Mengembangkan Kedokteran Militer di AL Monday, 15 May 2017 06:36

Panggilan wajib militer itu datang pada 1984. Saat itu Bambang sucahyo baru saja lulus dari Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Unair. Tanpa banyak berpikir, Bambang muda menyambutnya. Dia langsung ditempatkan di Rumah Sakit Angkatan Laut dr. Ramelan atau RSAL di Surabaya.

Bambang dipanggil wajib militer bersama dua rekannya. Satu rekan menuju TNI Angkatan Darat dan satu lagi meniti karir di TNI Angkatan Udara. Namun, dari tiga sahabat tersebut, hanya Bambang dan rekan di AD yang bertahan di kedokteran gigi militer.

Panggilan tersebut terbukti menjadi jalan hidupnya. Bambang, pemuda yang tumbuh di kawasan padat penduduk Pacar Keling, tak pernah menyangka dunia militer bakal menjadi bagian dari dirinya. Yang dia pikirkan saat itu adalah meniti karir yang sudah digariskan Tuhan untuknya.

Benar saja. Tidak lama setelah bertugas di RSAL, Bambang langsung mendapatkan panggilan tugas belajar. Saat itu Fakultas Kedokteran Gigi Unair membuka spesialis kedokteran gigi pertama pada 1986. RSAL menugaskannya untuk belajar spesialis. Bambang pun kembali berkuliah di spesialis ortodontis dan lulus pada 1990.

Bersama sejumlah dokter gigi senior di lingkungan TNI AL, Bambang ikut dalam pendirian Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Hang Tuah (UHT) Surabaya pada 1997. Setahun kemudian, mereka sudah bisa menerima mahasiswa angkatan pertama.

Upaya pendirian FKG yang cepat itu tak lepas dari bantuan almamaternya, Unair. Sebab, banyak dosen Unair yang ikut membantunya. Tanpa bantuan mereka, kata Bambang, tak bisa FKG UHT bisa berdiri secepat itu.

Sukses dengan pendirian FKG, pada 2000 Bambang menjadi segelintir orang di TNI AL yang berkesempatan mengikuti Sekolah Staf dan Komando TNI AL atau yang lebih dikenal sebagai Seskoal. Sejak saat itu posisi sebagai pemimpin di jajaran TNI AL pun dia emban.

Pada 2001–2013, dia menjadi Komandan Batalyon Kesehatan Marinir TNI AL di Karangpilang. Pada 2002–2008, dia mendapat kesempatan menjadi dekan FKG. Pada 2008–2011, dia menjadi wakil Lembaga Kedokteran Gigi (Ladokgi) TNI AL R.E. Martadinata. Ladokgi adalah lembaga yang menjadi rujukan pejabat VVIP. Para pasiennya mulai presiden, wakil presiden, anggota DPR hingga ekspatriat.

Karir Bambang terus menanjak. pada 2011 dia mendapat kesempatan untuk ”pulang” kembali ke Surabaya. Jabatannya kali ini adalah wakil kepala RSAL. Empat tahun kemudian, dia menjadi orang nomor satu di ladokgi. Di lembaga yang jadi rujukan tertinggi kedokteran gigi di TNI tersebut, Bambang juga ikut mengembangkan kedokteran gigi militer.

Ante Mortem Pasukan Elite TNI AL

Apa itu kedokteran gigi militer? Kedokteran gigi militer adalah satu bidang keilmuan yang menyiapkan dokter gigi untuk memiliki kualifikasi kemiliteran. Mereka akan bertugas menyiapkan layanan kedokteran gigi di arena pertempuran. Mereka bisa bertempur, sekaligus mengobati pasukan yang mengeluhkan sakit gigi.

Kesehatan gigi alias dental fitness di kalangan TNI AL sangat penting. Kondisi gigi yang tidak fit akan mengganggu kinerja mereka di lapangan. Penyelam, misalnya. Jika di gigi mereka terdapat tambalan yang tidak sempurna atau terdapat karies, mereka akan mengalami masalah saat menyelam. Sebab, setiap masuk pada kedalaman 10 meter, tekanan air akan bertambah.

Selain tu, Bambang ikut mendorong pendataan ante mortem pasukan elite TNI AL. Pasukan korps marinir seperti Taifib dan Denjaka serta para pilot didata susunan giginya. Total ada 12.000 personel yang sudah tercatat di ladokgi.  Prosesnya cukup lama. Sekitar empat tahun. Kedepan semua personel di tni al akan dicatat data ante mortem-nya.

Sebagai sosok yang di masa awal karir banyak  bertugas di Korps Marinir, Bambang juga ikut berperan dalam menciptakan peralatan kedokteran gigi lapangan. Yakni, sebuah alat dalam satu rangkaian tas punggung yang bisa melakukan semua pelayanan kedokteran gigi. Beratnya hanya 15 kg. alat tersebut berguna untuk operasi di derah terpencil yang tidak memungkinkan terdapat fasilitas lengkap. Dental unit lapangan –sebutan alat tersebut–terus dikembangkan agar hanya memiliki berat 12 kg. Saat ini alatnya akan dipatenkan. Bambang tak ingin karya asli TNI AL tersebut dipalsu pihak lain. sebab, konsepnya yang sederhana membuatnya mudah ditiru.

Sumber : Buku Jejak Langkah Ksatria Airlangga