Berawal Dari Hobi Dan Berlanjut Menjadi Wirausaha Monday, 03 July 2017 07:26

Arif Syaifurrizal, siapa mahasiswa UNAIR yang tidak familiar dengan nama itu? Iya dia adalah ketua BEM UNAIR tahun 2012-2013 yang berasal dari Fakultas Perikanan dan Kelautan. Mahasiswa angkatan 2010 ini sangat aktif dalam bidang pergerakan mahasiswa baik di dalam universitas, regional, maupun nasional. Pengetahuan tentang pergerakan didapatnya dari banyak membaca buku sejarah, pergerakan, dan buku yang ber-genre perjuangan, hobi tersebutlah yang merupakan salah satu faktor pendorong beliau memulai bisnis yang sekarang sedang dijalankan. Bisnis buku literasi tentang pergerakan lah yang dipilih oleh beliau sebagai bisnisnya, took buku Perjuangan namanya.

Buku perjuangan awalnya bergerak secara online, di mana penjualan buku dilakukan sesuai pesanan dan dikirimkan ke alamat tertentu. Toko buku yang berada di Jl. Gubeng Kertajaya VE/12 Surabaya tidak hanya digunakan sebagai lapak menjual bukusaja, akan tetapi juga merupakan tempat untuk kegiatan diskusi. Diskusi secara rutin ini dilakukan setiap hari minggu sore dengan menggunakan Bahasa Inggris. Dengan modal yang mulai terkumpul took buku perjuangan berkembang menjadi agen buku pergerakan di seluruh Indonesia.

Sudah tujuh bulan berselang, atau lebih tepatnya pada awal Februari 2015 Toko Buku Perjuangan resmi memiliki badan usaha untuk penerbitan buku. Nama Pustaka SAGA Jawa Dwipa yang berarti SAGA adalah Kesatria Airlangga di Jawa Dwipa. Dalam kurun waktu tujuh bulan penerbitan Pustaka SAGA telah menerbitkan kurang lebih 5-6 buku tentang pergerakan dan inspirasi yang kebanyakan ditulis oleh mahasiswa-mahasiswa aktivis penggerak dan berprestasi.

Sebelum memulai usahanya dalam bidang literasi, ternyata Arif Syaifurrizal juga pernah menjalani usaha kuliner semasa menjadi mahasiswa. Kuliner yogurt yang menjadi pilihannya, Yogurt Pelangi merupakan jajanan yang cukup terkenal di kalangan mahasiswa UNAIR. Akan tetapi Arif merasa tidak cocok dalam produksi kuliner, karena harus memikirkan produksi setiap harinya dan di tengah sibuknya menjadi mahasiswa akhir yang sedang mengerjakan skripsi, sehingga harus menutup usaha tersebut. Pada masa semester akhir setelah usahanya ditutup Arif merasakan keadaan yang sama seperti saat awal mahasiswa yang tidak memiliki uang sama sekali.

Hal yang digemari Arif adalah membaca dan membeli buku bekas maupun baru secara online, yang memberikan keputusan untuk menjual buku secara online. Dengan modal uang Rp 150.000, Arif membeli buku di Jalan Semarang Surabaya dan membuat akun facebook dari situlah bisnis penjualan buku berlangsung. Dalam dua pekan uang semula Rp 150.000 berkembang menjadi uang  Rp 1.000.000. Hingga empat bulan menjelang lulus dari UNAIR dalam rekening Arif tersisa uang sebesar 10.000.000. Uang tersebut digunakan Arif untuk menikah. Menurut Arif perputaran uang dalam bisnis buku lebih cocok dibandingkan harus berbisnis di bidang kuliner.

Dalam merintis usaha buku ini tidak lepas dari fluktuasi bisnis juga, banyak kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh Arif. Karena bisnis ini dimulai dengan otodidak, Arif mengaku bahwa masih kesulitan dalam jaringan. Ditambah lagi dengan latar belakang seorang aktivis maka jaringan penerbit pun belum didapatnya. Tetapi dengan perjuangannya dalam satu tahun kemudian pustaka SAGA diminta untuk mengisi bedah buku di acara Islamic Book Fair. Dari perjuangan tersebut Arif merasakan yang sebelumnya belum percaya bahkan dihina-hina akan tetapi lama kelamaan dapat dipercaya sebagai penerbit.

Pustaka Saga sendiri memiliki genre buku-buku pergerakan danperjuangan, baik politik sosial, humaniora. Meskipun toko bukunya masih kecil dan di gang-gang tengah kota Surabaya, tetapi ketika ada aktivis atau pecinta buku-buku unik datang ke temapt ini pasti bagaikan menemukan harta karun yang telah lama hilang. Buku-buku unik itupun didapatkan dari penerbit-penerbit yang memang khusus atau banyak menerbitkan buku-buku berat.

Menurut Arif sendiri toko buku memiliki tujuan untuk memberikan bacaan-bacaan yang berkualitas dan belum dapat atau bahkan masih sulit diakses di Surabaya sendiri. Arif sendiri mengaku bahwa di Surabaya memang masih sedikit buku-buku literasi yang belum masuk, sehingga dapat menghadirkan buku-buku yang masih sulit diakses di toko bukunya menjadi salah satu kepuasan tersendiri baginya. Kedepannya ketika orang ingin mencari buku dengan genre pergerakan maka akan langsung mengarah ke toko buku yang dimiliki oleh Arif ini. Harapan untuk membuka toko buku yang lebih besar juga ada di benak Arif, akan tetapi beliau lebih memilih untuk pelan-pelan dalma mencapainya. Pandangan kedepannya untuk distributor sendiri dapat mendistribusikan buku ke seluruh Indonesia ke agen-agen di kota-kota besar.

Penerbitan SAGA sendiri menurut Arif memiliki pandangan besar kedepannya. Pustaka SAGA sendiri tujuannya memang untuk menerbitkan tulisan-tulisan dari aktivis mahasiswa UNAIR atau Jatim. Sehingga mengangkat wacana pinggiran ke tingkat nasional. Ketika dahulu penerbit yang terkenal adalah dari ITB dan UGM yang sekarang ini mulia meredup, hal inilah yang juga membuat Arif ingin SAGA menjadi rujukan buku-buku pergerakan mahasiswa.

Arif juga mendirikan SAGA center yang didalamnya adalah mahasiswa-mahasiswa yang dilatih secara jurnalistik agar dapat percaya diri menerbitkan tulisannya minimal skripsi mereka yang yang bisa terbit. Selain itu juga SAGA sudah memiliki program Pusat Studi Globalisasi dan Gerakan (PUSGLORA) yang konsen dalam melakukan kajian pola pergerakan mahasiswa di jaman global. Dengan program-program tersebut Arif ingin membangun siklus penjualan buku yang menimbulkan budaya membaca, lalu melakukan forum di PUSGLORA sehingga dapat berdiskusi dari apa yang dibaca, ekmudian dilanjutkan dengan SAGA Center untuk proses penulisan, dan lalu diterbitkan untuk dijual kembali sehingga dapat menimbulkan siklus pergerakan intelektual yang berkembang.

Ketika gerakan intelektual ini berjalan, maka kedepannya akan lebih dikembangkan dalam hal penerjemahan, sehingga buku-buku asing diterjemahkan dengan memberdayakan mahasiswa ahli bahasa. Dari gagasan tersebut Arif ingin intelektualitas dapat berputar dan berkembang denga baik. Dari sistem pergerakan seperti inilah yang membawa omset 15 juta perbulan.

Dalam hal pemasaran sendiri Arif mengaku kalau sangat terbantu oleh teknologi yang sudah berkembang saat ini. Bahkan dari teknologi Papua, NTT, Maluku dan bahkan ada yang berminat menjadi agen di Maluku karena minim sekali buku seperti ini. Arif menuturkan bahwa persebaran buku mayoritas sekitar 80% masuk di JABODETABEK, baru sisanya yang 20 % tersebar di seluruh Indonesia, yang tidak menutup kemungkinan banyak terserap di Jawa.

Sumber : Buku Jejak Entrepreneur Universitas Airlangga