karir bermusiknya. Piyu tahu, orang tuanya tidak akan mengizinkan niatnya selama studinya belum beres.
Piyu kemudian meminta izin orang tuanya ke Jakarta dengan alasan untuk rekaman di Jakarta. Orang tua Piyu membolehkan karena saat itu Piyu sudah tidak memiliki beban kuliah selain skripsi.
Berbekal satu gitar elektrik dan uang 75 ribu, Piyu nekat pergi ke Ibu Kota. Di Jakarta, Piyu numpang tinggal di bengkel mobil milik teman tantenya. Di sana ia bekerja serabutan. Pagi hari bekerja di bengkel, malamnya nongkrong di berbagai studio musik di Jakarta. Ia bahkan sempat bekerja sebagai cleaning service di salah satu pusat perbelanjaan.
Apapun ia lakukan demi bertahan. Di satu sisi ia hidup di Ibu Kota dalam keterbatasan. Sampai-sampai ketika ia jatuh sakit parah, ia tak bisa membeli obat dan hanya bisa tidur berbaring di lantai, mengobatinya dengan air hangat yang ia minta dari warung dekat bengkel sambil terus berdoa pada Tuhan agar segera sembuh.
Meski begitu, Ia bertekad tidak akan pulang ke Surabaya sebelum impiannya terwujud. Namun selama setahun di Jakarta, dewi fortuna belum berpihak padanya. Piyu lantas kembali ke Surabaya untuk menyelesaikan kuliahnya.
“Saya nggak menghasilkan apa-apa. Saya kembali dan menyelesaikan kuliah di FEB Unair. Saya selesaikan skripsi baru saya wisuda,” ceritanya ketika berkunjung ke Unair 2017 lalu.
Membangun Mimpi Bersama Padi
Setelah kembali kuliah suatu saat Piyu bertemu dengan Ari Tri Sosianto di Kantin FE Unair. Sang teman tersebut kemudian mengenalkannya Piyu ke Rindra Risyanto Noor, pemain bass dari Fakultas Hukum Unair.
Ari pula yang merekomendasikan Andi Fadly Arifuddin, rekan satu jurusan Ari di Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan (sekarang Ilmu Ekonomi Pembangunan) FEB Unair ke Piyu sebagai vokalis.
Piyu bersama Ari, Rindra, dan Fadly lalu membuat Grup Band bernama Soda. Grup Soda kali pertama tampil pada tahun 1996 di Fakultas Hukum Unair.
Karena Soda belum memiliki drummer, Piyu menemui Surendro Prasetyo yang akrab dipanggil Yoyok. Lalu mendapuknya sebagai drummer dari band yang baru saja terbentuk itu.
Berganti Jadi Grup Band Padi
Setelah menyelesaikan masa studinya di Surabaya, Piyu masih bolakbalik Jakarta Surabaya untuk mencari peruntungan. Di Jakarta, ia menerima tawaran Andre gitaris “Dewa 19” sebagai tukang panggul gitar.
Sejak itulah Piyu bekerja sebagai ‘bedinde’ Dewa 19. Keseringannya menjadi kru Dewa 19 membuka kesempatan bertemu dengan para produs er musik, salah satunya Jan Djuhana, produser Sony MBG Music Indonesia.
Kesempatan tersebut ia manfaatkan dengan baik untuk mempromosikan band-nya di Surabaya. Piyu bersama band-nya kemudian merekam demo lagu “Sobat” dan dikirimkan ke Sony.
Karena hendak mengirimkan demo, Yoyok mengusulkan untuk mengganti nama menjadi Grup Band Padi. Nama Padi kemudian dikibarkan pada April 1997.
“Yang memberi ide nama Padi memang bukan saya, memang waktu itu Yoyok, tapi saya yang membentuk Padi. Saya yang mengumpulkan satu demi satu dan menyakinkan mereka untuk membentuk grup band,” tutur Piyu.
Meski demikian, nama Padi sempat menjadi bahan tertawaan orang. Bahkan nama Padi sempat diremehkan. Kok, namanya aneh.
Usaha keras Piyu bersama Padi mendulang hasil manis ketika single Padi berjudul “Sobat” masuk dalam kompilasi Indie 10. Pada tahun 1999, dengan naungan Sony Music Indonesia, Padi menelurkan album pertamanya “Lain Dunia”dengan lagu-lagu ternamanya “Mahadewi” dan “Begitu Indah”.
Album pertama Padi tersebut bahkan mampu mendapatkan platinum pada April 2000 dan quadraple platinum pada 2001. Sesaat setelah menggebrak blantika musik nasional lewat album pertamanya, nama Padi semakin berkibar sebagai band papan atas dengan album-album berikutnya seperti
“Sesuatu Yang Tertunda” dan “Save My Soul”
Seiring dengan kian berkibarnya nama Padi, nama Piyu pun tercatat sebagai musisi nasional. Namanya tidak bisa lagi diremehkan. Piyu dikenal sebagai nafas bahkan nyawanya Padi.
“Dari awalnya juga Piyu memang sebagai leader of the band. Dia yang memikirkan aransemen, walaupun mereka juga diskusi di antara kawannya, vokal, maupun musiknya, tapi sebagian besar banyak buah pikiran Piyu dalam karya-karya di album Padi,” Jan Djuhana, Producer Sony BMG Music Indonesia, memuji kapasitas Piyu sebagai pemusik.
Langkah Baru Setelah Padi
Setelah album kelima Padi, pada tahun 2010, Piyu memutuskan untuk mulai memvakumkan Padi. Puncaknya adalah dirilisnya album kompilasi “The Singles” sebagai penanda berakhirnya band ini.
Piyu kemudian mulai fokus merambah peran dalam dunia musik sebagai produser. Meski tak lagi bersama Padi, Piyu masih terus menunjukkan eksistensi berkarya lewat musik.
Tahun 2014, Ia merilis album solo “Sakit Hati” dan “Best Cuts of Piyu” pada 2016. Karya-karyanya juga masuk sebagai original soundtrack berbagai film layar lebar.
Bukan hanya itu, Piyu juga menerbitkan buku otobiografi-nya berjudul “Piyu from The Inside Out; Life, Passion, Dreams, and His Legacy.”
Sejarah Piyu Terpatri di FEB Unair
Bagi Piyu, Unair tetap menjadi bagian sejarah hidup yang tidak akan pernah dilupakan. Piyu berpesan, tidak ada hal yang tidak mungkin. Selama sudah menetapkan pilihan, lakukan dengan passion dan semangat, tetapkan target dan mimpi.
Untuk melakukan itu semua juga perlu perjuangan, perlu jatuh bangun. Ibaratnya, ada perjuangan dan doa, airmata dan darah. Mengalami jatuh, tapi juga harus bisa survive.
“Kita pasti bisa melakukannya selama masih punya mimpi dan passion dalam apapun bidang yang kita pilih. Yang penting, bagaimana kita bisa mandiri, punya semangat untuk bisa membuat sesuatu,baik dalam kerja, bisnis atau karya apapun.” Tuturnya saat berkemsempatan berkunjung ke FEB Unair.(video: Youtube FEB Unair)