Berawal Dari Hobi dan Berlanjut Menjadi Wirausaha Monday, 12 June 2017 02:50

     Indonesia memang merupakan surganya rempah-rempah. Dari ujung timur hingga ujung barat banyak berbagai jenis rempah-rempah yang bisa kita temui dengan sejuta manfaat dan khasiat yang berbeda-beda. Hal inilah yang coba dijadikan sebuah peluang usaha bagi Mohammad Arif Santoso. Melihat melimpahnya hasil rempah-rempah di daerahnya, laki-laki asal Banyuwangi ini pun mencoba mengolah rempah-rempah tersebut menjadi sesuatu yang bisa dinikmati semua kalangan. Ia ingin menghilangkan rempah-rempah yang selama ini selalu identik dengan minuman jamu dan kurang diminati oleh kalangan anak muda. Hal ini sekaligus menjadi langkahnya untuk mewujudkan impiannya menjadi seorang wirausaha.

     Berawal dari melimpahnya rempah-rempah di daerah asalnya Arif mencoba hal yang tidak biasa dari rempah-rempah tersebut. RJT (Rempah Jowo Tea) merupakan sebuah trademark yang coba di hadirkan oleh Arif untuk menjadi branding dari olahan rempah-rempah yang sekarang ia kembangkan. “Yang dipilih itu ada 6 rempah-rempah yang saya kembangkan. Ada temulawak, kayu manis, kayu secang, kemukus, kapulaga dan kayu secang” ujar arif.  Ada 2 jenis produk yang ia tawarkan disini yang pertama RJT dalam bentuk teh kantong dan RJT dalam bentuk minuman siap saji. Perpaduan antara teh hijau dengan rempah-rempah merupakan suatu hal yang tidak biasa menurutnya. Hal yang tidak biasa inilah yang menjadi daya tarik akan produk yang dikembangkan pria alumni matematika UNAIR ini.

     Produknya yang pertama adalah kantong seduh perpaduan antara teh hijau dengan rempah-rempah yang dipadukan sedemikian rupa sehingga menjadi sebuah teh celup. Produk yang sasaran awalnya semua umur ini ternyata belum mampu menarik minat para konsumen muda. Produknya ini banyak masuk ke pangsa pasar orang tua di kisaran umur 35 tahun ke atas. Targetnya untuk mampu mengangkat derajat rempah-rempah dan produk herbal di kalangan anak muda bisa dibilang belum menampakkan hasil. Mencoba berinovasi ulang Arif pun menciptakan sebuah produk yang bisa di terima anak muda. “Produk minuman tapi memang tidak identik dengan minuman yang khas herbal banget jadi dikemas lebih modern” tambahnya. Akhirnya tercetuslah Rempah Jowo Tea dalam bentuk minuman botol ini.

     Minuman yang satu ini merupakan perpaduan antara teh hijau, susu, dan juga rempah-rempah. Konsep minuman dengan varian rasa yang berbeda pun dihadirkan oleh arif sebagai daya tarik bagi anak muda. Di luar dugaan ternyata minuman ini banyak diminati dan diterima oleh kalangan anak muda. “Ketika mereka kita edukasi kita kampanyekan minuman kesehatan berasal dari rempah-rempah ternyata anak-anak ini banyak yang suka. Mereka merasa “is okey gak masalah kok, gak kalah daripada minuman-minuman botol yang lain”, tandasnya. Keberhasilan dari inovasinya ini kini telah membuahkan hasil. Setidaknya tiap bulannya Arif mampu memproduksi hingga 2.000 botol dengan omset mencapai 10 juta per bulan. Bahkan produknya telah tersebar hingga keluar Surabaya seperti di Sidoarjo, Jombang, Banyuwangi, dan Jember. Demi menjaga kualitas dan higienitas berkat bantuan PPKK pula produk milik Arif ini bisa dipastikan memang bebas dari bakteri karena telah melewati penyinaran UV.

     Pada awal mulanya usaha ini memang ia mulai sendiri. Seiring dengan berkembangnya RJT, kini Arif tidak berjalan sendirian, arif merekrut beberapa karyawan untuk membantunya menjalankan usaha ini. Tempat produksi yang berada disebuah kontrakan di Jl. Jojoran ini per hari mampu memproduksi hingga 200 botol. “ Jadi saya merekrut kawan-kawan untuk bagian produksi, kalangan mahasiswa yang sudah semester akhir kalau enggak saya rekrut jadi produksi terus saya gaji kemudian ada teman saya yang memang ingin berkontribusi juga di RJT untuk ikut marketing dan ikut sebisa mungkin” ujar Arif. Menjadi kebanggaan tersendiri bagi Arif ketika mampu membagi rezeki yang ia dapat dari RJT bersama dengan yang lain. Bukan hanya berhenti pada karyawan saja, saat ini ada lebih dari 10 reseller yang bergabung untuk memasarkan produk miliknya. “Otomatis orang reseller ini juga kecipratan rezeki dari  apa yang saya kerjakan. Otomatis entrepreneur itu bukan hanya saya tapi juga reseller saya” ucapnya.

     Usut punya usut bakat dagang atau usaha ini memang bukan didapat secara instan. Arif pun mengakui dari TK ia sudah mencoba berjualan. Arif mengakui memang hidupnya tidak jauh dari wirausaha karena background orang tua yang notabene merupakan wirausahawan. Hidup di tengah keluarga yang demikian Arif kecil pun sudah terbiasa dengan dagang. Sejak TK arif memang sering berjualan mainan anak-anak kala itu. “Saya paling ingat ketika TK jualan lotre. Karena rame-ramenya saya ingin jualan saya taruh depan rumah saya. Kayak begitu saya pasang. Kemudian setelah itu gak musim lotre, musimnya yang “jabutan” saya bikin sendiri yang hadiahnya ada stiker, ada mie, itu bikin sendiri. Musim layangan bikin sendiri lalu saya jual” ujarnya sambil tertawa.

     Saat ini kampanye sambil promosi produk kesehatan “RJT” terus ia gencarkan baik melalui media sosial ataupun yang lain. Bahkan Arif menargetkan untuk mampu menembus produksi hingga angka 1000 botol perhari. Meskipun bisa dibilang usaha yang ia jalankan ini di bidang red ocean karena sangat banyak produk disana ia tetap optimis dengan pilihannya ini. Segudang inovasi pun telah ia siapkan untuk mampu bersaing dan menghadirkan produk “jamu” yang akrab di lidah masyarakat. “Mengembangkan rempah-rempah ini bukan hanya stagnan di minuman herbal saja tetapi ketika nanti ada rezeki lebih saya masih ada banyak inovasi-inovasi yang saya simpan” tegasnya.

    Bagi Arif memilih jalan menjadi seorang wirausaha bukan lah jalan yang mudah tetapi bukan juga jalan yang sulit. Menurutnya selama ada bakat dan tekad untuk berwirausaha terjunlah di bidang wirausaha. Tapi kalau hanya setengah-setengah lebih baik tidak meneruskan niat tersebut. Wirausaha bukanlah suatu hal yang hasilnya bisa diperoleh satu atau dua tahun tapi butuh waktu untuk bisa di raih.

Sumber : Buku Jejak Entrepreneur Universitas Airlangga