Ambil Sp.OG (K) lewat Inspirasi Kawin Cerai di Musim Panen Monday, 20 February 2017 06:27

Di antara deretan nama pakar obgin (obstetri & ginekologi) di Jawa timur, terdapat nama Prof. Dr. Budi santoso, dr., sp.OG, (K). Dia bukan hanya ahli kandungan, tapi juga pendidik dengan jabatan wakil dekan (Wadek) III, Fakultas Kedokteran (FK), Unair. Sebagai akademisi, prof. Budi aktif melakukan sejumlah penelitian. Ayah tiga anak itu bertekad mengabdikan ilmunya untuk masyarakat. Di kalangan mahasiswa, Prof. Budi dikenal sebagai dosen yang inspiratif. Selain tugasnya sebagai dokter dan mengajar, dia berhasil mengembangkan potensi yang dimilikinya, yaitu entrepreneur. Prof. Bus –sapaan akrabnya– dan beberapa temannya sukses mengembangkan sejumlah rumah sakit ibu dan anak di surabaya. Misalnya, RSIA Kendangsari dan RSIA MERR. Dalam kuliah inspiratif yang diselenggarakan BEM FKUA di Aula FKUA Mei lalu, Prof. Bus mengatakan belajar bisnis ketika menjadi mahasiswa. Dia berjualan pakaian. Dia kulakan pakaian di surabaya, lalu menjualnya ke Banyuwangi. Malam pergi ke Banyuwangi naik angkutan umum. Paginya harus sudah di surabaya untuk kuliah. Memang capek. Tapi, kata Prof. Bus, untuk sukses memang harus mau capek.  

Seperti umumnya dokter, suami Dra. Elmi Mufidah, Apt, M.Kes itu menjalani  wajib kerja sarjana (WKS) setelah lulus FK Unair pada 1989. Dia bertugas di dekat-dekat sini saja. Yakni, di RS Muhammadiyah, Babat, lamongan. Setahun kemudian dia diangkat sebagai pegawai negeri sipil (PNS). Dia ditugaskan ke puskesmas Sambelia, Lombok Timur, NTB. Di wilayah terpencil itu Dr. Budi menemui banyak kasus kawin cerai, terutama jika musim panen. Faktor itu, secara langsung atau tidak, membuat kebahagiaan anak terganggu. Selain itu, angka kematian ibu dan bayi sangat tinggi. Penyebabnya banyak. Mulai keterlambatan diagnosis hingga keterlambatan merujuk ke rumah sakit karena terbentur minimnya sarana transportasi. Beberapa fakta itulah yang mendorong Budi mendalami spesialis obstetri & ginekologi sekembalinya ke Surabaya. Dia lulus sebagai dokter spesialis pada 30 November 1998. Bersamaan dengan kelulusannya itu ada kebijakan WKS II. Dia ditugaskan ke kampung halamannya, Banyuwangi, sebagai dokter spesialis di RSU pada 1999. Dua tahun di Banyuwangi dia ditarik ke RSUD Dr. Soetomo sekaligus ke FK Unair. Menjadi dokter merupakan cita-cita Budi sejak kecil. Obsesinya semakin kuat karena di desa kelahirannya, Kecamatan Genteng, Banyuwangi, angka kematian ibu (waktu itu) masih tinggi. Karena tekadnya yang besar untuk menjadi dokter, Budi rela meninggalkan Banyuwangi untuk melanjutkan studi di SMA Negeri III Malang. Orang tuanya, petani dan pedagang kecil di desa, sangat mendukung cita-cita anaknya. Mereka mendorong Budi agar bisa sekolah ’’modern’’ dan ’’berbau kota’’. apalagi, kakaknya juga kuliah di Fakultas Ekonomi, Universitas Brawijaya.  Budi diterima di FK Unair melalui jalur perintis –seleksi penerimaan mahasiswa baru universitas negeri saat itu. Dia memilih FK Unair karena sudah punya nama. Biayanya juga tidak mahal. Waktu itu tanpa uang pangkal dan spp-nya hanya Rp 32 ribu. Pria penghobi membaca ini tak hanya menghabiskan hari-harinya di bangku kuliah. Dia juga terlibat di beberapa kegiatan mahasiswa. Mulai senat mahasiswa sebagai wakil ketua, hingga sekjen Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran (ISMK). Ketelibatannya di organisasi kemahasiswaan menggembleng dirinya. Mulai kemampuan berkomunikasi, manajemen konflik, dan soft skill lain. selain itu, dia masih  sempat mengajarkan matematika di lembaga bimbingan belajar Technos di kawasan Kertajaya.

Sumber : Buku Jejak Langkah Ksatria Airlangga