Dokter Rupawan Peneliti Penyakit Kusta Monday, 08 May 2017 04:40

Penyakit kulit yang satu ini, membuat sebagian orang yang melihat, merasa jijik. Penyakit menular ini pun, identik dengan kekumuhan. penderitanya, umumnya (maaf) masyarakat kelas menengah bawah dengan pola hidup kumuh. Di Indonesia, secara komulatif, pasien kusta kini memang sudah berkurang. Tapi dari catatan organisasi kesehatan dunia, World Health Organization (WHO), Indonesia menduduki peringkat ketiga jumlah pasien kusta terbanyak dunia.

Jumlah pasien kusta di Indonesia memang sudah berkurang, namun jumlah pasien baru kusta dalam skala grafik, terlihat stabil. Perhatian untuk kewaspadaan pada situasi kini, adalah potensi kusta stadium subklinis. Mereka yang masuk dalam golongan ini, saat ini memang tidak kelihatan sakit. tapi suatu saat, penyakit itu dapat muncul, dan sangat berpotensi menular kepada orang lain. Mereka yang dalam golongan ini, dapat diobati. targetnya, mencegah kemungkinan muncul pasirn baru kusta. selama ini kusta diyakini ditularkan melalui pasien, akhir-akhir ini muncul pemikiran non human sources, apakah kusta dapat ditularkan melalui lingkungan? Kusta stadium subklinis dan potensi lingkungan sebagai sumber penularan kusta inilah yang menjadi salah satu obyek penelitian Cita Rosita dan tim saat ini. PBB melalui WHO, Royal Tropical Institute Amsterdam dan Netherland Leprosy Relief memberi dukungan atas penelitian itu. terlebih, indonesia masih menjadi sorotan atas penyakit kusta. Begitu pula dengan Departemen Kesehatan, juga mendukung penelitian yang dilakukan wanita yang juga Ketua Divisi alergi imunologi Kulit RSUD Dr soetomo ini. Melalui penelitian itu, diharapkan ditemukan  obat alternatif yang bisa menjadi acuan bagi Depkes untuk memberantas penyakit tersebut.

Sebagai dokter yang mendalami masalah penyakit kulit dan kelamin, Cita juga disibukkan dengan sejumlah aktivitas lain. Meski semula menjadi dokter bukanlah keinginannya, namun dengan profesi yang telah digeluti selama hampir 25 tahun itu, kini dia semakin mencintai profesinya itu. Dengan cara itu, Cita berpeluang menyumbangkan keilmuan secara langsung pada masyarakat yang membutuhkan.

Selepas SMA-nya di SMAN II Surabaya, putra ketiga dari enam bersaudara ini, awalnya lebih berkeinginan melanjutkan studi informatika di ITB, Bandung.

Pilihan ke Fakultas Kedokteran, saat itu lebih mempertimbangkan keinginan ibunya, Prof Dr Ir Sri Arijanti Marnomo Prakoeswa MM. Dia adalah guru besar di bidang pertanian. Sang ayah, Ir Bambang SP Prakoeswa Alm, adalah praktisi di perkebunan. sosok ayah yang  membesarkan anak-anaknya dengan cara egaliter dan penuh kasih, membuat Cita merasa aman dan nyaman untuk berdiskusi tentang berbagai hal. Dia menjadi ayah sekaligus sahabat yang menyenangkan, pribadi yang serius namun humoris, tipe pekerja keras yang lembut hati.

Sementara sang ibu, adalah sosok yang membesarkan dia dengan disiplin luar biasa, dan memberi contoh arti sebuah perjuangan. Kombinasi pola pengasuhan tersebut membentuk karakter bekerja dengan all out, pantang mengeluh serta tidak mudah menyerah.

Dengan prestasi yang selalu memuaskan selama di SMA, Cita pun diterima di Fakultas Kedokteran Unair tanpa tes melalui jalur Penelusuran Minat dan Bakat (PMDK), di tahun 1986. situasi kuliah saat itu, dirasa menyenangkan dan kompak. Pendidikan dokter merupakan pendidikan kolegialitas. Ini penting untuk memupuk kebiasaan bekerja dalam tim. Situasi ini, memang agak berbeda dengan suasana kuliah sekarang. Dulu mayoritas kawan-kawannya, berasal dari daerah di seluruh Indonesia, dengan biaya kuliah relatif ringan. Meski tidak terlibat dalam kepengurusan senat mahasiswa, dia juga aktif di beberapa kegiatan mahasiswa di kampus.

Di sela-sela kesibukannya sebagai mahasiswa, cita juga mengisi waktu luangnya dengan mengajar privat pelajar SMP dan SMA.

Setelah lulus sebagai dokter tahun 1992, dia sempat bekerja di RS Pandawa Jakarta selama dua tahun (1992-1994). Kemudian sebagai dokter Pegawai Tidak Tetap (PTT) di Puskesmas Rengasdengklok, Karawang, Jawa Barat selama tiga tahun (1994-1997).  Setelah itu, dia mengikuti tes pegawai negeri, dan diterima sebagai dokter di kantor Departemen Kesehatan, Kabupaten Tuban selama setahun (1997-1998), sebelum melanjutkan pendidikan dokter spesialis kulit dan kelamin tahun 1998-2001. Lulus sebagai spesialis kulit dan kelamin, dia diangkat sebagai staf pengajar di Dept/ SMF Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FK unair - RSUD Dr soetomo.

Awalnya, dia ditugaskan di divisi kosmetik dermatologi. Kemudian ditugaskan di divisi Morbus Hansen (Kusta/Leprosy) dan divisi Alergi Imonologi sampai sekarang.

Tahun 2004-2007, Cita menyelesaikan pendidikan program doktor dengan dukungan dana dari Netherland Lerposy Relief (Belanda) dan pemerintah Jepang. Dan, gelar konsultan diperoleh pada tahun 2008, kemudian FINSDV (2013) dan FAADV (2014).

Di bidang pendidikan, kariernya diawali pada tahun 2007-2010, sebagai sekretaris Program Studi Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin. Selanjutnya, 2010-2015 diangkat sebagai Ketua Program Studi Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin.

Di lingkungan Fakultas Kedokteran Unair dan RSUD Dr Soetomo, dia pernah dipercaya sebagai Ketua Unit Penelitian dan Pengabdian Masyarakat FK Unair, sekretaris Komite Etik Penelitian Kesehatan dan sekretaris Health Technology Assessment.

Kini, dia dipercaya sebagai Ketua Bidang Penelitian dan Pengembangan RSUD Dr Soetomo, Sekretaris Badan Perencanaan dan Pengembangan Universitas Airlangga dan Ketua Academic Medical Center dalam rangka persiapan akreditasi internasional JCI di RSUD Dr Soetomo.

Di level nasional, dia pernah dipercaya sebagai Reviewer Pendidikan Dokter Universitas Airlangga - Kemendiknas RI. Dan sampai saat ini masih dipercaya sebagai panel pakar penyakit menular di Balitbangkes - Kementerian Kesehatan RI.

Sebagai dokter perempuan di era sekarang, Cita menikmati peran ganda, baik sebagai profesional sekaligus sebagai ibu. Pada kedua putrinya yang beranjak dewasa, Anisha Callista Prakoeswa dan Camilla Amanda Prakoeswa, Cita menerapkan kualitas pada pemanfaatan waktu untuk bersama dibanding dengan kuantitas. Dan kedua putrinya sangat dekat dengan cita, keduanya merupakan alumnus program akselerasi SMAN 5 dan kini menjadi mahasiswa Fakultas Kedokteran Unair semester IX dan VII.

Sebagai pengajar, Cita Rosita optimistis Unair bisa masuk 500 perguruan tinggi dunia pada tahun 2020. Hanya saja, untuk meraih obsesi itu, dibutuhkan langkah spektakuler. Apalagi, dengan rangking yang masih di kisaran 700 pergururuan tinggi dunia, Unair hanya memiliki empat tahun untuk meraih cita-cita itu. Seluruh civitas akademika, harus saling bekerjasama.

Sumber : Buku Jejak Langkah Ksatria Airlangga