Belajar Agent of Change Dari Nyamuk Monday, 12 June 2017 02:34

Karir Ermi di dunia kesehatan masyarakat merupakan perjalanan panjang dan berliku. Doktor lulusan School of Environmental Planning, Griffith University, ini menapaki dunia akademik sejak tamat SMS melalui jenjang pendidikan diploma tiga di Akademi Penilik Kesehatan Denpasar, Bali; Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Airlangga, Surabaya hingga lulus doktoral (Ph.D) dari Griffith University, Brisbane, Australia.

Aetelah tamat SMAN I Kupang 1989, Ermi merantau ke Bali. Dia melanjutkan pendidikan diploma III Kesehatan Lingkungan di Denpasar (tamat 1992). Setelah itu Ermi menjadi pegawai negeri sipil di Kantor Kesehatan Pelabuhan Dili, Timor Timur (saat ini Timor Leste) pada 1993-1997.

Merangkap Karyawan Suara Timor Timur

Ada yang menarik dalam perjalanan karir Ermi di Dili, Timor Timur. sebagai PNS, pada saat yang sama, dia bekerja sebagai karyawan harian umum Suara Timor Timur (STT). Harian ini kali pertama terbit pada 1 Februari 1993, bertepatan dengan pengadilan terhadap Xanana Gusmao. Manajemen Hu stt ketika itu di bawah kendali kelompok Kompas Gramedia (KKG) melalui persda (Pers Daerah).

Bekerja di dua tempat membuat Ermi harus mampu membagi waktu. Sebagai PNS di pagi hari dan karyawan surat kabar harian yang berburu dengan deadline waktu terbit detik per detik di malam hari.  

Selepas dari Dili, Ermi melanjutkan pendidikan sarjana kesehatan masyarakat di FKM Universitas Airlangga pada 1997. Kuliahnya diselesaikan pada 1999.

Pengalaman sebagai pekerja pers di Dili, Timor Timur, membawa Ermi ikut aktif sebagai anggota pers Mahasiswa (Persma) Senat Unair. Bersama teman Persma Unair dia menerbitkan Majalah Suara Airlangga atau Suga. Suga saat itu merupakan salah satu majalah kampus yang disegani.

Suga menjadi referensi aktivis kampus selama masa reformasi. Sebab, berita-berita yang diturunkan terkait dengan gerakan reformasi mahasiswa untuk menumbangkan rezim Orde Baru.

Ermi patut dicatat sebagai mahasiswa berprestasi ketika di FKM. Selain aktivis, dia menjadi wisudawan terbaik Unair 1999. Predikat sebagai itu diraih untuk kategori mahasiswa tugas belajar pada FKM Unair.

Pernah Mendampingi 200 Anjal di Surabaya

Bagi Ermi, dua tahun belajar di Unair dan tiga tahun hidup di Surabaya merupakan waktu yang singkat. Namun, itu tidak menjadi penghalang baginya untuk menimba ilmu dan pengalaman sebanyak-banyaknya.

Misalnya, di sela-sela kesibukan sebagai mahasiswa, Ermi aktif bekerja sebagai pendamping anak jalanan (anjal) pada Yayasan Insani. Yayasan ini mendampingi anak jalanan di Kota Surabaya. Perintisnya adalah salah satu dosen FKM, Dr. dr. Sri Adiningsih, MNC.

Di bawah bimbingan Bu Dien, sapaan dokter Sri Adiningsih, ermi mendampingi anak jalanan di Dupak, Tugu Pahlawan, Siola, dan Wonokromo. Kurang lebih 200 anak jalanan yang didampingi ermi dan teman-temannya.

”Pengalaman mendampingi anjal merupakan pengalaman yang tidak pernahterlupakan,” kata Ermi.

Menurut Ermi, ada pelajaran berharga yang bisa dipetik. Yakni, tentang kehidupan yang keras di kota besar dan bagaimana anak-anak jalanan menumbuhkan survival skill mereka. itu mungkin tidak pernah ada dalam teksbook manajemen kehidupan mana pun di dunia. ”Pengalaman bersama anak jalanan juga memberikan inspirasi bagi saya. Yakni, menjadi tema skripsi yang berjudul ”Perilaku Seksual Anak Jalanan Kota Madya Surabaya”.

Bahkan, skripsi Ermi menarik perhatian Jawa Pos. Karena itu, Jawa Pos menuliskan pengalaman Ermi bersama anak jalanan secara bersambung selama tiga hari  (Jawa Pos, 9, 10, dan 11 Oktober 1999).

Selesai dari FKM Unair, seiring dengan ”lepasnya” Timor Timur dari pangkuan RI, Ermi pindah dari KKP Dili ke Kupang dan bekerja di Dinas Kesehatan Provinsi NTT. Kembali kepada kebiasaan lama, walau aktif bekerja sebagai PNS, panggilan dan hobi jurnalistik tetap mengalir dalam darahnya. Di sela-sela kesibukan dan rutinitas kantor, ermi bekerja di harian Surya Timor dan Sasando Pos. Dua surat kabar harian yang sempat terbit selama beberapa tahun di Kupang.

Di lingkungan Dinkes Provinsi NTT, Ermi aktif membina dan menerbitkan buletin epidemiology NTT yang menyajikan berita dan riset-riset kesehatan di Provinsi NTT.

Pada saat bekerja sebagai PNS di Dinkes Provinsi NTT, Ermi mendapat beasiswa untuk melanjutkan pendidikan Master of Science in Public Health (MScPH) di Griffith University, Brisbane, Queensland, Australia pada 2001. ”Saya menyelesaikan studi Master of Scince in Public Health tahun 2002,” katanya.

Setelah menamatkan program masternya, Ermi dikontrak menjadi tenaga dosen pada School of Public Health, Griffith University selama dua periode, 2003–2005 dan 2008–2009.

Pada 2005 dia berhasil mendapatkan beasiswa dari Griffith University untuk program doktoral pada Griffith School of Environmental Planning. “Saya lulus pada 2009,” lanjutnya.  

Panggilan untuk kembali berkarya di Indonesia membuat Ermi memutuskan pulang ke tanah air setelah 9 (sembilan) tahun (2001–2009) menetap di Brisbane –kota yang menjadi ”rumah keduanya”. ”Brisbane mengajarkan kepada saya banyak hal, baik dalam akademik dan kehidupan di luar negeri. Harus penuh dengan semangat kemandirian dan profesionalisme tinggi,” tegas Ermi mengenang masa studinya di Brisbane.

Cinta Almamater

Ermi mengaku perjalanan karir dan akademiknya banyak dibentuk dari kontribusi dosen dan almamater tercinta, Universitas Airlangga –di kampus yang terus berbenah dan berambisi menjadi salah satu World Class University.  

Mimpi Unair masuk dalam 500 universitas terbaik di dunia bukan hal yang mustahil. Unair memiliki sumber daya yang hebat. Support civitas akademia, dosen-dosen yang profesional, fasilitas kampus yang lengkap dan bermutu, iklim penelitian yang makin terbuka dengan publikasi-publikasi yang bermutu, memberikan optimism tinggi. ”saya yakin suatu saat unair pasti bisa meraih mimpi  tersebut,” ujarnya.

Unair bukan universitas ”menara gading”, tapi universitas yang mampu memberikan kontribusi  nyata bagi pembangunan indonesia. Banyak lulusan unair yang menjadi orang penting dalam mendesain bangsa ini ke depan.

Melalui proses yang matang selama masa pendidikan di bangku kuliah, kesempatan yang terbuka luas untuk mahasiswa dan dosen untuk mengembangkan, kemampuan networking di dalam dan keluar negeri dengan ”Leading World Class University” dia yakin unair akan menjadi perguruan tinggi yang disegani. Tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga menjadi etalase pendidikan tinggi Indonesia di mata dunia.

Gabung ke UNICEF

Selepas dari Griffith, Ermi bergabung dengan UNICEF Indonesia pada tahun 2010. Dia didaulat menjadi Health Officer untuk program malaria dan  imunisasi pada UNICEF Field Office Kupang.

Selama berkarya di UNICEF dan selama mahasiswa, Ermi banyak melakukan penelitan tentang nyamuk, terutama nyamuk anophles pembawa parasite malaria.

Dari nyamuk Ermi belajar tentang agen perubahan atau ”agent of change”. Seperti pepatah Africa ”If you think you are too small to make a difference, you never spent a night with a mosquito”. Demikian filosofi hidup dan kerja Ermi. Tidak perlu menjadi besar untuk membuat perubahan. Karena itu, jadilah selalu agen perubahan di mana pun berada.

Ermi saat ini hidup bahagia di Kupang bersama sang istri, Wanti, yang juga alumnus FKM Unair. Wanti sehari-hari menjadi dosen pada Jurusan Kesehatan Lingkungan, Politeknik Kesehatan, Kemenkes RI, di Kupang.

Saat ini Wanti juga tercatat sebagai mahasiswa pascasarjana (S-3) Unair. Ermi dan Wanti dikaruniai dua putra: Amadeus Jacaranda Christina atau Jaca (14 tahun) dan Avatar Sargamantha atau Arga (12 tahun). Jaca sudah di kelas 10 (SMA Dian Harapan Kupang) dan Arga kelas  8 di SMP Lentera Harapan  Kupang.

Sumber : Buku Jejak Langkah Ksatria Airlangga