Mantan Pegawai Kantoran Yang Beralih Seragam Monday, 27 March 2017 02:50

      Siapa yang tak kenal dengan salah satu panganan yang satu ini? Panganan yang tentu tidak memiliki batasan umur bagi konsumennya. Ya, panganan ini adalah brownies. Tentu siapapun pasti tahu dan sudah familiar dengan kue yang satu ini. Peluang inilah yang menjadikan seorang Mega Siswindarto untuk terjun di dunia bisnis brownies.

     Pria kelahiran Surabaya 23 Oktober 1986 ini memulai bisnis brownies sejak tahun 2011 tepatnya pada bulan Oktober. Tentu jika ingin terjun ke dunia bisnis pasti harus memiliki nilai lebih dari produk yang akan kita jual. Brownies dengan label Mr. Fronies ini menjual brownies beku. Bisa dibilang brownies ini adalah varian pertama yang ada di Indonesia.

     Lalu apa yang membedakan brownies ini dengan brownies yang lain? Mr. Fronies paling enak dimakan waktu dalam keadaan dingin atau beku. Perpaduan tekstur ice cream dan brownies kan menjadi satu didalamnya. Outlet yang berada di Jl. Babatan Indah Blok A2 No.9A, Wiyung ini menyediakan berbagai macam rasa brownies dan yang pasti enak.

     Siapa sangka jika Mega sebelumnya tidak memiliki latar belakang sebagai seorang koki ataupun keahlian memasak, semuanya benar-benar dimulai dari nol hingga mampu mengelola bisnis kuliner seperti ini. Bisnis ini berawal dari keinginan Mega untuk berwirausaha. Setelah 1,5 tahun bekerja di Astra International dan di salah satu pabrik rokok di Malang selama 1,5 tahun pria ini memutuskan untuk mengakhiri karirnya di dunia kerja dan memilih untuk berwirausaha.

     Berbekal dari tabungan yang ia miliki selama bekerja, Mega memberanikan diri untuk memulai berwirausaha. Pada saat itu bisnis ini bermodal kan uang pribadi sebesar 15 juta. Sempat bingung ketika muncul keinginan untuk memulai berwirausaha. Apakah harus memilih kuliner berat ataukah memilih kuliner ringan. Berbekal survei kecil-kecilan dengan berjalan-jalan di stasiun dan bertanya ke teman-teman tentang apa yang paling sering dibawa orang-orang sebagai oleh-oleh. Akhirnya ide bisnis pun muncul. Mega memberanikan diri untuk berbisnis brownies.

    Hanya berbekal resep brownies secara otodidak akhirnya Mega berhasil membuat brownies oven. Ternyata bronies buatannya mampu bertahan 10 hari tanpa pengawet. Pada waktu itu brownies buatan Mega dipasarkan ke keluarga dan teman kantornya. Akan tetapi respon baik yang didapat tak bertahan lama.

    “Waktu itu responnya di bulan pertama baik terus bulan kedua turun,” tuturnya sambil tertawa. Sampai akhirnya Mega berpikir bagaimana cara agar mampu bersaing dengan brownies-brownies lain yang sudah memiliki nama besar terlebih lagi saat itu outletnya berada di lingkungan perumahan. “Saat itu berpikiran kalau gak ada bedanya kita akan kalah karena tokonya di dalam perumahan, belum ada toko diluar,” ujarnya.

    Dari sinilah akhirnya Mega terus mencari inovasi untuk mengembangkan brownies buatannya. Berawal dari coba-coba dengan mengutak atik komposisi brownies dan memasukkannya ke dalam freezer ternyata hasilnya tidak keras. Sebelumnya ketika brownies oven dimasukkan ke dalam kulkas hasilnya keras dan tidak bisa dimakan. Sampai akhirnya inovasi ini dikembangkan dan menjadi brownies andalan Mr. Fronies brownies beku. Saat ini ada 7 varian rasa dari Mr. Fronies brownies beku yaitu Premium Choco, Banana Chese, Cashew Nut, Streusel Blueberry, Cappucino, Peanute Butter, dan Durian Choco. Bisnis yang kini beromset hingga 45 juta per bulan ini tak hanya brownies beku saja yang menjadi andalan. Masih banyak varian brownies yang lain. Ada juga Brownies Oven, Truffle Brownies, Pie Brownies, Cookies Brownies, Miles Creepe Brownies, dan Cupcake Brownies.

    Tentu semua yang diperoleh saat ini bukan tanpa usaha. Pria jebolan S1 Kimia Universitas Airlangga mengakui memang masalah bisnis sendiri terletak pada pemasarannya. Dulu usaha ini hanya mengandalkan media sosial sebagai media promosi. Bahkan spanduk pun belum ada saat itu terlebih lagi ditambah dengan outlet yang kurang strategis.

    Apalagi saat itu hanya memproduksi brownies biasa otomatis hanya mengandalkan BBM saja tidak cukup. Dengan memiliki tanggungan 1 orang karyawan tentu Mega harus memutar otak untuk memasarkan produknya. Ketika me-launching brownies beku tak serta merta langsung diterima masyarakat. Dengan kemasan yang masih “ala kadarnya” yaitu dibungkus dengan alumunium foil.

    Bahkan ada yang mengira brownies ini dodol karena teksturnya yang kenyal dan dingin. Akhirnya Mega pun bergabung dengan salah satu komunitas bisnis yang ada di Surabaya untuk belajar strategi marketing. Tentu untuk pemasaran online butuh ketelatenan ekstra walaupun  hasil yang didapat satu tahun lagi. Namun itu semua kini terbayar sudah.

    Saat ini Mr. Fronies telah berkembang dengan memiliki reseller di beberapa kota di Indonesia seperti di Jakarta dan Lampung. Sekarang Mr.Fronies telah memiliki 5 orang karyawan. Demi menjaga agar brownies beku ini tetap menjadi primadona maka Mr. Fronies selalu memunculkan rasa-rasa baru. Berbagai varian rasa dan juga jenis brownies pun menjadi andalan Mr.Fornies.  “Nah sekarang mungkin brownies beku jadi makanan tren. Untuk saat ini konsepnya biar bagaimana caranya jadi kebutuhan. Per tahun 2014 jadi kita kembangkan bukan hanya brownies beku kita kembangkan bonus yang lain,” ujarnya.  Saat ini brownies beku telah memiliki 2 droppoint di Surabaya yaitu di Wiyung dan Rungkut. Selain itu brownies beku juga menyuplai kue-kue brownies untuk restoran dan catering untuk menu desert.

    Pesan yang disampaikan oleh owner Mr.Fronies, Mega Siswindarto, adalah bagaimana seharusnya kita bukan hanya terpaku pada belajar saja. “Semenjak kuliah itu paling tidak sudah dipersiapkan nanti aku kuliah ini untuk apa, lulus ini buat apa. Salah satunya mungkin tidak bergantung pada lembaga dalam artian bekerja di perusahaan, mungkin bisa digunakan salah satu alternatif yaitu usaha sendiri yang bisa mempekerjakan paling tidak bermanfaat untuk orang orang sekitarnya” ujar peraih Shell Live WIRE Business Start-up Awards ini.

Sumber : Buku Jejak Entrepreneur Universitas Airlangga