Jejakku Di Dunia Volunterism Wednesday, 19 April 2017 02:15

Indonesia bisa dibilang merupakan surganya pariwisata. Bagaimana tidak, bentangan alamnya yang indah dari ujung barat hingga ujung timur Indonesia tak henti-hentinya menunjukkan eksotika alamnya yang maha indah. Bentangan alam ini tentu menjadi magnet tersendiri bagi para traveller baik dalam negeri maupun luar negeri.

Tak kurang dalam satu tahun ada kurang lebih 120 juta traveller yang menjejakkan kakinya di tempat-tempat eksotis di Indonesia. Jumlah traveller yang terus meningkat ini sudah pasti menjadi sebuah pangsa pasar yang sangat besar dan bisa jadi ladang bisnis.

Melihat peluang tersebut tentu saja tidak akan disia-siakan oleh seorang Ahimsa Dinhas Afrizal. Membangun sebuah usaha di bidang startup technology di mana usaha ini merupakan sebuah market place bagi para trip organizer. Usaha yang diberi label “Jejakku” ini menjadi penjembatan bagi para traveller Indonesia maupun luar negeri untuk menikmati travelling di Indonesia dengan menggunakan jasa trip organizer.

Tak kurang dari 60 juta per bulan Jejakku berhasil membukukan omsetnya. Ada sekitar 20 trip organizer yang telah bergabung di Jejakku yang siap memberikan fasilitas kita untuk travelling. Alumni sistem informasi Universitas Airlangga ini mengawali karir wirausahanya setahun setalah meninggalkan statusnya sebagai karyawan.

Berbicara mengenai market place trip organizer tentu sudah banyak bertebaran di mana-mana. Sebagai sebuah market place traveller yang lahir saat persaingan cukup ketat membuat Jejakku harus memiliki sesuatu yang berbeda. Berbekal pengalamannya di bidang IT itulah Ahimsa bersama rekan-rekannya membangun sebuah aplikasi mobile untuk Jejakku. Aplikasi ini bisa dibilang merupakan gudangnya informasi wisata, diary travelling dan tokonya perlengkapan para traveller. Hanya memberikan informasi wisata saja tentu sudah biasa, aplikasi ini pun dilengkapi fitur mirip sebuah buku diary bagi para pelanggannya. Tak cukup sampai disitu, berbagai kebutuhan traveller pun tersedia di aplikasi ini. Penasaran bagaimana serunya aplikasi ini? Coba saja sekarang.

Ada sesuatu yang menarik dari Jejakku sebagai sebuah market place sekaligus trip organizer ini. Jejakku mengusung tema “Volunterism” sebagai konsep andalan dari usaha ini. Apa itu volunterism? Volunterism merupakan penggabungan antara konsep volunteer dan tourism. Singkat cerita, Jejakku merupakan wadah bagi para traveller yang memiliki minat menjadi seorang relawan.

Berlibur sambil menjadi volunteer tentu memberikan kesan yang berbeda. Konsep dari JEJAKKU sebagai platform volunterism adalah meluangkan waktu di setiap kesempatan agenda travel yang ada dan mengisinya dengan kegiatan sosial. Contoh sederhana dari kegiatan ini adalah donasi buku.

 “Kalau yang sederhana itu donasi buku. Nah itu sederhana sekali kan sebenarnya, kita datang bawa buku bekas atau buku baru minimal 2 kita sumbangkan ke sekolah terdekat,” ujarnya. Menurut Ahimsa, cara sederhana inilah yang biasanya memberikan kesan yang berarti.

Selain donasi buku, aktivitas volunterism lain adalah melakukan penghijauan di kawasan wisata yang memiliki permasalahan terhadap penghijauan seperti tanam pohon di gunung, mengumpulkan sampah dan bahkan menanam kembali terumbu karang. Tentu semua ini akan mendapat hadiah spesial dari Jejakku. Hadiah tersebut berupa poin yang bisa ditukarkan dengan discount dari Jejakku.

Guna menarik para traveller untuk bergabung dalam volunterism ini, Jejakku membuatnya menjadi sebuah hal yang asyik untuk dilakukan. Di setiap agenda travel, kegiatan sosial ini memiliki poin yang bisa dikumpulkan oleh traveler yang turut serta. Poin ini akhirnya yang nanti akan ditukarkan dengan berbagai penawaran seperti diskon dari Jejakku. Pria yang kini melanjutkan pendidikan di S2 Sistem Informasi ITS ini mengakui bahwa usaha yang dijalaninya memang menyasar kepada nice market. Di mana pasar yang dibidik merupakan pasar yang sangat terbatas. Meskipun demikian, usaha ini pun bukan hanya menarik para traveller dalam negeri saja. Banyak traveler dari negara lain seperti Amerika, Singapura, Malaysia, India pun tertarik dengan konsep volunterism.

Ahimsa mengakui sulit memang ketika kita mengajak seseorang untuk melakukan sebuah kegiatan kecil, katakanlah memungut sampah di tempat wisata. Mungkin jika dilakukan sendiri akan timbul sebuah keengganan untuk melakukannya. Akan tetapi berbeda halnya ketika hal sederhana itu dilakukan bersama sama, akan menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi mereka.

Hasil yang diperoleh saat ini bukan dengan mudah ia dapatkan. Jualan pulsa semasa kuliah pun pernah ia lakoni. Selain Jejakku, Ahimsa juga mendirikan startup yang diberi label Indonesia City Explorer. Ini merupakan sebuah aplikasi direktori kota yang akan memberikan informasi terkait fasilitas umum seperti ATM, pom bensin, dsb di kota.

Akan tetapi hal ini tidak berjalan lama.  Ada satu hal yang menarik ketika Ahimsa dihadapkan pada keadaan yang disebut sebagai “The Monk State”, kondisi ini terjadi ketika seseorang seperti seorang biarawan, tidak memiliki apapun. “Tidak punya uang dan itu saya alami benar-benar. Jadi mau makan apa itu bingung dan itu benar-benar saya alami,” tandasnya. Akan tetapi tak lantas ini semua membuat Ahimsa terpuruk dan putus asa, bahkan kondisi ini menurutnya merupakan tahap ketika kita bisa melihat sesuatu lebih jelas. “Ketika kita tidak punya apa-apa kita melihat dunia ini menjadi lebih jelas. Bahwa ini semua hanya semu sebenarnya,” sambungnya.

Semua yang dilakukan Ahimsa bersama rekan-rekannya kini berbuah manis, salah satu  bukti nyatanya adalah menjadi juara di NextDev 2015. Sebuah ajang bergengsi di tanah air bagi aplikasi teknologi baik aplikasi maupun website yang mampu memberikan pemecahan masalah di Indonesia. Ia bahkan tahun ini ia menargetkan ada 350 trip organizer yang akan bergabung di Jejakku dan menyediakan 500 destinasi wisata ke seluruh Indonesia.

PPKK sebagai “rumah” bagi para wirausaha baik alumni maupun mahasiswa Universitas Airlangga tentu tak tinggal diam melihat prestasi yang berhasil diraih oleh Jejakku. “PPKK membantu sekali, soalnya kemarin ada pelatihan semacam inkubasi bisnis. Nah itu kita di calling untuk ikut di kompetisinya,” tutur Ahimsa. Bukan hanya itu saja, Jejakku pun sempat mengikuti salah satu pameran wisata dan PPKK secara gratis menyediakan tempat bagi Jejakku.

Sumber : Buku Jejak Entrepreneur Universitas Airlangga