Bekerja dari Bawah Hingga Menduduki Posisi Puncak
Pada bulan Mei 2020, Widodo Dumadi dipercaya untuk menjadi Plant Director (direktur manufaktur) di P izer Indonesia, perusahaan farmasi multinasional yang merupakan salah satu anak perusahaan
produsen obat-obatan medis asal Amerika Serikat, yakni P izer Inc.
Meski baru enam bulan bekerja, tugas yang diemban Widodo tidak main-main. Ia harus memastikan divisi manufaktur yang dipimpinnya untuk memproduksi obat dengan tepat.
Widodo menjelaskan, sejak berdiri pada tahun 1969, P izer Indonesia telah menghasilkan banyak produk unggulan. “Yang paling banyak dikenal adalah obat Ponstan,” tambahnya.
Tidak hanya obat, P izer Indonesia juga memproduksi vaksin. Bahkan, kata Widodo, saat ini pihaknya tengah menanti hasil uji klinis tahap tiga dari vaksin Covid-19 yang dilakukan kantor pusat P izer. Jika tahap tersebut sukses, maka vaksin bisa diproduksi secara massal.
Memulai Karier Sebagai Management Trainee
Proses yang dilalui Widodo untuk menjadi bagian dari P izer cukup panjang. Sebelumnya, alumnus Fakultas Farmasi (FF) Universitas Airlangga ini beberapa kali pindah perusahaan.
“Saya empat kali pindah perusahaan. Nah, P izer Indonesia perusahaan kelima,” ujarnya.
Perjalanan Widodo bermula usai dirinya merampungkan pendidikan profesi apoteker dari UNAIR tahun 1997. “Setelah lulus, saya ke Jakarta dan diterima sebagai management trainee di PT. Indofarma yang merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN),” terangnya.
Dua tahun berselang, Widodo memutuskan untuk hijrah ke perusahaan farmasi asing, mulai PT. Schering Indonesia hingga PT. Organon Indonesia sebagai supervisor. Di tiga perusahaan itu, alumnus FF UNAIR angkatan 1991 ini hanya bertahan 1.5 sampai 2 tahun.
Meski terbilang singkat, Widodo mengungkapkan, ada banyak pengalaman berharga yang didapatkannya. Ia mencontohkan, saat di Indofarma, sang pimpinan memilihnya untuk menjadi koordinator manufaktur. Padahal, posisinya masih seorang management trainee.
“Waktu saya ditunjuk, tepatnya tahun 1998, Indonesia sedang mengalami krisis moneter (krismon). Saya ditugaskan membangun kerjasama dengan pabrik farmasi swasta lokal yang hampir tutup di Jakarta dan Jawa Barat. Ada 15 perusahaan. Saya harus melakukan transfer produk serta memastikan produksi mereka sampai krismon selesai,” kenangnya.
Tak jarang, Widodo harus kehilangan hari liburnya, seperti yang terjadi saat ia bekerja sebagai supervisor di PT. Schering. Saat itu, terdapat tender dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) untuk pengadaan pil KB dalam jumlah banyak.
“Pengalaman lain, saat saya ditunjuk sebagai asisten untuk proyek perluasan warehouse bersama ekspatriat yang dilaksanakan PT. Organon. Dari sini, saya belajar tentang project management serta memimpin tim dan pihak luar dalam mengeksekusi proyek,” tuturnya.
Langkah Widodo tidak berhenti. Pada tahun 2001, pria kelahiran Desember ini kembali menjajal peruntungan di perusahaan farmasi asing asal Inggris, yakni Glaxo Smith Kline (GSK) Indonesia sebagai Head of Operation. “Cukup lama saya di sini, 16 tahun,” sebutnya.
Menurut Widodo, perusahaan GSK menempanya hingga menjadi pegawai yang memiliki kompetensi serta pengetahuan, tidak hanya seputar farmasi, melainkan juga bidang lain, seperti keselamatan, inansial, teknik, jaringan logistik, dan sumber daya manusia (SDM).
“Salah satu prestasi yang saya capai saat bekerja di GSK adalah meningkatkan keuntungan perusahaan dengan cara menekan biaya produksi dari tahun ke tahun,” ungkap Widodo.
Kemudian, pada akhir bulan Desember 2017, Widodo bergabung ke PT. Takeda Indonesia selama tiga tahun, sebelum akhirnya menempati posisi Plant Director di P izer Indonesia.
“Bisa dibilang, sejak lulus kuliah saya mulai bekerja dari bawah, dalam hal ini management trainee sampai menduduki posisi puncak di industri farmasi (plant director, red),” ujarnya.
Dalam bekerja, Widodo menekankan kepada semua karyawan untuk selalu menyamakan visi-misi, belajar dari kesalahan, tidak cepat puas dengan hasil, dan mengantisipasi risiko.
“Selain itu, harus memandang tantangan sebagai peluang. Misal, adanya Covid-19 tidak boleh dianggap kendala, tetapi sebagai peluang. Karena obat dari industri farmasi masih dibutuhkan oleh pasien, khususnya yang memiliki komorbid. Kalau kita bisa menyediakan obat dengan cepat dan lebih murah untuk pasien, tentu akan bermanfaat,” tegas Widodo.
Industri Farmasi: Tantangan dan Kesempatan
Ditanya perkembangan industri farmasi, Widodo menyebut bahwa Indonesia tertinggal jauh dari negara-negara di Asia. “Contohnya, soal produksi paracetamol, sudah puluhan tahun, tetapi kita masih memperbincangkan itu saja. Tidak ada perkembangan,” ujarnya.
Tantangan lain yang dihadapi Indonesia adalah ketersediaan bahan baku obat, baik bahan baku aktif maupun bahan baku pembawa. Kedua jenis bahan tersebut, sebagian besar diimpor, sehingga rentan terhadap perubahan harga dan tidak bisa berkompetisi di pasar.
Walaupun begitu, Widodo tetap berharap agar kelak industri farmasi semakin maju, siap menerima transfer teknologi yang lebih tinggi, siap secara SDM, serta lebih terbuka terhadap investasi dengan teknologi yang baru. “Khusus untuk Indonesia, kita harus bisa mengembangkan industri bahan baku aktif maupun bahan baku pembawa,” sambungnya.
Dihadapkan Tantangan: Kuliah atau Organisasi?
Belajar farmasi memiliki tantangan tersendiri bagi Widodo. Tantangannya, menjaga nilai untuk tetap stabil, tetapi juga tetap bisa berorganisasi di tengah padatnya kegiatan kuliah.
Dua tantangan, berkuliah sambil berorganisasi, berhasil dilakoni Widodo. Bahkan, di sela kesibukannya, ia juga pernah mewakili UNAIR dalam sebuah kompetisi di tingkat nasional.
Dari pengalamannya, Widodo pun berpesan agar para mahasiswa bisa memanfaatkan waktu dengan baik, tidak hanya fokus berkuliah, tetapi juga mengembangkan dirinya. (*)