Tidak Ada Jalan Yang Lurus Untuk Mencapai Jalan Yang Mulus Wednesday, 17 May 2017 01:54

     Terhitung sudah empat tahun, Andhito menjalankan usaha Vido Garment. Usaha ini merupakan singkatan yang diambil dari kedua nama penggagasnya yakni Alfian dan Andhito, keduanya merupakan alumni dari Universitas Airlangga. Vido Garment merupakan usaha yang bergerak di bidang konveksi pakaian seperti jaket, kaos, polo shirt, kemeja serta training. Beberapa perusahaan besar yang menggunakan jasa garmen milik pria 25 tahun ini adalah VAIO, Pertamina, Unilever, AISEC, Jawa Pos dan masih banyak lagi.

     Kemandirian yang diajarkan ibunya dan kebiasaan sejak dini mampu menuntun Andhito menjadi seorang wirausaha, bahkan dia menanamkan wirausaha sebagai hobi pada dirinya. Sejak di Sekolah Dasar, Andhito sudah biasa berjualan. Meskipun hanya berjualan es lilin yang dititipkan dan menjadi loper koran keliling. Hasil jerih payahnya mampu memberikan kepuasan tersendiri. Hal tersebut terus berlanjut di Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas. Dia mampu melebarkan sayap untuk melancarkan aksi berdagangnya.

     Ketika berada di SMA, Sophie Martin menjadi barang jajakan yang biasa dia pasarkan ke teman-teman sekolahnya, meskipun mayoritas barang yang ditawarkan milik kaum hawa. Tidak hanya itu, dia juga menjual barang apapun yang bisa mendapatkan keuntungan darinya. Dari gitar hingga sarung pernah menjadi barang dagangannya. Dia mengakui bahwa menjadi wirausaha merupakan tuntutan hati. Dia senang menjalani profesi sebagai wirausaha dan inilah jalan yang ditujukan Tuhan padanya.

     Ketika beranjak di bangku kuliah, takdir Tuhan mengantarkannya ke jurusan Manajeman, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Airlangga. Andhito menyadari bahwa kuliah bukanlah sarana untuk mencari pekerjaan, melainkan lebih dari itu. Dia meyakini bahwa kuliah akan membantu dirinya untuk mengembangkan pola pikir, mengembangkan relasi dan mengembangkan kemampuan diri. Berbagai profesi pernah dia jalani, dari jasa pemasangan iklan di jalan, pendiri penyetan airlangga – yang konon penyetan tersohor di seputar kampus B Unair sampai penggagas pusat usaha merchandise Universitas Airlangga dengan merek Un-Air.

     Kiprah Andhito tidak lepas dari peran PPKK Unair dalam membangun jati dirinya di bidang wirausaha. Usaha Un-Air merupakan usaha yang mendapatkan dana hibah dari PPKK senilai 25 juta rupiah. Andhito ikut serta dalam program tahunan bergengsi PPKK yakni Program Mahasiswa Wirausaha (PMW). “PPKK memberikan support luar biasa bagi mahasiswa dan PPKK merupakan induk wirausaha di Unair,” sebutnya. Andhito menyatakan bahwa seringkali PPKK membantu dirinya. “PPKK membantu mengembangkan potensi diri saya, beberapa kali saya diikutkan training bahkan hingga Malaysia dan Singapura, serta bantuan keuangan juga tidak luput dari mereka,” imbuhnya.

    Tidak ada jalan yang lurus untuk mencapai hasil yang mulus. Usaha yang sudah dijalankan mulai berjatuhan satu persatu meskipun tidak semuanya gagal. Berbekal pengalaman dan ilmu yang didapatkan dari training wirausaha, Andhito bersama kawan sejawatnya merintis usaha garmen dengan menjadi makelar. Pesanan-pesanan dalam bentuk sandang ia terima, selanjutnya dia lempar ke konveksi-konveksi besar yang sudah memiliki alat produksi. Sedikit demi sedikit, akhirnya Andhito mampu mengembangkan usahanya lebih mandiri. Berawal dengan mengajak seorang partner penjahit yang digandeng untuk membesarkan usahanya. Dua orang penjahit yang menjadi titik awal berdirinya Vido Garment ini, meskipun belum memliki alat produksi.

     Keberanian dan kemantapan hati Andhito dalam menggeluti bidang garmen ini semakin besar ketika pesanan semakin membludak hingga Andhito dan partnernya memutuskan untuk mendirikan sebuah perusahaan yang diberi label Vido Syariah Garment di tahun 2011. Kata Syariah ini merupakan bekal semangat perusahaan ini berdiri.

     Teringat ceramah Jum’at beberapa tahun lalu yang dipimpin oleh bapak Herman Rosyidi – seorang dosen  jurusan Ekonomi Pembangunan dan pakar Ekonomi Syariah dari Universitas Airlangga – menyampaikan, “Sistem ekonomi syariah ialah sistem perekonomian yang lebih baik dan mulia dari sistem-sistem lain yang ada di dunia ini”. Sontak ceramah tersebut mampu mengantarkan Andhito untuk menerapkan sistem syariah dalam usahanya. Dia mempercayai bahwa sistem yang dia pilih akan memberikan dampak terbaik bagi usahanya.

     Lantas dia mengaplikasikan sistem tersebut ke dalam proses transaksi usaha, seperti halnya menolak mark up atau nota kosong, tidak melayani pesanan dari perusahaan rokok, tidak ada peminjaman modal ke bank, tidak melayani pemesanan gambar makhluk hidup dan lain sebagainya.

     Sistem syariah tidak hanya diaplikasikan pada bentuk transaksi dagang saja, melainkan pada internal perusahaan. Andhito dan partnernya berusaha membiasakan nilai-nilai syariah melekat pada setiap tindak-tanduk para anggota perusahaan. Dia mengosongkan dua jam di hari Sabtu untuk mengadakan pengajian bagi pegawainya, menghentikan semua kegiatan ketika adzan berkumandang dan mewajibkan sholat berjamaah di Masjid dan lain sebagainya. Dia meyakini bahwa hal-hal di atas melancarkan bisnisnya. Terbukti 14 karyawan mampu dipekerjakan dan kepemilikan alat produksi sudah ditangan, seperti 8 mesin jahit besar, 4 mesin obras, 2 setrika uap, alat operasional bagi tim design dan lain sebagainya.

     Bekerja di bidang jahit menjahit, bukan berarti Andhito berbekal ketrampilan menjahit sebelumnya. Sebelumnya dia tidak begitu mengetahui cara menjahit hingga akhirnya dia melihat ada peluang yang menjanjikan untuk mendirikan usaha garmen, relasi yang jamak menguatkan tekad baginya. Dia mulai belajar men-design, belajar menjahit dan menyablon. Sehingga dia mampu memberikan arahan bagi pegawai-pegawainya dalam bekerja.

     Sejak 2011 berdiri, bukan jalan yang mudah dan singkat bagi Andhito dalam meniti perjalanan karirnya. Kesulitan yang sering dihadapi adalah seputar sumberdaya manusia dan faktor keuangan. Kesulitan ini tidak membuat Andhito dan kawannya gusar. “Kuncinya istiqomah, tekun dan ajeg dalam menjalankan usaha. Apapun yang terjadi harus tetap berjalan,” ujarnya. Dia juga menambahkan bahwa fokus juga merupakan hal yang harus diperhatikan dalam menjalankan usaha.

      Keberhasilan Andhito bertitik tolak pada usaha yang dijalankan harus memiliki manfaat bagi umat dengan tidak hanya berkutat pada untung. Berbekal syariat Islam usahanya berjalan, cara yang halal dia lakukan, pegawai faham agama dan menjalankan hukum Islam, tidak mengecewakan pelanggan, serta jangan sampai melalaikan apalagi menghilangkan Islam dalam keseharian.

Sumber : Buku Jejak Entrepreneur Universitas Airlangga