Terinspirasi dari UNAIR, Ponpes Al-Qodir Sleman Berkembang Modern Thursday, 03 November 2016 08:19

PIMPINAN Ponpes Salafiyah Al-Qodir KH Masrur Ahmad MZ (kiri) menerima bantuan laptop dan LCD dari Pengmas UNAIR yang disampaikan pengurus IKA-UA Dra. Widarmami dan Mashariono. (Foto: Bambang Bes)

UNAIR NEWS – Pengabdian masyarakat Universitas Airlangga (UNAIR) mampu menginspirasi dan menggerakkan prospek kemajuan di bidang pendidikan, diakui dan dirasakan oleh KH Masrur Ahmad MZ, pimpinan Pondok Pesantren Salafiyah Al-Qodir, Dusun Tanjung, Desa Wukirsari, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

”Ini benar-benar luar biasa. Ngomongnya sedikit, tetapi banyak memotivasi santri-santri saya. Nggak tahu kenapa Allah membuka hati saya kok pintunya dari UNAIR. Apa karena orang-orang UNAIR ini dekat dengan Allah? Padahal di Yogyakarta ini kami juga dekat dengan UGM, juga Universitas Islam Negeri (UIN) yang anak-anaknya sering kesini. Tapi nggak tahu, pikiran saya mbukak setelah diampiri (disinggahi) UNAIR pasca-erupsi Merapi itu,” kata KH Masrur Ahmad MZ.

Pengakuan itu ia sampaikan ketika menerima tim Pengmas UNAIR 2016 di Ponpesnya, Sabtu (29/10). Sejak pasca-erupsi Merapi tahun 2011, sivitas UNAIR ikut meringankan beban akibat bencana. Setiap menjelang dies natalis UNAIR, Tim Pengmas berkunjung ke sasaran pengmas, yaitu bantuan sapi perah untuk masyarakat Dusun Tanjung Desa Wukirsari, dan ke Ponpes Al-Qodir di alamat sama.

Tim Pengmas 2016 ini dipimpin Dr. Ir. Sri Hidanah, MS., Sekretaris LP4M UNAIR. Turut hadir juga Prof. Dr. Djoko Agus Purwanto, Apt., M.Si (mantan Ketua LPPM, kini Ketua Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Pendidikan UNAIR), Prof. Romziah Sidik, drh., Ph.D (mantan Dekan FKH/perintis pengmas Yogya), Drs. Ec. Mashariono, MBA (IKA-UA/perintis), Dra. Widarmami (IKA-UA), Drh. Trilas Sardjito, MS (dosen FKH, pakar ternak domba), staf LP4M dan UNAIR NEWS.

Sebagai orang Nahdlatul Ulama (NU), KH Masrur Ahmad mengaku malas dengan sekolahan yang ikut pemerintah. Ia ingin pondoknya hanya ngaji seperti era Walisanga. Itu dulu. Tetapi begitu kenal dengan visi dan misi UNAIR, ia mengaku terinspirasi.

”Orang UNAIR yang sama-sama seperti ini bisa jadi professor, masak saya tidak. Inilah inspirasi yang luar biasa, membuat kami mudah berjalan menjalani kehidupan dan akhirnya mendapat ridha dari Tuhan YME. Saya yakin masih banyak yang harus dijalani dan dikerjakan UNAIR untuk lebih maju lagi,” kata penulis buku “Islam Hijau, Refleksi Keagaman dan Kebangsaan Nahdlatul Ulama” (2014) ini.

Sekarang di Ponpes Al-qodir itu telah berkembang sekolah modern, Madrasah Ibtidaiyah (MI) sudah sampai kelas IV, yang Tsanawiyah (MTs) sudah kelas II, dan yang Aliyah (MA) sudah buka kelas I. Sudah juga mengembangkan perkoperasian dan memiliki produk air kemasan, mengembangkan ternak kambing dan pertanian. KH Masrur Ahmad juga sudah menghasilkan tiga buah buku.

”Saya pikir UNAIR ini lebih besar dalam membentuk saya dari pada Gus Mustofa Bisri. Dulu Gus Mus sudah mbisiki saya; ‘Kowe ki nek muleh, nuliso.’ (kamu kalau pulang, menulislah-Red). Tapi saya tidak nurut. Setiap ketemu selalu bilang begitu. Tetapi begitu ketemu Prof. Romziah dan Prof. Djoko, saya kok berpikir: iki aku kudu melu-melu (ini saya harus ikut-ikut). Inilah yang luar biasa, yang dulunya saya malas bikin sekolah modern karena mesti repot ini-itu, tapi begitu ada inspirasi dari UNAIR, maka luar biasa perubahan di pondok ini, jadi ini berkah UNAIR,” katanya.

Menurut Drs. Ec. Mashariono, MBA., penasihat IKA-UA yang juga perintis pengmas ini, awalnya UNAIR menyumbang buku-buku. Kemudian dalam kunjungan setiap tahun selalu “mampir” dan memberi sekadar bantuan, seperti, ternak domba, komputer, laptop dan LCD, pembelajaran tertentu misalnya manajemen perpustakaan, kesehatan remaja, dan tahun 2016 ini “Cara beternak domba” yang disampaikan oleh Drh. Trilas Sardjito, MS, ahli ternak domba FKH UNAIR. Kini domba yang dipelihara di Ponpes itu mencapai 15 ekor, dimana sebelumnya juga sudah banyak yang dimanfaatkan baik untuk keperluan pondok misalnya hajatan dan atau untuk kurban. (*)

Sumber : http://news.unair.ac.id/2016/11/03/terinspirasi-unair-ponpes-al-qodir-sleman-berkembang-modern/