Peneliti Utama Gandarusa Antikesuburan Pria Friday, 07 April 2017 02:36

Popularitas gandarusa (Justicia Gandarusa Burm.f) sebagai bahan baku obat antikesuburan pria telah dikenal di banyak negara. Ketenaran gandarusa itu tak bisa dilepaskan dari peran Prof. Dr. Bambang Prayogo Eko Wardojo. Dialah peneliti tanaman asal Papua tersebut. Pengajar yang sangat sabar itu meneliti gandarusa sejak 1987. Sampai sekarang penelitiannya pun belum tuntas.

Untuk menyelesaikan penelitian itu, diperlukan dana sekitar Rp 70 miliar. Mustahil ada swasta yang bersedia mengucurkan dana sebesar itu tanpa kejelasan profit. Dana dari pemerintah juga masih berputar-putar di lingkaran birokrasi. Itulah yang jadi kendala penyelesaian penelitiannya.

Bapak tiga anak itu sangat terobsesi menyelesaikan penelitiannya agar segera mendapatkan izin edar dari Badan pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan diproduksi. Sebab, gandarusa dinilai sangat prospektif dan menguntungkan dunia. Selain itu, keberhasilan gandarusa akan menjadi sumbangan Prof. Bambang terhadap Unair.

Dia berharap Unair bisa memfasilitasi dengan membantu mencarikan dana untuk penelitian. Bukankah nama Unair juga ikut berkibar jika gandarusa muncul di dunia internasional?

Penelitian Prof. Bambang tidak hanya melibatkan disiplin multiilmu dari dalam negeri. Dia pun bekerja sama dengan luar negeri. Antara lain, Jepang, Swiss, dan Amerika. Disiplin ilmu yang terlibat adalah ilmu pertanian, veterines, biologi, kimia, dan juga kedokteran. Beberapa karya tulis ilmiah tentang gandarusa juga sudah dipublikasikan di jurnal internasional.

Inspirasi dari adat papua

Prof. Bambang Prajogo meneliti gandarusa setelah mendapat informasi dari  peneliti lain, seorang guru besar di Universitas Gajah Mada (UGM). Waktu itu dia sedang mengikuti program S-2 di UGM.

Alkisah, dalam adat Papua, seorang pria yang meminang gadis namun belum bisa membayar mahar, tetap diperbolehkan tinggal serumah. Syaratnya, dia tidak boleh mendapatkan keturunan sebelum mahar lunas.

Nah, si pria ini harus minum air rebusan gandarusa, 30 menit sebelum melakukan hubungan suami-istri. Di Sentani, Jayapura, juga terdapat penjual jamu yang menjajakan daun gandarusa. Hal-hal itulah yang memacu Prof. Bambang melakukan penelitian.

Pria yang istiqomah menjalankan puasa sunah itu sudah fokus pada masalah antifertilitas sejak awal. Dia meneliti tanaman pare dan sambiloto. Skripsinya membahas tanaman pare sebagai bahan baku obat antifertilitas pria. tesisnya juga masih pare. Baru kala menyelesaikan disertasi dia mengupas gandarusa.

Anak pamong Praja

Bambang Prajogo, anak seorang pamong praja (mantri polisi), sering pindah seko lah sejak TK sampai SMP. Dia mengikuti orang tua yang pindah tempat kerja.

Mulai Turen, Malang, Bangsalsari, Wuluhan, Jember, sampai kembali ke Kepanjen, Malang. Setelah lulus SMA Negeri 6 Surabaya pada 1976, dia diterima di Fakultas Farmasi, Unair.

Lulus farmasi, dia melamar kerja di Bayer, namun tidak diterima. Dia lantas memanfaatkan ilmunya untuk mengajarkan matematika dan biologi di SMA Tri Tunggal 4, di kawasan Jalan Demak, Surabaya.

Tak lama kemudian di kembali ke kampus, mengajar. Jabatan yang pernah diemban, antara lain, sekretaris laboratorium, sekretaris departemen, wakil dekan (wadek) 3 periode 2010–2015, dan sekarang ketua prodi S-2 Ilmu Farmasi. Dalam pandangannya, Unair saat ini sudah cukup maju. sudah waktunya punya kandidat-kandidat peneliti unggul dengan fasilitas peneliti multidisiplin.

Sumber : Buku Jejak Langkah Ksatria Airlangga