Hambatan, Terlalu Kecil Untuk Membuat Kakinya Berhenti Melangkah Monday, 17 July 2017 01:53

Menjadi seorang pegawai bukan merupakan impiannya, begitu pula duduk di belakang meja kantor dengan seragam bukan pula harapan baginya. Meskipun keluarga sudah menggariskan, namun Astrid berlainan. Begitulah garis hidup yang dirajut oleh wanita tangguh 22 tahun ini. Jejak karier orang tua dan kedua kakaknya tidak menuntun dirinya berjalan sesuai arus. Bagi anak bungsu dari tiga bersaudara ini, berwirausaha bukan pilihan melainkan sebuah keharusan. Arus tantangan dalam wirausaha mampu menantang adrenalin yang mampu memberikan makna hidup sebenarnya. Teringat pesan seorang yang berarti bagi Astrid, sosok mulia yang tidak musnah oleh gerusan zaman, Rasulullah SAW. Pesan yang menjadi tegaknya kaki Astrid untuk melangkah sebagai wirausaha adalah “Sembilan dari sepuluh pintu rezeki ada di berdagang”.

Kondisi perekonomian yang berlebih tidak menjadikan gadis berkacamata ini tumbuh menjadi anak yang manja. Astrid tumbuh bersama kedua kakak lelakinya yang membuat dirinya berkembang menjadi gadis tomboi. Masa kecil Astrid tidak menyukai jepit dan pernak-pernik yang berbau wanita, dia lebih senang jika lacinya bersih. Lantas jepit dan pernak-pernik menjadi barang yang didagangkan kepada teman sekelasnya.

Astrid kecil juga suka membuat handmade berbentuk notes dari bahan-bahan buku tulisnya serta buku pelajarannya. Merasa risih dan terganggu dengan hal itu, Astrid kecil berinisiatif untuk menjualnya. Meskipun hanya seharga seratus rupiah untuk setiap notes-nya, dia sudah mendapatkan untung dan bahagia. Kedua orang tuanya merasa keheranan dengan tingkah anaknya. Meskipun kedua orang tua nya tidak melarang Astrid untuk berjualan, namun ‘tidak berlebihan’ menjadi pesan kedua orang tuanya.

Ketika berada di bangku kuliah, dia dikenalkan dengan Pusat Pembinaan Karir dan Kewirausahaan (PPKK) di Unair. Dia mengakui bahwa melalui PPKK inilah impian berwirausahanya bisa terealisasi. Dia baru mendapatkan juara dan didanai Rp 5.000.000 oleh PPKK atas rencana usahanya pada keikutsertaannya yang kedua kali dalam program PMW.  Jagung Station merupakan usaha yang menjadi titik awal perjalanannya dalam dunia wirausaha. Berkat PPKK, Jagung Station juga mendapatkan juara dalam ajang bergengsi se-Nasional yakni Gerakan Kewirausahaan Nasional yang diselenggarakan oleh Kementerian Koperasi dan UKM tahun 2011. Dalam ajang tersebut Astrid bersama rekannya mendapatkan dana sebesar 25 juta rupiah. “Jika bisa saya ibaratkan, PPKK merupakan jantungnya wirausaha di Unair,” sebutnya.  Baginya peran besar PPKK pada ilmu, semangat dan motivasi yang senantiasa mengantarkan dirinya hingga saat ini.

Halangan dan rintangan senantiasa menghadang jalur kesuksesan dalam mewujudkan mimpinya. Beberapa orang pernah melihat sebelah mata atas usaha Astrid. Diremehkan bahkan dijauhi merupakan pengalaman pahit yang sempat ia rasakan. Tak cukup sampai disitu cibiran dan ejekan sering melintasi pendengarannya. Meskipun begitu Astrid tidak akan menghentikan langkah kakinya untuk meniti karier di jalan wirausaha. Hanya dirinya yang mengetahui apa usaha yang dia jalani, sehingga hanya dia lah yang berhak menentukan keberhasilan yang hendak dia capai. “Saya yakin. Semakin dihina, semakin banyak rezeki”, candanya.

Begitu juga batu kerikil pernah membuat Astrid hampir terjungkal. Masih lekat pada ingatan, selang satu tahun usaha Jagung Station berjalan Astrid melihat bahwa usaha tersebut sudah mengalami penurunan yang diakibatkan oleh selera pelanggan terhadap jagung sudah mulai beralih. Penurunan selera ini membuat menurunnya pendapatan dari Jagung Station.

Namun Astrid tidak gentar, baginya kegagalan ini merupakan jalan menuju kemudahan. Orang tua-lah yang memberikan semangat dan support. “Gagal bukan hal yang salah, jadi jangan takut untuk gagal dan jatuh,” ujarnya. Kegagalan memberikan ilmu berharga baginya dan terbaik yang pernah dia terima.

Sempat beberapa kali dia mencoba usaha kecil-kecilan untuk menopang menurunnya pendapatan Jagung Station. Namun belum ada usaha pas yang mampu menarik hati pelanggannya, hingga dia mengunjungi salah satu penyedia makanan siap saji. Berawal dengan ide bisnis yang sudah ada, dia mulai kembangkan dan inovasikan. Muncullah usaha yang diberi nama Anns Bento pada tahun 2013.

Anns Bento merupakan produk makanan siap santap yang dikemas dengan paper cup. Packaging yang lucu dan menarik menjadi pembeda dengan produk lainnya. Desain paper cup disesuaikan dengan target market-nya yang dikhususkan bagi pelajar dan mahasiswa, sehingga unsur young and colorfull menjadi identitas yang lekat dan eye catching pada produk milik gadis yang sempat menetap di Pulau Dewata ini.

Ide produk ini diilhami dari kebiasaan masyarakat saat ini yang hidup berkejaran dengan waktu dan full activities terutama pelajar, sehingga mereka membutuhkan hal-hal yang efisien, praktis dan mobile. Nasi dan ayam krispi ditambah saus dalam gelas kertas merupakan inovasi usaha yang mampu memberikan udara segar bagi masyarakat dewasa ini. Sausnya juga diracik secara khusus oleh cheff ahli, sehingga selain packaging-nya, sausnya pun mampu menjadi pembeda dan keunikan tersendiri bagi Anns bento.

Selain Anns Bento, Astrid juga mengembangkan cabang usaha catering yang sudah tersebar di Surabaya. Tercatat sudah lima perusahaan yang berlangganan tetap dan memakai jasa Astrid untuk konsumsi makan siang setiap harinya. Berawal dengan modal 30 juta rupiah, Astrid mampu meraup untung omset 20 juta dengan UD. Anns Food yang terdiri dari catering dan Anns Bento ini. Minimal 250 bungkus mampu disajikan perharinya kepada pelanggan, dengan empat pegawai yang terdiri dari mahasiswa dan anak-anak putus sekolah terselip hal mulia dalam usaha ini.

Nilai sosial adalah pondasi utama dalam bisnisnya. Astrid berharap akan mampu memiliki panti asuhan dan panti jompo. Rasa berbagi yang tinggi mampu menguatkannya untuk mendapatkan pendapatan sendiri dan memberi dari hasil keringat sendiri. Rasa peduli pada orang yang kurang mampu juga memberikan dampak positif bagi dirinya, dia bersikeras harus mampu menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Mewujudkan keinginan orang lain dan membantu warga kurang mampu menjadi tolak ukur keberhasilan usahanya.

Sumber : Buku Jejak Entrepreneur Universitas Airlangga