Perancang Kapal Rumah Sakit Indonesia Thursday, 03 August 2017 08:27

Pernah mendengar Kapal Republik Indonesia (KRI) dr. Soeharso? itu kapal bantuan rumah sakit pertama dan satu-satunya milik Indonesia. Kapal tersebut dilengkapi peralatan medis. Karena itu, setiap terjadi musibah besar di Indonesia, kapal tersebut Hampir selalu merapat ke lokasi kejadian. ternyata, pembuatan kapal yang diluncurkan pada 2003 itu juga melibatkan alumnus Universitas Airlangga (Unair). Dia adalah Kolonel (Pur) I Gde Wayan Asmarabawa, B.Sc., SKM, M.M. Saat ini dia menjabat sebagai kepala Bagian Pendidikan dan Personalia Yayasan Nala. Institusi yang membawahkan hampir semua lembaga pendidikan di lingkungan angkatan laut (AL).

Bahkan, Gde ikut terjun langsung ke pabrik pembuatan kapal, Daesun Shipbuildings & Engineering Co. Ltd. di Korea Selatan pada kurun 2003–2004. Dia ikut mengatur letak instalasi medis, model kamar, peralatan, dan sebagainya. tu-juannya agar kapal itu benar-benar cocok dengan spesifikasi yang diinginkan.

Meski berlatar belakang militer, Gde punya pendidikan medis lebih dari cukup. Saat bertugas di Dinas Armada Republik indonesia (saat ini bernama Koarmatim), dia mendapat tugas belajar di Jurusan Ilmu Kesehatan Masyarakat (IKM). Waktu itu IKM masih di bawah Fakultas Kedokteran (FK). Gde masuk pada 1989 dan lulus dua tahun kemudian.

Tim Misi perdamaian PBB di Eastern Slavonia

Pendidikan di Unair memberi Gde pengalaman keilmuan yang luar biasa. terbukti, sejak lulus dari kampus itu dia langsung terlibat dalam banyak misi yang berkaitan dengan kesehatan. salah satunya pada 1996–1997. Saat itu dia tergabung dalam misi perdamaian PBB di United Nations Transitional Authority in Eastern Slavonia (UNTAES). Setahun penuh Gde di sana. Tugasnya menyiapkan lokasi untuk para pasukan misi perdamaian. Dia baru pulang setelah hampir semua pasukan meninggalkan negeri balkan tersebut.

Pulang dari sana, tugas lain sudah menunggu. Dia lantas menjalani tour of duty di Dinas Kesehatan Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut (lantamal) V. Di dinas itu dia mengelola semua rumah sakit di bawah Lantamal V. Ini berarti dia harus mengurusi rumah sakit mulai Tegal hingga Nusa Tenggara Timur (NTT).

Saat gempa mengguncang Yogyakarta pada 2006, Gde termasuk tim pertama yang datang ke Kota Gudeg itu. Tak sampai 48 jam, dia sudah berada di sana. Gedung Olahraga (GOR) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) pun disulap menjadi rumah sakit darurat yang bisa menampung 500 pasien.

Kiprah lelaki kelahiran Tabanan, Bali, itu tak berhenti di situ. Setahun pascagempa Yogyakarta, karirnya terus menanjak. Dia ditunjuk sebagai wakil direktur Rumah sakit angkatan laut dr. Mintohardjo, Bendungan Hilir, Jakarta pusat.  Setahun di rumah sakit itu, Gde ditarik menjadi staf ahli kepala staf Angkatan Laut (KSAL) yang saat itu dijabat Laksamana TNI Tedjo Edhy Purdijatno.

Setelah dua tahun menjadi staf ahli KSAL, jalur pengabdian Gde mulai bergeser dari dunia kesehatan ke dunia pendidikan. Bapak tiga anak itu lantas menjadi guru militer di Komando Pengembangan dan Pendidikan Angkatan Laut (Kobangdikal). Dia juga menjadi pengajar di sejumlah perguruan tinggi. Misalnya, Universitas Widya Mandala (UWM), Universitas Hang Tuah, dan Universitas PGRI Adi Buana.  

Mulai saat itu kiprah Gde lebih banyak di dunia edukasi. Hingga pensiun dari angkatan laut pada 2015, dia menjabat Kabagdikpers Yayasan Nala. Kini, di sela-sela padatnya waktu mengajar dan kesibukan mengurus Yayasan Nala, Gde sedang mengikuti program S-3 di Universitas Brawijaya. Menurut dia, kegairahannya saat ini adalah pada dunia pendidikan. Mumpung ada waktu, dia ingin terus menekuninya.

Sumber : Buku Jejak Langkah Ksatria Airlangga