Menganut Filosifi Rumput, Ahyanizzaman Sukses JAdi Direktur BUMN Thursday, 18 August 2016 03:52
Ahyanizzaman (kanan) mendapat ucapan dari Rektor UNAIR Prof. Dr. H. Mohammad Nasih, MT., SE., Ak usai dinobatkan sebagai Alumni UNAIR Berprestasi 2015. Tampak Rektor juga didampingi Ketua MWA UNAIR Sudi Silalahi (kedua dari kiri) dan Ketua Senat Akademik Prof. Muh Amin (paling kiri). (Foto: Bambang BES/Unair News)

Konsisten dalam integritas. Inilah kunci yang membawa Drs. Ahyanizzaman, Ak., CA., FCMA., CGMA., sukses dalam setiap perjalanan karirnya. Alumnus S-1 Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga (UNAIR) ini menuturkan bagaimana perjuangannya meniti karir hingga menjabat sebagai Direktur Keuangan PT Semen Indonesia (Persero) Tbk.

”Saya menganut filosofi rumput. Walau kecil dan tidak terlihat, namun ia punya kekuatan yang luar biasa. Walau dibabat dan bibakar tapi tetap tumbuh. Dan ia juga memberikan kontribusi,” tuturnya.

Karirnya dimulai ketika sedang menjalani tugas akhir skripsi. Ketika kesibukan kuliahnya tidak terlalu banyak, ia magang di sebuah Kantor Akuntan Publik (KAP). Banyak hal yang ia pelajari di sana, terutama ilmu-ilmu mengenai sistem akuntansi. Ia belajar mengontrol dan men-set-up system perusahaan. Setahun kemudian, ia masuk dan bekerja di PT Semen Gresik (Persero) Tbk, yang ia pilih lantaran lokasinya tak jauh dari tempat tinggalnya.

Ketika masih menjadi mahasiswa, Ahyanizzaman bukan sosok yang aktif dalam kegiatan di kampus. Ia aktif pada salah satu organisasi di luar kampus yang kemudian membuatnya banyak belajar di sana. Di dekat tempat kosnya, ia aktif mengikuti organisasi pecinta alam. Ia banyak belajar bagaimana mengelola organisasi, bekerja tim, komunikasi, dan pengalaman itu sangat membawa manfaat ketika ia memasuki dunia kerja.

Seiring perjalanan karirnya, Ahyanizzaman mengakui bahwa Bahasa Inggris adalah salah satu skill yang penting untuk dikuasai. Sebagai direktur keuangan, ia banyak menjalin hubungan dengan orang-orang luar negeri. Perusahaannya juga memiliki partner-partner internasional, sehingga setiap kali rapat dan berbagai pertemuan juga memakai Bahasa Inggris. Ia juga harus selalu bertugas untuk meng-update informasi kepada para investor luar negeri.

PT Semen Gresik yang notabenenya merupakan perusahaan lokal mengalami perjalanan amat panjang sebelum akhirnya pada Januari 2013 resmi berganti nama menjadi PT Semen Indonesia. Perubahan ini, diakui alumni S-1 Akuntansi UNAIR ini membawa tantangan tersendiri.

“Kemampuan skill kita dituntut terus bertambah. Kuncinya kita harus punya prinsip konsisten dalam integritas. Integritas itu melakukan yang terbaik walau tidak dilihat orang. Dalam pekerjaan meski tak dilihat atasan harus dilakukan yang terbaik. Itu yang kemudian menumbuhkan kepercayaan atasan,” kata laki-laki kelahiran 6 Juli 1966 ini.

“Beberapa perusahaan semen daerah lebih tua dan punya kebanggan sendiri. Bagaimana memahamkan bahwa penyatuan itu penting. Karena dengan menyatukan, potensi peningkatan laba menjadi besar. Terbukti, ketika penyatuan mulai berjalan, itu memberikan benefit. Karena pasar semen di Jawa, besar. Kalau tidak disatukan bisa rugi. Lalu kita ubah menjadi nama ‘Semen Indonesia’ tadi,” tambah mantan Direktur Koperasi Warga Semen Gresik tahun 1996-2001 ini mengenai perubahan nama perusahaan yang diabdi.

Saat ini PT Semen Indonesia memiliki empat anak cabang yang tersebar baik di dalam negeri dan luar negeri. Empat cabang itu adalah PT Semen Padang, PT Semen Gresik, PT Semen Tonasa, dan Thang Long Cement Company di Vietnam.

Setelah Semen Gresik berubah nama menjadi Semen Indonesia, perusahaan tersebut mulai menjadi perusahaan internasional. Ahyanizzaman bersama tim bahu-membahu membangun perusahaan di Vietnam, dari yang tadinya rugi menjadi untung. Itu juga tak lepas karena Semen Indonesia mengirim orang-orang terbaiknya untuk terjun ke sana.

Menurut Manager Senior Akuntansi Keuangan PT Semen Gresik (Persero) Tbk (2002-2007) ini, tugas akuntan saat ini tidak terbatas sebagai tukang buku saja, tetapi harus menjadi partner strategis bagi seluruh komponen di perusahaan. Misalnya memberikan peningkatan value, mengawal perusahaan untuk punya nilai tambah dengan cara, misalnya, mengontrol biaya, pengelolaan pendanaan, komunikasi dengan para stakeholder, pemegang saham, dan mengawal bagaimana agar perusahaan berkembang.

Saat ini sudah ada perusahaan yang menawarkan untuk membuat laporan keuangan. Menurutnya, ini merupakan ancaman bagi akuntan jika tidak belajar untuk meng-upgrade kemampuan agar memiliki nilai lebih yang lain. “Seorang akuntan bisa jadi analis. Karena kalau hanya sekadar laporan bisa dikerjakan mesin,” tutur pria yang kini menjabat sebagai Presiden Komisaris PT Eternit Gresik ini.

Kini, karir Ahyanizzaman bisa dibilang telah mapan. Jika flashback ke belakang, dulu cita-citanya sederhana saja, bisa bekerja di perusahaan, sudah cukup baginya. Namun dalam perjalanannya, banyak pihak yang mendorong agar ia bisa lebih berprestasi.

“Dulu pas awal-awal, saya berfikir jadi kepala bagian saja sudah cukup. Ternyata ada kesempatan lain. Saya juga sempat menolak jadi direktur keuangan. Namun keluarga mendukung dan mendorong saya. Alhamdulillah Tuhan memberikan jalan,” tutur ayah dari Muhammad Alfian Ramadhan, Muhammad Isro' Nazahar, dan Muhammad Rahman Aziz ini.

Pada peringatan Dies Natalis UNAIR ke-61, mana Ahyanizzaman dinobatkan sebagai Alumni Berprestasi. Ia memiliki harapan-harapan untuk almamaternya tersebut.

“UNAIR di usia 61 jangan hanya melihat umur. Bisa saja dibilang sudah tua, tapi ada yang lebih tua lagi dan mereka masih eksis dan memberikan value bagi mahasiswa dan lulusan. Ini adalah titik untuk lebih maju lagi kedepan. Saya kira UNAIR punya potensi besar. Tinggal bagaimana mengelolala potensi itu, sehingga potensi yang ada bisa digali untuk mencapai 500 dunia,” pungkasnya. (bin/bes)

 

Sumber : http://news.unair.ac.id/2016/01/05/menganut-filosofi-rumput-ahyanizzaman-sukses-jadi-direktur-bumn/