Dari Hipmi Kota Batam ke Menpan-RB Thursday, 15 June 2017 02:22

Menpan-RB Asman Abnur, S.E., M.Si. tidak pernah punya persiapan khusus untuk meniti karir dengan tujuan khusus. Dia mengaku setiap langkah dalam karir, profesi, dan pekerjaan dijalani dengan biasa saja.

Setelah menyelesaikan tingkat sarjana di Fakultas Ekonomi Universitas Ekasakti Padang pada 1988, Asman sudah menjadi pelaku usaha. Dia berwiraswasta. “Itu saya jalani sejak 1984 ketika saya masih kuliah D-3 di Fakultas Ekonomi Universitas Andalas,” tuturnya.

Waktu terus bergulir. Era silih berganti. Memasuki periode 1990, Asman hijrah ke Kota Batam. Dia meneruskan bisnisnya di kota yang bertetangga dekat dengan Singapura itu.

Pada 1993 Asman menjadi anggota Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HPMI) Kota Batam. selanjutnya, dia terpilih menjadi ketua Kamar Dagang dan industri (Kadin) Kota Batam pada 1997.

Dari pengusaha ke politik. Barangkali itu potret sebagian perjalanan karir pria jangkung berusia 55 tahun ini. Dia menjadi anggota Partai Amanat Nasional (PAN). Dari pan pula Asman terpilih menjadi anggota DPRD Kota Batam. Itu terjadi pada 2001. “Pada tahun 2001 itu pula saya terpilih menjadi wakil wali kota Batam,” tegasnya.

Melalui pemilu 2004, Asman mulai masuk parlemen. Dia terpilih menjadi anggota DPR. “Saya jadi wakil ketua Komisi XI 2004–2009,” ujarnya. Pada 2009 dia terpilih lagi menjadi anggota DPR RI. Saat itu Asman menjadi wakil ketua Komisi X.

Setelah kembali terpilih menjadi anggota DPR pada pemilu 2014, Asman dipercaya fraksinya (F-PAN) menjadi wakil ketua Komisi IX (2015).

“Tanggal 17 Juli, saya diangkat presiden Joko Widodo menjadi Men-PAN RB,” kata pria kelahiran Pariaman, Sumatera Barat ini.

Unair Harus Rekrut Profesor Asing Kelas Dunia

Asman memiliki filosofi hidup sederhana saja. “Berbuat lebih maju dari sebelumnya.” Namun, dalam menjalankan semua pekerjaannya, hal yang terus dilakukan Asman adalah membuat terobosan dan inovasi. “Tapi juga dinamis,” tuturnya.

Misalnya, kata dia, saat ini di Kemenpan-RB, terus dilakukan penataan aparatur sipil negara (ASN). Mulai rekrutmen, pelatihan, hingga pendidikan dibuat sistem yang inovatif.

Akan halnya Unair yang ingin masuk dalam jajaran 500 perguruan tinggi kelas dunia, Mantan anggota DPR ini setuju 100 persen. Tetapi, Unair harus melakukan terobosan.

“Misalnya, berani merekrut profesor asing, baik dari luar Unair maupun luar negeri. Harus menghadirkan profesor kelas dunia pula,” sarannya. Birokrasi Unair juga berbelit-belit. Harus bisa menyederhanakan sistem dalam menyelesaikan studi. “Misalnya menerapkan e-learning,” kata menteri anggota kabinet kerja yang hobi jogging pagi ini.

Sumber : Buku Jejak Langkah Ksatria Airlangga