Senang dengan Kultur Egaliter Mahasiswa Unair
Sigit Setiono salah satu alumnus FISIP Unair yang menjalani profesi sebagai wartawan. Saat ini ia menjadi pemimpin redaksi Koran Warta Kota, salah satu koran dalam Grup Kompas Gramedia. Dia alumnus Jurusan Ilmu Politik FISIP Unair.
Kampus yang Bersahabat
Sigit Setiono menuturkan, dirinya senang bisa kuliah di Unair. Baginya nama besar Unair memberikan kualitas pendidikan dan jejaring alumni yang bakal membantunya menjadi profesional di bidang yang ingin ditekuni di kemudian hari.
Sigit mengaku masih segar di ingatannya bagaimana perjumpaan perdana dengan kampus Unair yang hangat, bersahabat, dan langsung membuatnya betah.
Lokasi Unair di Kota Surabaya yang terkenal dengan ikatan sosialnya yang egaliter dan tanpa basa basi, amat mewarnai tata pergaulan antarmahasiswa saat kuliah kala itu.
Menempa Diri dari Dua sisi
Tak terasa lima tahun Sigit menghabiskan waktu di kampus Airlangga sampai ia lulus.
Selama di kampus, Sigit mendapat kesempatan menempa diri dari dua sisi: akad emis dan praktis. Setiap hari dia bisa berdiskusi dengan pakar, seperti Prof. Soetandyo Wignjosoebroto (almarhum), Prof. Ramlan Surbakti, dan dosen-dosen lain. Dia juga berdiskusi dengan dosen praktisi komunikasi atau setidaknya pernah punya pengalaman terjun sebagai profesional di bidangnya. Misalnya, Pak Yan Yan Cahyana, dan Bu Pinky Saptandari.
Kegiatan mahasiswa juga menjadi bagian penting dari pembelajaran Sigit di Unair. Sejak semester awal, dia aktif di Lembaga Pers Mahasiswa Retorika di FISIP.
Media kampus ini unik karena benar-benar memosisikan diri sebagai representasi mahasiswa dalam mengawasi kebijakan kampus dan birokrasi di Unair.
Unair Harus Jadi kawah Candradimuka
Pendidikan tinggi merupakan kunci penting untuk mewujudkan kemajuan bangsa di masa depan. Berkuliah adalah sarana penting bagi banyak pemuda untuk melakukan lompatan kelas. Untuk menapaki jenjang lebih tinggi di struktur sosial masyarakat.
Sigit mengaku mengalami proses itu dan selamanya berutang budi pada U nair. Ke depan kampus harus selalu setia dengan tugasnya, menjadi kawah candradimuka untuk semua orang. Tempat mahasiswa melatih perspektif keilmuan, rasionalitas dan modernitas, tanpa kehilangan pijakan pada budaya dan konteks lokal kita. Hanya dengan cara itu, Indonesia punya harapan akan jadi lebih baik. (*)