Tugas Terberat Menangani Visum Korban Kekerasan Monday, 19 June 2017 02:18

Akhir 2011 memberi pengalaman luar biasa bagi dr. Didi Agus Mintadi, Sp.Jp, DFM. Belum lama menjadi kepala RS Bhayangkara sekaligus Kabiddokkes Polda Jatim, dia diserahi tanggung jawab memimpin penanganan 84 jenazah imigran gelap asal Timur Tengah yang tenggelam di perairan Trenggalek.

Dia memimpin tim Disaster Victim Identification (DVI) Indonesia Regional Tengah. Meski tidak mudah, akhirnya hampir seluruh jenazah teridentifikasi. Beberapa keluarga ada yang meminta jenazah dipulangkan ke Negara asal. namun,  mayoritas dimakamkan di Surabaya.

Rumah sakit memang tidak bisa dipisahkan dari perjalanan karir Didi. Hampir seluruh karirnya dihabiskan untuk memimpin RS. Meski demikian, setelah lulus dari pendidikan dokter, dia bekerja di Badan Koordinator Kontraktor Asing atau BKKA (belakangan berganti menjadi BP Migas sebelum akhirnya dibubarkan) selama sembilan bulan.

Pria kelahiran Purworejo, Jateng, itu baru masuk ke kepolisian pada agustus 1988. Ada dua alasan mengapa dia memutuskan berkarir di kepolisian. pertama, polisi tidak perlu ikut berperang seperti ABRi (TNI). Selain itu, sejak awal Didi memprediksi bahwa lembaga kepolisian ke depan akan berkembang dan lebih banyak berhubungan dengan masyarakat.

Prediksinya tepat. Kala itu, personel kepolisian hanya berkisar 100 ribu. Kini personelnya sudah mencapai sekitar 430 ribu. Akhirnya kepolisian juga lepas dari ABRI. Selepas pendidikan polisi selama tujuh bulan, pada 1989 dia ditugaskan memimpin sebuah RS kecil di tebing tinggi, sumatera utara.

RS tersebut memang belum lama dibuka. Bahkan, saat Didi datang, RS itu tidak punya tempat tidur. Setelah diupayakan, akhirnya RS tersebut punya 12 tempat tidur. Pasien mulai datang. RS juga berkembang. Enam tahun kemudian terdapat sekitar 60 tempat tidur.

Didi lalu dipindahkan ke RS kepolisian di Kediri. Atas sentuhan tangannya, RS ini juga berkembang. selepas dari Kediri, dia dipindahkan ke RS Bhayangkara di Makassar. Dia dipindahkan lagi ke RS Bhayangkara di Medan sebelum akhirnya bertugas di Surabaya. Dokter 56 tahun itu lalu ditarik ke Mabes Polri pada 2012 dan enam bulan kemudian ditugaskan memimpin RS Polri.

Dalam tempo empat tahun, Didi dan timnya menaikkan daya tampung RS Polri dua kali lipat. Dari 400 tempat tidur menjadi 800 tempat tidur. pendapatan RS Polri juga naik sampai tujuh kali lipat saat ini, terhitung sejak pertama dia menjabat.

Ketika menjadi kepala RS Polri, dia kembali mendapat pengalaman menangani identifikasi imigran gelap yang tenggelam di perairan Cianjur. Menurut dia, tugas terberat dalam memimpin RS Polri adalah saat timnya harus menangani visum. Baik pencabulan, sodomi, hingga kasus kopi sianida dengan terdakwa Jessica Kumala Wongso.

Mantan Resimen Mahasiswa

Semasa kuliah, Didi sebenarnya tidak terlalu menonjol. Bahkan, dia sempat tinggal kelas di tingkat empat. Menurut dia, mahasiswa kedokteran saat itu secara tidak langsung terbagi menjadi dua golongan. Sekitar 60 persen benar-benar fokus belajar. alhasil, mereka punya kekurangan dalam hal interaksi sosial. sebab, mereka tidak banyak bergaul dengan dunia luar.

Didi termasuk golongan yang 40 persen. Saat mahasiswa, dia aktif di Resimen Mahasiswa dan Senat. Di luar kampus dia juga aktif di Kosgoro. Dari situ dia banyak bertemu orang dan mengikuti berbagai kegiatan sosial. salah satunya, kegiatan di Forum Komunikasi Putra-Putri Purnawirawan ABRI (FKPPI).

Pengalaman organisasi itulah yang membentuk karakter dirinya. Karena itu, ketika sebagian rekannya memilih berkarir sebagai dokter di ABRI, Didi tetap yakin untuk mengabdi di Polri yang saat itu dianggap kurang keren. saat bertugas di polri, dia berkesempatan mengambil pendidikan dokter spesialis.

Dia juga mengaku cukup beruntung bisa memulai karir dari bawah dan ditempatkan di berbagai daerah. Dia dituntut mampu menyesuaikan diri ketika berada di Sumatera, kembali ke Jawa, lalu bertugas di Makassar, hingga akhirnya seperti saat ini. Dia menapaki karir mulai Rs tingkat IV, III, II, hingga tingkat I.

Ayah tiga anak itu berharap Unair bisa mengejar ketertinggalan dari universitas lain di Indonesia. Sebagai contoh, FK Unair merupakan salah satu FK tertua, selain universitas Indonesia. Namun, dalam perkembangannya, FK Unair tertinggal. saat universitas lain mengembangkan kurikulum enam tahun, Unair tetap menggunakan kurikulum tujuh tahun delapan bulan.  

Selain itu, Unair terlalu percaya diri dan kurang komunikatif terhadap dunia luar. Alhasil, sangat sedikit dekan atau rektor yang menjadi Dirjen atau bahkan menteri di tingkat pusat. Unair menghasilkan banyak ahli, namun sangat sedikit praktisi. unair harus berpikir lebih terbuka dengan perkembangan yang ada saat ini. Jangan merasa paling hebat.  

Kemudian, beri kesempatan anak muda untuk memimpin. tidak sedikit universitas yang saat ini dekan atau bahkan rektornya masih berusia muda. Harus  ada keikhlasan dari para akademisi senior untuk mau dipimpin oleh yang muda.  Tak perlu ragu untuk menempatkan akademisi usia 30 tahunan  untuk menjadi dekan atau rektor.

Sumber : Buku Jejak Langkah Ksatria Airlangga