Wirausaha Modal Mandiri Friday, 07 April 2017 02:45

Dunia kerja tak lantas membuat satu sosok jiwa muda ini terlena. Meskipun telah bekerja di tempat yang bisa dikatakan sesuai dengan bidangnya tidak membuat Abdu terus terpaku di dunia kerja. Keinginan untuk meningkatkan skill di bidang akademiknya pun menjadi prioritas. Memang pilihan yang sulit ketika kita harus memilih untuk tetap mempertahankan posisi kita di dunia kerja atau memilih mencari jalan yang lebih baik. Hal inilah yang coba diwujudkan Abdu. Selepas menempuh pendidikan S1, Abdu bekerja di sebuah perusahaan pakan ternak terbesar di Indonesia. Cukup waku 10 bulan baginya untuk menikmati menjadi seorang karyawan. Karena keinginan yang besar untuk meningkatkan skill akademiknya, maka pilihan untuk menempuh pendidikan S2 menjadi pilihannya.

Ada satu hal yang menarik di balik itu. Bukan hanya tekad yang kuat yang muncul untuk meningkatkan skill akademik. Ternyata pria kelahiran Mojokerto 26 Juni 1992 ini juga tengah mengembangkan jiwa entrepreneur-nya juga. Berbekal ilmu di bidang biologi dan modal patungan sebesar 1 juta rupiah, Abdu berhasil menelurkan ide dalam bentuk Pupuk Hayati. Berbeda dari yang lain, Pupuk Hayati yang dikembangkan Abdu merupakan pupuk berbahan mikroorganisme yang nantinya akan membantu tanaman untuk menyerap unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk ini merupakan hasil dari skripsi yang pernah ia kerjakan dan sudah pernah diuji di Pare. Terbukti pupuk ini berhasil meningkatkan produksi tomat hingga meningkat 30%.

Pupuk Hayati muncul sebagai bentuk kepedulian Abdu terhadap pola pemakaian pupuk oleh petani yang menurutnya salah. Para petani cenderung selalu memberikan pupuk berlebih kepada tanaman, dengan harapan tanaman tersebut bisa lebih cepat produktif. Akan tetapi cara yang demikian lama-kelamaan akan membuat tanah menjadi gersang dan tandus. Hal inilah yang coba dirubah oleh Abdu dengan membuat Pupuk Hayati yang mengandung mikroorganisme didalamnya. Mikroorganisme ini akan berperan menangkap unsur-unsur yang dibutuhkan tanaman sehingga terciptalah simbiosis mutualisme antara bakteri dan tanaman.

Potensi yang besar dari Pupuk Hayati ini membuat Abdu dan timnya gencar untuk melakukan pemasaran baik secara langsung maupun tidak langsung. Sering kali Abdu diajak kerjasama untuk mengisi penyuluhan ketika KKN. Selain mempromosikan Pupuk Hayati Abdu juga membagikan ilmu kepada masyarakat tentang bagaimana cara penggunaan pupuk yang benar. Tak sampai di sana, Dinas Pertanian pun menjadi mitra Abdu untuk mengembangkan Pupuk Hayati ini. Saat ini pemasaran juga dilakukan konsinyasi ke beberapa toko tanaman dan pertanian di Surabaya. Ada 5 toko yang bermitra dengan pupuk hayati ini. Rata-rata produksi Pupuk Hayati ini mencapai 50 liter. Dengan produksi ini rata-rata Abdu dan timnya meraih omset hingga 2 juta-2,5 juta.

Meskipun memiliki berbagai keunggulan, akan tetapi pupuk hayati bukan tidak ada tantangan yang harus dihadapi. Tantangan untuk merubah mindset masyarakat tentang pupuk kimia dan beralih ke Pupuk Hayati dinilai Abdu menjadi hal yang sangat sulit. Sudah sering kali Abdu memberikan pupuk gratis kepada petani untuk uji coba, akan tetapi pola pikir masyarakat yang masih ketergantungan kepada pupuk kimia lagi-lagi menjadi masalahnya. Terlebih lagi ketika hal ini mulai dipermainkan oleh para distributor pupuk dan tentu ini akan merugikan para petani. Indonesia sebagai negara agraris memang sudah seharusnya memiliki keunggulan di bidang pertanian akan tetapi pemahaman akan konsep ramah lingkungan dan keberlanjutan masih kurang. Inilah yang terus diperjuangkan Abdu agar masyarakat bisa menikmati hasil yang lebih baik dengan menggunakan Pupuk Hayati.

Pupuk produksi Abdu ini memang bukanlah satu-satunya yang beredar di pasaran. Ada memang pupuk organik yang sudah lebih dulu beredar di pasaran. Akan tetapi pupuk organik cair merupakan salah satu contohnya. Perbedaan komposisi yang terkandung dalam Pupuk Hayati inilah yang membedakan dengan pupuk organik lain. Bisa dibilang pupuk hayati buatan Abdu memang berbeda dan belum ada di pasaran. Kandungan mikroorganisme yang mampu membantu tanaman memberikan nutrisi lebih menjadi salah satu kelebihannya. Kerjasama baik secara langsung dengan petani, konsinyasi, maupun dengan dinas terkait merupakan usaha yang terus dilakukan hingga sekarang. Konsep menggaet konsumen yang loyal dengan cara memberikan pendampingan selama proses pemupukan adalah salah satu cara untuk menciptakan market place tersendiri. Abdu berharap dengan Pupuk Hayati ini bisa berkembang. Berkembang baik dari sisi skala dan intensitas produksi, mitra pemasaran yang semakin banyak, dan mendapat dukungan baik dari Gapoktan sebagai unsur petani dan Dinas Pertanian sebagai unsur pemerintah.

Mungkin bagi sebagian orang berpikir “kerja ikut orang” dengan “usaha sendiri” akan terasa berbeda. Ketika kita mendapatkan hal yang kecil walaupun itu hasil dari usaha sendiri akan lebih terasa kepuasannya. Begitu juga yang dirasakan Abdu, menurutnya kalau kita kerja menurut disiplin ilmu kita, itu berarti niat belajar kita salah. Mindset ini selalu ditanamkan Abdu sebgai modal untuk mencapai proses kemandirian. Pintar mencari kesempatan dan peluang adalah kuncinya. Ketika ada kesempatan ambil dan lakukanlah karena kesempatan tidak datang dua kali.

 “Tidak masalah jika kita ikut orang lain, tapi kita harus punya pegangan untuk usaha ataupun yang lainya. Walapun negeri ataupun swasta kalau ikut orang lain kan sama. Tapi kan memang ada perbedaan. Kalau dari negeri mungkin ada yang ngomong negeri enak, dari swasta ngomong swasta enak gajinya  besar. Itu sama saja sih menurut saya yang penting kita kontinyu, kita ajek, kita istiqomah, hasilnya terserah yang maha kuasa. Pokonya kita semangat. Ada kesempatan langsung kita ambil.”

Sumber : Buku Jejak Entrepreneur Universitas Airlangga