Pahit Manisnya Rejeki Dari Secangkir Kopi Tuesday, 30 May 2017 03:16

    Siapa yang tidak kenal angkringan saat ini? Salah satu warung laki lima khas Yogyakarta ini sudah tidak asing lagi bagi masyarakat luar Jogja. Saking terkenalnya sampai-sampai perkembangan angkringan ini meluas sampai keluar Jogja sendiri. Surabaya yang sebagai kota metropolis tak luput dari bermunculannya angkringan di jalan-jalan kaki lima. Tidak mau melewatkan kesempatan ini, Andi Restanto pun mendirikan sebuah angkringan. Mahasiswa jurusan Ekonomi Pembangunan ini memulai usahanya bersama 4 orang teman lainnya yang sama-sama anak ekonomi. Siapa sangka, usaha angkringan yang mempunyai label “Angkringan Klowor” ini mampu meraih omset 12-15 juta per bulan.

     Usaha yang bermula dari hobi nongkrong setelah usai kuliah ini membuat mereka mulai berpikir untuk membuat angkringan sendiri. “Awalnya terutama yang berlima ini sering cangkruk nongkrong tiap malam. Selesai kuliah nongkrong. Terus akhirnya berpikir kenapa tidak membuat cangkrukan sendiri padahal kita cangkrukan ini istilahnya tidak produktif. Akhirnya kami buat angkringan,” tuturnya. Dari situlah tepatnya 8 Maret 2013 Angkringan Klowor didirikan. Awalnya Angkringan Klowor bertempat di Jl. Kartini Sidorajo, selang beberapa bulan akhirnya pindah ke daerah Margorejo Surabaya.  Setelah sekitar 6-7 bulan di Margorejo akhirnya Angkringan Klowor pindah lagi ke daerah Semolowaru hingga sekarang  dikarenakan sewa tempat terus naik di daerah Margorejo tersebut.

     Sebelum memulai usaha kuliner khas Jogja ini, Andi memang sudah lebih dulu terjun di dunia wirausaha. Sejak semester 3 Andi sudah memulai usahanya dengan membuka penyewaan alat-alat untuk berkemah. Bekerja sama dengan temannya yang memiliki hobi yang sama pria kelahiran Mojokerto 28 Mei 1993 ini menyewakan alat naik gunung ke teman-temanya. Barang yang ia sewakan adalah barang koleksi milik pribadi. Tak lama berselang, usaha ini harus tutup karena partner Andi kuliah di Malang dan keuntungan yang didapat belum mampu memenuhi biaya yang dikeluarkan.

     Usaha angkringan ini merupakan hasil patungan antara 5 orang. Modal 2,5 juta menjadi bekal bagi Angkringan Klowor untuk memulai langkahnya. Banyak kendala yang dialami ketika menjalani usaha ini. Dari permasalahan soal sewa tempat yang terlalu mahal dan kurang strategis, pungli dari preman-preman sekitar lokasi dan sebagainya. Namun semua itu tak lantas membuat Andi semakin ciut, semangat dan kerja keras bersama teman-temannya telah menuai hasil.

    Angkringan klowor diakui Andi memang mengadopsi angkringan asli Jogja. Salah satu ciri khas angkringan ini adalah tidak adanya kopi instan yang dijual. “Memang sudah dari awal kami tidak mau menjual kopi yang biasa, artinya kami harus mengadopsi dari Jogja langsung.  Jadi di angkringan ini tidak ada yang namanya kopi instan, adanya kopinya racikan sendiri,” tutur pria kurus ini. Minuman mulai dari wedang jahe, kopi teh semuanya racikan sendiri. Ada yang unik tentang kopi yang dijual di Angkringan Klowor ini yaitu kopi ijo khas Tulungagung menjadi salah satu kopi andalan angkringan ini. Selain ada kopi ijo ada juga kopi hitam dan kopi susu. Khusus untuk kopi ijo Andi langsung mengambil dari suplier di Tulungagung. Selain minuman ada juga baceman. Ini dia yang selalu menjadi ciri khas dari angkringan. Berbagai macam baceman tersedia di sini. Saat ini Angkringan klowor telah memiliki 2 pegawai. “Ada 2 orang pegawai. Kalau dulu satu harus 2 orang yang ngontrol dari buka sampai tutup. Terus selesai hari raya ini kami hanya mengawasi dari sisi keuangan mungkin kesana dibagi 2-3 jam terus pulang,” tutur Andik.

     Berbicara mengenai tantangan yang dihadapi Angkringan Klowor, tentu tak sedikit berbagai hal yang telah dilewati. “Dari segi jajan sendiri, karena jajannya ini bukan dari suplier tapi kami beli. Jadi habis tidak habis ya sudah. Kalau tidak habis berarti kita yang menghabiskan,” tuturnya. Memang Angkringan Klowor tidak mengambil jajanan dari suplier, tapi angkringan ini khusus membeli pada salah satu orang. Selain itu kendala pegawai yang sering keluar atau berganti-ganti membuat Angkringan Klowor harus menyesuaikan lagi.

     Promosi melalui media sosial sering digencarkan oleh Angkringan Klowor untuk menarik minat konsumen. Selain itu kompetisi-kompetisi online seperti upload foto yang akan mendapatkan es teh gratis dan sebagainya. Selain mengandalkan media sosial, Angkringan Klowor juga melakukan pemasaran melalui keikutsertaannya di pameran-pameran dan menyebarkan brosur. Selain itu hiburan-hiburan seperti akustik sering dihadirkan untuk menarik minat konsumen. Ada juga gratis nasi kucing waktu itu ketika ulang tahun Klowor. Cara ini dinilai efektif untuk menggaet konsumen utamanya mahasiswa. Banyak mahasiswa yang datang seperti mahasiswa Unair, ITS, Unitomo dan Untag.

    Memang sudah menjadi rahasia umum jika usaha yang dijalankan bersama pastilah akan ada hambatan. Namun hal ini berhasil diatasi oleh Angkringan Klowor. Kesibukan kuliah dan kesibukan masing-masing sering kali menjadi masalah utama. Akhirnya Andi dan kawan-kawan memutuskan untuk mempekerjakan pegawai sebagai langkah untuk menyelesaikan permasalahan ini.

    Andi pun berharap bisa mengembangkan Angkringan Klowor ketika telah usai kuliahnya nanti. “Memang ini cuma sambilan, tapi kalau kami lulus dan mau fokus kesini ya kita mau buka cabang,” tutur Andi. Memang ketika berusaha haruslah mau dan mampu bekerja keras. Tidak ada usaha yang diperoleh secara instan tanpa usaha terlebih dahulu. Untuk memulai usaha tidak perlu berpikir macam-macam. Usaha bisa dimulai dari sesuatu yang gampang terlebih dahulu.

Sumber : Buku Jejak Entrepreneur Universitas Airlangga