Sehari-hari dalam Excellence with Morality Wednesday, 29 March 2017 03:07

Hari mulai gelap saat Dr. Akmal Boedianto, S.H. melangkahkan kaki ke rumahnya yang teduh di kawasan Jemursari Surabaya. Meski kondisi tubuhnya kurang fit, semangat akmal bercerita tentang almamaternya, Unair, tak surut.

Hingga kini moto kampusnya itu masih memengaruhi jalan hidupnya. Dia menerapkan motto unair, Excellence with Morality dalam kehidupan seharihari. Sebab, hanya bekerja dengan moral yang baik, seseorang mampu meraih hasil terbaik. Moto tersebut, menurut dia, dampaknya dunia dan akhirat.

Slogan itu pula yang menurut suami Nihayatul Laila tersebut harus digelorakan kepada segenap civitas akademika. Apalagi, Unair ingin mewujudkan mimpinya masuk 500 kampus terbaik di dunia. Salah satu kampus tertua di Indonesia itu harus berpikir terbuka. Semua pihak perlu membangun jaringan yang amat efektif.

Bagi Akmal, alumnus unair harus berani bersaing dengan ptn lain. Mereka juga harus cepat menangkap peluang, termasuk bekerja sama dengan instansi lain.

Cicipi Atmosfir Kampus Berbeda-beda

Dalam perjalanan hidupnya, kakek lima cucu itu empat kali mencicipi atmosfir kampus yang berbeda. pertama, Fakultas Hukum Unair pada 1978–1983. lalu, S-2 di dua kampus, yakni Universitas Narotama dan Untag. Selanjutnya, dia menempuh program doktoral di Universitas Brawijaya Malang.

Di setiap kampus selalu ada kenangan indah yang dia rasakan. Misalnya, ketika menjalani kegiatan Ospek di Unair. Kenangan-kenangan indah itu yang selalu dibahas saat bertemu rekan seangkatan. ”Memorable banget.’’ Dulu mungkin terasa jijik. Tapi, kalau dipikir sekarang, ternyata cara itu mampu merekatkan kebersamaan.

Ayah dua anak itu memulai karir di Pemerintah provinsi (Pemprov) Jawa Timur pada 1985. pria kelahiran Jember itu sudah mencicipi banyak penugasan. Diawali sebagai staf di Pemkab Bojonegoro. Penempatannya di kota tersebut ternyata membawa keberuntungan bagi Akmal.

Hanya setahun menjadi staf, Akmal dipromosikan menjadi Kasi Sospol Bojonegoro. Hal itu tak lepas dari kerja keras dan sedikit keberuntungan. Saat dia bergabung, pemerintah setempat tengah mengalami  banyak kasus permasalahan desa.

Bagi Akmal yang menyandang gelar sarjana hukum, kasus tersebut tentu sebuah tantangan. Kepercayaan Bupati Bojonegoro saat itu, Soedjito, dia bayar lunas. Tak heran karirnya pun melesat. setahun menjabat Kasi sospol, dia naik menjadi Kabag Kepegawaian.

Ketika estafet kepemimpinan Bojonegoro berganti ke tangan Imam Soepardi, karir Akmal semakin tak terbendung. Dia dipercaya menjadi camat. Yang pertama camat di Balen dan kedua di Kasiman. Total 16 tahun dia habiskan waktu mengabdi di Kota Jati itu.

Tak heran, menjelang masa pensiun pada 2017 mendatang, nama Akmal dikaitkan dengan pilkada Bojonegoro yang berlangsung pada 2018.

Usai bertugas di Bojonegoro, Akmal ditarik ke Pemprov. Posisinya saat itu sebagai Kasubdin Disnaker, kemudian menjadi sekretaris DPRD Jatim. Tak tanggung-tanggung, dia menduduki posisi itu hingga sembilan tahun. Dia pemegang rekor sekretaris DPRD terlama di Indonesia.

Dinilai sukses, pada 2009 Gubernur Soekarwo mempromosikan namanya menjadi asisten 3 Pemprov. Namun, jabatan itu hanya lima bulan disandang. Dia mendapat tugas baru sebagai kepala Badan Kepegawaian Daerah.

Di instansi yang mengurusi SDM PNS se-Jawa Timur itu, pria yang genap 60 tahun pada 7 Mei 2017 nanti tersebut melakukan banyak gebrakan. Salah satunya

konsisten menjalankan kebijakan right man on the right place.

Dengan penataan SDM sesuai bidang yang dikuasai, roda pemerintahan akan berjalan lebih maksimal. Sebab, tidak dapat dimungkiri bahwa mindset dan perilaku pns masih menganut sistem lama.

Sebagian besar aparatur negara adalah hasil rekrutmen zaman Orde Baru. Ketika itu KKN masih dianggap wajar. Itu yang harus diubah. Akmal ngotot penempatan seseorang harus berdasarkan kompetensi, bukan kedekatan.

Lima tahun dihabiskan akmal sebagai kepala Badan Kepegawaian Daerah. Setelah itu, Pakde Karwo menugaskannya sebagai kepala Badan Diklat Provinsi Jawa timur.

Di instansi baru tersebut, tantangan Akmal semakin berat. Dia harus melahirkan aparatur-aparatur Negara yang kreatif dan berdaya saing. Apalagi, Badan Diklat Prov Jatim merupakan salah satu badan diklat terbaik di Indonesia dengan akreditasi A Full.

Di tempat itu Akmal mencurahkan seluruh kemampuan dan energi. sebab, mungkin di situlah tempat terakhirnya mengabdi di Pemprov Jatim.

Sumber : Buku Jejak Langkah Ksatria Airlangga