Alih Profesi, Dedikasi Penuh bagi Negeri
“Saya berkomitmen untuk selalu berpegang teguh pada amanat Panglima Sudirman, agar TNI selalu dicintai dan dipercaya oleh rakyat”
Tidak seorang manusiapun mengetahui jalan hidupnya, terkadang satu pilihan dalam hidup dapat membuat jalan hidup seseorang berubah. Itulah yang terjadi pada Brigadir Jenderal TNI Dr.Salidin S.H M.Hum kala mendapatkan dua pilihan setelah menuntaskan studi Sarjana Hukum di Universitas Airlangga (UNAIR) pada tahun 1989.
Salidin, akrabnya, dikenal sebagai sosok yang cerdas dan aktif dalam berbagai organisasi kemahasiswaan. Karena itulah, beberapa dosen mengarahkan Salidin mengikuti tes untuk menjadi dosen di Fakultas Hukum (FH) UNAIR. “Salah satunya Prof. Dr. Soewoto, SH.,MS. yang meminta saya untuk mendaftar jadi dosen,” sebutnya. Ia juga mengisahkan, saat itu ia juga mengajak teman satu jurusannya yang kini telah menjadi guru besar di FH UNAIR, yakni Prof. Dr. Agus Yudha Hernoko, S.H., M.H.
Di saat yang bersamaan, Salidin juga mendapatkan panggilan untuk mengikuti tes masuk sebagai Tentara Nasional Indonesia (TNI). Akhirnya, ia memutuskan untuk mengikuti tes TNI, yang kemudian mengubah jalan hidupnya dari akademisi menjadi bagian dari benteng pertahanan utama bagi Indonesia. “Sewaktu saya kuliah saya tidak pernah berpikir untuk masuk tentara setelah lulus, namun karena terus mendapat dorongan dari teman saya, Sugi Santoso, S.H., M.H untuk masuk tentara, eh ternyata setelah coba-coba malah masuk beneran,” sebutnya.
Panggilan Jiwa Sebagai TNI
Meski sebelumnya tak pernah terlintas menjadi TNI, Salidin mengaku sangat menikmati setiap proses yang ia jalani dalam salah satu institusi paling dipercaya publik tersebut. Perjalanan ini ia anggap sebagai sebuah panggilan jiwa untuk mengabdi bagi negara. Selama karirnya di bidang militer, Salidin telah banyak makan asam garam dari berbagai area penugasan, utamanya daerah operasi Aceh hingga Ambon. Salah satu yang paling mengesankan baginya, adalah saat dipercayai menjadi Komandan Batalyon Pengawalan (Danyonwal) Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) pada tahun 2008-2011.
Dalam masa tugasnya di Provinsi Aceh pada 2001-2006, Salidin mengaku mendapat banyak pengalaman berharga. Terutama saat Aceh bergejolak akibat pemberontakan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), mengalami dua kali darurat sipil dan darurat militer hingga darurat Tsunami.
“Sedikit banyak merasa ada sumbangsih buat negara, karena saat Aceh dalam keadaan darurat militer saya bertugas sebagai pemeriksa dalam penanganan pemberontak GAM di bawah Penguasa Darurat Militer Daerah (PDMD) Aceh, hingga jadi korban Tsunami,” jelasnya.
Di balik pengabdiannya kepada negara dan rakyat, Brigjen TNI Salidin memiliki satu landasan dalam menjalankan tugas, yakni Amanat Panglima Sudirman yang berbunyi “Satu-satunya hak milik nasional yang masih utuh, meskipun harus mengalami segala macam perubahan, hanyalah angkatan perang Republik Indonesia (Tentara Nasional Indonesia)”.
"Amanat Panglima Sudirman adalah kompas bagi saya dalam menjalankan tugas sebagai prajurit TNI. Saya berkomitmen untuk selalu berpegang teguh pada amanat tersebut, agar TNI selalu dicintai dan dipercaya oleh rakyat," ungkap penerima Jurist Award bidang militer tersebut.
Aktif Organisasi, hingga jadi Ketua Senat Mahasiswa
Semasa menempuh studi di FH UNAIR, Salidin tak hanya dikenal sebagai mahasiswa yang cerdas, namun juga kritis dan berani. Ia merupakan sosok yang aktif mengikuti berbagai organisasi, diantaranya ialah Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM), serta Senat mahasiswa. Dedikasi yang diberikan pada organisasi-organisasi tersebut, membuatnya dipercaya untuk mengemban jabatan sebagai ketua Senat FH UNAIR pada tahun 1988. “Sering mewakili untuk pertemuan sesama mahasiswa UNAIR, bahkan pernah mewakili UNAIR dalam perwakilan ketua Senat seluruh Indonesia,” kisahnya.
Dalam pertemuan ketua Senat seluruh Indonesia itu, Salidin ikut serta dalam menyusun konsep Senat bagi mahasiswa di Indonesia. Konsep itu kemudian diserahkan kepada Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof. Dr. Fuad Hassan. Kelak, rumusan ini menjadi cikal bakal dari terbentuknya Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) yang dikenal saat ini.
Berbagai pengalaman akademis dan organisasi yang dimiliki selama masa kuliah di UNAIR, diakui Salidin menjadi sebuah kenangan yang tak terpisahkan dari kehidupannya. Hingga kini, ia selalu menyempatkan waktu untuk dapat mempererat hubungan dengan alumni melalui pertemuan-pertemuan tingkat fakultas maupun universitas.
Sebagai alumni FH UNAIR, Salidin bangga akan posisi FH UNAIR yang terus mendominasi. Saat ini, FH UNAIR menempati peringkat pertama sebagai kampus dengan jurusan hukum terbaik di Indonesia versi Quacquarelli Symonds (QS) World University Rankings by Subject 2023. Prestasi ini menjadi penyemangat bagi Salidin untuk memotivasi para alumni, terutama yang baru lulus, untuk terus menjaga dan membanggakan FH UNAIR. “Saya berharap adik-adik mahasiswa FH UNAIR dapat terus meningkatkan kualitas diri dan menjadi sumber daya manusia yang unggul untuk Indonesia, karena institusi mana pun membutuhkan sumber daya manusia yang unggul,” jelasnya.