Menulis Terinspirasi Bung Karno-Bung Hatta Tuesday, 18 April 2017 03:11

Ketika dipenjara penjajah Belanda di Boven Digul Papua (dulu Irian), Bung Karno menulis buku dengan judul Di Bawah Bendera Revolusi yang menginspirasi perjuangan kemerdekaan. Sementara itu, ketika dipenjara di Sukamiskin Bandung, Bung Hatta menulis buku Mendayung diantara Dua Karang yang kini menjadi acuan bagi pelaksanaan politik luar negeri bebas aktif.

Para founding fathers itu menulis dalam keadaan serba terbatas. Tetapi, karyanya menginspirasi generasi muda untuk meraih dan mengisi kemerdekaan dengan karya nyata bagi kemajuan bangsa dan negara Indonesia tercinta.

Ketika ditanya tentang tujuan menulis buku fenomenal itu, Bung Karno dan Bung Hatta menjawab bahwa ”bangsa indonesia harus merdeka dan ke depan harus menjadi lebih baik, sehingga menjadi bangsa yang terhormat dan bermartabat”.

Inspirasi dari proklamator Kemerdekaan RI itulah yang mendorong Aat Surya Safaat menyenangi dunia tulis-menulis. ”Itu yang mendorong saya menjadi wartawan hingga sekarang sampai menduduki jabatan direktur Pemberitaan (pemimpin Redaksi) Lembaga Kantor Berita Nasional (lKBN) Antara, satu-satunya kantor berita resmi milik negara,” kata alumnus FISIP ini.

Aat, demikian dia biasa disapa, menjadi wartawan Antara sejak 1988. setelah itu dia mengikuti short course dalam bidang Small Scale Business Management” di Capilano College, Vancouver, Kanada, pada 1990.

Babak berikutnya Aat ditugaskan meliput di Istana Presiden pada 1991 hingga 1992. ”pada 1993 saya ditempatkan di New York selaku kepala Biro Antara di Amerika hingga 1998,” ujarnya.

Sekembali dari New York pria kelahiran Pandeglang ini mendapat kepercayaan di berbagai posisi. Misalnya, sebagai koordinator kerjasama Antara dengan Kantor Berita inggris Reuters, CEO di anak perusahaan Antara ”Indonesia Market Quotes” (IMQ), kepala biro Antara Jawa Barat, Direktur Utama Dana Pensiun Antara, Koordinator Staf Ahli, General Manager (GM) pengembangan Bisnis. ”Saat ini saya sebagai Direktur pemberitaan (pemimpin Redaksi) Antara,” katanya.

Sebagai direktur pemberitaan, posisi itu berdasarkan hasil fit and proper test yang dilakukan lembaga independen atas permintaan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Pesertanya adalah direksi petahana, para GM, dan beberapa kepala biro Antara daerah.

Antara sebagai ”State Public Relations”

Aat berpendapat, jabatan adalah amanah. Bekerja adalah ibadah. Maka, amanah sebagai direktur pemberitaan Antara harus dapat dijalankan dengan sebaik-baiknya untuk kebaikan dan kemajuan Antara ke depan serta untuk kesejahteraan karyawan dan wartawannya.

Lebih dari itu, visi Aat adalah menjadikan Antara sebagai kantor berita berkelas dunia serta menjadikan kantor berita tersebut sebagai ”State Public Relations” yang andal dan terpercaya. Mengedepankan kepentingan nasional, baik ke dalam maupun ke luar negeri.

Pada era konvergensi media serta perkembangan dan kemajuan teknologi informasi yang sangat pesat dewasa ini Antara juga harus menjadi semacam ”clearing house” (rumah penjernihan) atau tempat untuk meluruskan isu-isu negative yang kini berseliweran, khususnya di media sosial.

”Dalam kaitan ini saya selalu menekankan bahwa berita-berita Antara harus bersifat mendidik, mencerahkan, dan memberdayakan masyarakat dalam bingkai negara Kesatuan Republik indonesia,” paparnya.

Antara didirikan para pemuda pejuang jauh sebelum indonesia merdeka, yakni pada 13 Desember 1937. Para pendiri kantor berita itu adalah Adam Malik, Pandu Kartawiguna, A.M. Sipahutar, dan Sumanang.

Khusus Adam Malik, setelah indonesia merdeka dia menduduki berbagai jabatan penting dan strategis dalam pemerintahan. Misalnya, sebagai Presiden Majelis Umum Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB), menteri luar negeri, dan wakil presiden RI.

Jika sebelum kemerdekaan Antara ”menjembatani” kepentingan rakyat dan pejuang kemerdekaan (begitu pula sebaliknya), pada era setelah proklamasi kemerdekaan hingga sekarang kantor berita itu menjembatani kepentingan rakyat dengan pemerintah atau kepentingan pemerintah dengan rakyat Indonesia.

Lulusan Pertama dan Tercepat Prodi HI FISIP

Aat mengaku selama menjadi mahasiswa Unair sangat terkesan dengan keramah-tamahan, keterusterangan, dan keterbukaan para mahasiswa serta para dosen. ”Selain itu, suasana akademis yang kondusif tentunya.”

Di Unair ada kebebasan bagi para mahasiswa untuk aktif di organisasi, baik internal maupun eksternal, sepanjang tidak melanggar peraturan atau perundang-undangan yang berlaku.

Ketika kuliah, Aat aktif di Himpunan Mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional (Himaprodi HI), sementara pada organisasi eksternal Aat aktif di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). ”Saya menjadi ketua bidang pendidikan HMI Komisariat FISIP Unair,” ujar Aat tentang pengalamannya sebagai mahasiswa.

Berkat aktif di organisasi pula, kata Aat, mendapatkan info lebih awal tentang adanya beasiswa Supersemar. Dia bersyukur bisa mendapatkan beasiswa tersebut sejak semester III hingga semester akhir. ”Studi saya lancar. Bahkan, menjadi lulusan pertama dan tercepat Program Studi Hubungan Internasional FISIP Unair dengan nilai terbaik,”katanya.

Tanpa Media, Sehebat apapun Unair tak Bermakna

Aat berpendapat Unair bisa menjadi perguruan tinggi indonesia yang masuk 500 besar dunia. Dengan catatan para dosen banyak menulis di jurnal-jurnal ilmiah internasional sesuai dengan bidang dan kompetensinya masing-masing.

”Saya melihat di sini salah satu titik lemahnya,” ujar Aat seraya mengatakan dosen Unair yang sudah meraih gelar doktor sekalipun masih banyak yang belum bisa menulis dalam jurnal internasional. ”Kemampuan mereka lemah dalam berbahasa Inggris, baik lisan maupun tertulis.

Selain itu, hubungan dan kerjasama Unair dengan perguruan tinggi di luar negeri belum banyak dilakukan. padahal, kerja sama dimaksud adalah bagian penting dari networking yang akan membawa kemajuan bagi Unair ke depan.

Last but not least, perpustakaan di fakultas-fakultas di Unair belum berstandar internasional, baik tempat (gedung perpustakaan) dan manajemen maupun kelengkapan dan kualitas buku-bukunya. ”apalagi sekarang ini perpustakaan sudah harus masuk keera digital,” katanya.

Kelemahan lain adalah kurangnya publikasi terkait kegiatan atau kiprah Unair. Padahal, sampai sekarang banyak hasil riset pengajar di Unair yang boleh dikatakan ”luar biasa.” Bukan hanya di Fakultas Kedokteran, tetapi juga di FISIP dan fakultas-fakultas lain.

Karena itu, ke depan PIH (Pusat Informasi dan Humas) Unair harus lebih dekat dengan media. Kiprah Unair harus diketahui publik melalui media massa.

Sehebat apa pun kegiatan Unair, prestasi itu seperti tidak ada artinya kalau tidak diberitakan melalui media massa. ”Bukan hanya diberitakan, tetapi pemberitaannya juga harus cepat, terlebih di era konvergensi media sekarang ini,” kritik Aat terhadap almamaternya. Dalam kaitan ini tepatlah adagium yang menyebutkan bahwa ”media bisa mengubah cacing jadi naga atau naga menjadi cacing”, dan ”berita lebih cepat basi dibanding roti”.

Sumber : Buku Jejak Langkah Ksatria Airlangga