Menangis, Melihat Anak-Anak Korban Kekerasan Seksual Tuesday, 07 March 2017 03:26

Pelecehan seksual yang belakangan melanda anak-anak, membuat kepala Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa sedikit pusing. Selasa, 20 September 2016, dia baru kembali ke kantornya, Kementerian Sosial, Salemba, Jakarta pusat, setelah melakukan perjalanan keliling pelosok daerah di Indonesia.

Dia banyak mendengar cerita dari korban. Dia terpukul. Tapi juga harus segera mencari solusi. Beberapa kejadian yang masih jelas di benak Khofifah, antara lain, kasus pemerkosaan dan pembunuhan biadab siswa Sekolah Dasar di Bengkulu bernama Yn. siswa 14 tahun tersebut diperkosa kemudian dibunuh oleh 14 pelaku. Mayatnya dibuang di pinggir sungai.

Kasus yang lain adalah anak-anak korban prostitusi gay di puncak, Bogor. itu belum termasuk kasus-kasus incest di keluarga miskin di daerah Kalimantan selatan.

Khofifah menemui langsung semua tersangka pemerkosaan Yn. Dia tidak memarahi para pelaku. tapi berbicara kepada mereka sebagai seorang ibu. Menanyakan bagaimana perasaan mereka. Apakah sadar apa yang mereka lakukan.

Pendekatan sebagai sosok bunda itu diperlukan. Sebab, banyak pelaku masih di bawah umur. Cara itu juga dilakukan untuk mencari tahu akar penyebab utama tindakan kejam tersebut.

Dari perbincangannya dengan mereka, Khofifah menyimpulkan bahwa umumnya

pelaku anak-anak hanya ikut-ikutan. Mereka diajak pelaku yang lebih dewasa. Diajak

nongkrong, minum tuak, dan nonton video porno melalui ponsel.

Kasus lain yang juga mendapat perhatian Khofifah adalah incest (perkawinan sedarah). Perkawinan yang sejatinya lebih pada pemerkosaan dalam keluarga itu justru paling sulit diusut. sebab, biasanya keluarga ingin mendiamkan. Mereka menganggap aib yang harus disembunyikan.

Beberapa kasus yang banyak ditemui khofifah terjadi di kalimantan Selatan. Ayah kandung mengawini anaknya sendiri. Bahkan beberapa kali hingga si anak Melahirkan. setelah si anak melahirkan, putri hasil incest, yaitu “cucu”-nya juga menjadi korban kebejatan si bapak.

Kejadian tersebut terus berlangsung. Tapi dianggap biasa oleh keluarga. Bahkan korban juga tidak merasa menjadi korban. Alasannya, dia kasihan kepada bapaknya.  

Menurut Khofifah, salah satu penyebab kasus-kasus tersebut adalah kemiskinan. Kemiskinan membuat satu keluarga hanya bisa tinggal di rumah petak berukuran 3 x 3 meter atau 3 x 4 meter. Dengan anak berjumlah tujuh orang, ruang yang sudah sempit tersebut akan penuh sesak. Pelecehan seksual incest pun gampang terjadi. Dari data yang dikumpulkannya, incest, paling banyak dilakukan ayah kandung. Kedua oleh kakak kandung, lantas paman. Wilayah indonesia yang kerap terjadi incest sejatinya banyak. termasuk, di daerah tapal Kuda, Jawa timur.

Meski sebagai menteri, jiwa aktivis Khofifah masih meledak-ledak. Dia tidak bisa sekadar menduduki jabatannya dan bekerja sebagaimana “petugas pemerintahan”.

 

Muslimat Lebih Dekat ke Surga

Hampir setiap akhir pekan dihabiskan istri almarhum Indar Parawansa itu keliling daerah bersama jajarannya. Padahal, jika Sabtu, eselon satu dan eselon kementerian lain istirahat. Mantan anggota Komisi VII DPR tersebut, selalu menanamkan semangat ibadah pada jajarannya dalam bekerja. Slogannya, KMS. Kerja menuju sorga.

Motivasi kebahagiaan akhirat tersebut didapatkan dari Muslimat NU. Organisasi yang dia pimpin itu selalu menempatkan umat di atas segala ambisi politik dan jabatan. Bagi Khofifah, Muslimat adalah media melayani umat. Muslimat lebih dekat dengan surga daripada parpol. Itu semua merupakan nilai-nilai tambah yang akan diterima kelak.

 

Menyukai cara Mengajar Prof Soetandyo (almarhum)

Khofifah masuk Unair pada 1984. Dia yang datang dari sekolah Islam, Khadijah, sedikit kaget melihat beberapa mahasiswa dan mahasiswi cukup demonstatif dalam berpacaran.

Dia mengaku awalnya agak susah beradaptasi. Untunglah Khofifah menemukan tempat yang cocok untuk beraktivitas. Yaitu melalui Himpunan Mahasiswa Program Studi (Himaprodi), di masjid, dan perpustakaan. Salah satu teman mahasiswanya dalam beraktivitas adalah Kacung Marijan yang kini guru besar politik Unair.

Sedangkan dosen-dosen yang sampai sekarang mengesankan Khofifah adalah almarhum Prof. Soetandyo Wignjosoebroto. Menurut dia, pendiri FISIP Unair tersebut mampu menyampaikan teori-teori politik yang ruwet secara sederhana.

Selain Soetandyo, Prof. Ramlan Surbakti juga menjadi catatan tersendiri bagi Khofifah. Waktu itu, Prof Ramlan merupakan satu-satunya orang FISIP yang sekolah di luar negeri. Dia memberi dedikasi yang luar biasa dalam mengantar murid-muridnya. Kedua dosen itu, di mata Khofifah, tidak sekedar mengajar. tapi, juga memberi referensi kehidupan bagi mahasiswanya.

Sumber : Buku Jejak Langkah Ksatria Airlangga