Faktor Hidup : Hitungan & Feeling Monday, 20 February 2017 06:44

     Berwirausaha sudah mendarah daging bagi lelaki dua anak ini. Andri, sapaannya, merupakan lelaki yang gemar sekali berwirausaha. Ketrampilan berwirausahanya bukan isapan jempol belaka. Lalu lalang di dunia wirausaha dan bisnis menjadi makanan setiap harinya. Kedua orang tuanya yang berprofesi sebagai pemilik Hotel Melati di sepanjang jalan raya Juanda Sidoarjo tak ayal membuat anak kedua dari empat bersaudara ini, bertekad untuk mengikuti jejak orang tuanya dan mendirikan usahanya sendiri.

     Perjalanan wirausaha yang tidak gampang harus dia lalui. Pengalaman yang tidak mudah mengajarkan ilmu yang berharga baginya. Di semester keempat keberadaannya di Universitas Airlangga, dia melakoni dunia MLM – Multi Level Marketing. Sedikit hasil yang didapatkan, tapi dia akui bahwa MLM mampu melatih kemampuan komunikasi dan lobbying.

     Kemampuan berbisnis juga pernah Andri dapatkan dari ilmu praktis ketika dia sedang mengikuti magang di salah satu perusahaan yang bergerak di bidang ekspor impor Surabaya.  Dia semakin terasah dari pengalaman-pengalaman lapangan yang dia dapatkan selain ilmu teori di bangku kuliah.

     “Manusia selalu mendapatkan kesempatan dalam hidupnya, tinggal dia mau mengambilnya atau tidak”, jelas lelaki berkulit putih ini. Ketika di semester 8, Andri mulai berfikir untuk menentukan jalan hidup dan karirnya. Kala itu Andri sedang menjalani semester terpenting bagi seorang mahasiswa, yakni skripsi. Di sisi lain, dia mendapatkan kesempatan untuk menjalankan bisnis ekspor ikan. Andri harus memilih salah satu antara kesempatan ini, tentunya dengan konsekuensi dan pertimbangan yang tepat. Akhirnya dia menunda skripsinya dan memilih untuk menekuni bidang ekspor ikan.

     Dia melihat peluang di ekspor ikan, dan tentu saja pertimbangannya adalah belum tentu gelar sarjana mampu menghasilkan keberhasilan serupa dengan yang didapatkan di usaha tersebut.  Kecanduan tingkat akut Andri terhadap bisnis tidak terbendung lagi, ini lah salah satu penyebab telatnya gelar sarjana yang diraihnya.

     Andri menemukan rumus ampuh dalam menentukan pilihan dalam hidup. “Pilihan hidupmu harus mencakup dua faktor, yakni hitungan dan feeling,” tegasnya. Hitungan ini realistis. Dia mengungkapkan bahwa hitungan harus diisi dengan keuntungan dari pilihan yang didapatkan, konsekuensi yang ada, resiko yang diterima, potensi diri ini meliputi materiil dan skill. Selanjutnya adalah feeling atau perasaan. Hal ini urusan ghaib. Jadi tidak bisa dinalar. Urusan yang menyangkut hati, minat dan niat diri ini. Rumus ini tidak hanya Andri gunakan di usahanya ekspor ikan, tapi juga di semua usaha yang dijalankannya.

     Selepas usaha ekspor ikan, Andri mulai beralih di usaha distributor pulsa elektrik. Keuntungan luar biasa juga didapatkannya dari usaha ini. Awal muncul pulsa Elektrik, Andri lah yang menjadi motor penggerak kios-kios pulsa di Surabaya. Namun lagi-lagi pengalaman berperan penting.

     Andri menyebutkan bahwa selain skill dan hasrat untuk berbisnis, kemampuan dalam membaca peluang dan pasar juga sangat dibutuhkan. Kala itu, Andri melihat akan ada kebangkrutan luar biasa bagi distributor pulsa elektrik di kala minimarket mulai merajai perdagangan di Surabaya. Hal ini yang membuat Andri berfikir untuk menutup usahanya dan beralih di usaha lain.

     Andri mencoba peruntungan lain di tahun 2011 dengan mendirikan Vion Seal. Sebuah usaha yang bergerak di bidang penambal ban secara otomatis. Dalam usaha ini dia mampu meraup untung 1 milyar rupiah pertahunnya. Serta dia juga memenangkan ajang bergengsi wirausaha tahun 2012, yakni Wirausaha Muda Mandiri (WMM) dan menyabet 50 juta sebagai hadiah utamanya. Namun baginya, usaha ini juga kurang mampu bertahan. Oleh karena itu usaha ini dialihkan ke koleganya.

     Andri juga memiliki prinsip bahwa untuk menjaga kestabilan usaha atau perusahaan. Seorang wirausahawan harus memiliki usaha lainnya. Andri memiliki usaha lain seperti butik baju yang didirikannya sejak tahun 2013 lalu. Di tahun 2014 Andri mendirikan usaha kembali dengan nama videoproperti.com.

     Sebuah usaha bergerak di bidang jasa broker atau penjualan properti dengan basis teknologi website dan video, selanjutnya akan hadir dengan aplikasi ponsel. Usaha yang beroperasi di kawasan Surabaya, Sidoarjo, Malang dan sekitarnya, menawarkan kemudahan dalam membeli properti dengan hemat waktu. Videoproperti.com merupakan usaha jasa penjualan properti pertama di Indonesia yang menawarkan fasilitas video.

     Andri merintis dari awal untuk usaha videoproperti.com ini. Dengan modal awal sekitar 80 juta, dia mampu mempekerjakan 4 pegawai tetap dan 20 freelance. Usaha ini diilhami dari pengalaman pribadi. Kala itu, dia sedang mencari rumah untuk dirinya sendiri. Selain kekurangan alat survei yang mumpuni, misalnya foto, dan kepastian propertinya sesuai permintaan, alasan waktu juga cukup merugikan. Sehingga dia berinisiatif untuk membuatnya lebih mudah dengan fasilitas video. Keuntungannya detail properti bisa ditangkap dengan tepat, efisiensi waktu, pembeli mudah untuk menyeleksi properti.

     Andri mengakui jenis usaha yang akan bertahan dan dicari yakni berbasis teknologi. Pengusaan teknologi akan sangat dibutuhkan dewasa ini. Sehingga orang yang sukses adalah orang yang mampu mengelola dan menggunakan teknologi. Berkecipung di dunia bisnis semakin memantapkan Andri. Dia menyatakan bahwa wirausaha bukan tempat main-main. Sebab setiap pelaku wirausaha harus memliki alasan berada di dunia wirausaha.

     Wirausaha bukan faktor materi saja. Berbagai pekerjaan lain mampu menawarkan gaji yang lebih dibanding menjadi wirausaha. Prestise juga bukan alasan seseorang menjadi wirausahawan. Sebagai pegawai negeri sipil tentu saja mendapatkan penghargaan lebih di mata masyarakat. Tetapi faktor waktu tidak akan didapatkan mereka yang tidak bekerja sebagai wirausaha. Waktu adalah harta yang paling berharga diberikan Tuhan kepada makhluknya.

     Beruntunglah para wirausahawan yang memiliki waktu luang untuk keluarga dan orang berharga lain di sekitarnya. “Saya mensyukuri kehadiran saya ketika saya ditinggal anak sulung saya berpulang, kebersamaan terakhir saya dengan anak sulung saya merupakan harga termahal yang saya miliki. Bahkan urusan kantor saya tinggal selama satu bulan lebih. Entah apa yang akan terjadi jika saya tidak berada didekat anak saya kala itu, saya akan menyesal seumur hidup.” kenang Andri.

Sumber : Buku Jejak Entrepreneur Universitas Airlangga