Alumni FK UNAIR Bertekad Membangun Rumah Sakit Terapung Monday, 21 November 2016 09:16

Ilustrasi kapal rumah sakit terapung Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga

UNAIR NEWS – Potret kesehatan masyarakat Indonesia khususnya di beberapa wilayah terpencil masih memprihatinkan. Akar permasalahannya bermuara dari sistem pendistribusian tenaga kesehatan yang belum merata dan kesulitan menjangkau wilayah pedalaman. Dari sini, FK Universitas Airlangga melalui para alumnusnya berinisiatif menghadirkan sebuah kapal yang akan difungsikan sebagai rumah sakit terapung sebagaimana KRI dr. Soeharso.

Bukan lagi wacana, saat ini FK UNAIR sedang memesan sebuah kapal kayu model Pinisi. Desain kapalnya memang tidak semegah kapal KRI dr. Soeharso. Namun, kapal rumah sakit terapung ini menjadi simbol kepedulian dan keseriusan dokter FK UNAIR dalam memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat di wilayah terpencil.

Berukuran panjang 27 meter dan lebar 7 meter, kapal rumah sakit terapung FK UNAIR ini diperkirakan rampung sekitar Februari 2017 mendatang. Demikian diungkapkan Ketua IKA-FK UNAIR Dr. Pudjo Hartono, dr., Sp.OG(K) dalam acara simposium bertajuk Adventure and Remote Medicine, di Aula FK UNAIR ( 15/11).

Pudjo mengungkapkan, saat ini badan kapal masih dalam proses pengerjaan. Nantinya, rumah sakit terapung ini akan dilengkapi dengan ruang operasi, ‘bank’ oksigen dan berbagai perlengkapan medis lainnya. Ditaksir kapal tersebut akan menghabiskan biaya sekitar 5 miliar rupiah untuk melayani kesehatan masyarakat di kawasan daerah tertinggal, perbatasan dan kepulauan, serta daerah terluar.

Sistem operasional rumah sakit terapung ini dipayungi sebuah organisasi bernama Yayasan Ksatria Medika Airlangga yang diketuai oleh Christriyogo Sumartono, dr., Sp., An. KAR.
Pudjo berharap, yayasan ini dapat mendukung keberlangsungan kapal rumah sakit terapung ini. Dengan begitu, kapal ini nantinya dapat beroperasi secara profesional dan dapat dipertanggungjawabkan.

Sementara itu, pihaknya masih mendiskusikan tentang wilayah operasional. Pilihannya, antara di sekitar pulau Jawa atau pulau-pulau kecil di wilayah Indonesia timur.

Ketika kapal ini beroperasi, Pudjo memastikan tetap akan mengikuti aturan kesehatan di setiap wilayah yang didatangi. “Bukan berarti kita akan kerja sendiri, lalu mengabaikan peran puskesmas di wilayah terpencil. Kita akan tetap mengikuti aturan dan tatanan yang ada, mengajak partisipasi tenaga kesehatan puskesmas disana, sehingga kita bergerak bersama,” ungkapnya.

Maluku

Dalam simposium tersebut, Agus Hariyanto, dr., Sp.B., alumnus FK UNAIR dan pemilik gagasan rumah sakit terapung membagikan sedikit pengalamannya selama menjadi ‘dokter petualang’ di pelayanan kesehatan di daerah Maluku dan  sekitarnya.

Di Maluku, terdapat 1.040 pulau. Yang berpenghuni hanya 400 pulau dan hanya ada 6 pulau yang memiliki rumah sakit. Kondisi ini amat memprihatinkan. “Lebih prihatin lagi, ada satu kejadian di Pulau Lirang, Kabupaten Maluku Barat Daya, Maluku. Akibat minimnya fasilitas kesehatan disana, seorang penderita kanker anus terpaksa harus berobat ke Timor-Leste,” ungkapnya.

Di Pulau Lirang juga banyak ditemui kasus anak dengan gizi buruk, hidrosefalus hingga anak-anak berwajah pucat akibat malaria. “Ketika saya tanya ke anak-anak, siapa dari mereka yang pernah terkena malaria, semuanya angkat tangan. Sangat prihatin sekali,” ungkap pria asal Jember itu.

Ia seringkali merasa miris saat membantu mengobati masyarakat di kepulauan terpencil di Maluku. Ia bahkan pernah menyewa sebuah kapal ketika untuk bisa menyisir daerah pelosok dan menyambangi masyarakat di pulau-pulau kecil di Maluku selama dua minggu.

Impiannya memiliki kapal rumah sakit untuk membantu masyarakat di wilayah terpencil rupanya disambut baik para alumnus FK UNAIR lainnya. Agus bersama alumni FK UNAIR bertekad membangun rumah sakit terapung di atas kapal Pinisi yang saat ini sedang dikerjakan menyerupai kapal pesiar.

Sumber : http://news.unair.ac.id/2016/11/16/alumni-fk-unair-bertekad-membangun-rumah-sakit-terapung/