Memulai Karir Dari RSU Mataram Friday, 11 August 2017 01:50

Salah satu alumnus Fakultas Kedokteran yang menjalankan profesi jauh dari almamater Airlangga ialah dr. Doddy AK, Sp.OG(K). Pria kelahiran kota suwar- suwir ini menetap di Kota Mataram sejak 1997. Saat itu dia menjadi dokter dan ketua SMF OBGIN RSU Mataram. ”Dari 1997 sampai 2002,” ujarnya.  

Perjalanan karir dan profesi dr. Doddy terus berlanjut di Mataram. Dia, misalnya, menjadi kepala instalasi Rawat inap RSU Mataram (2000–2003). Berikutnya menjadi ketua komite medik di rumah sakit (RS) yang sama (2002–2004). Ketua tim pengembangan akademik Program Studi Pendidikan Dokter Universitas Mataram (Unram) diemban pada 2003. Kemudian, dia menjabat wakil dekan I FK Unram (2004–2015).

Pada 2007–2012 dr. Doddy menjadi ketua POGI Mataram, dilanjutkan menjadi ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) NTB (2012–2015). Ketua IKA UA FK Wilayah NTB (2014) dan ketua MPPK NTB (2015–2017). ”Sekarang saya masih ketua pusat keterampilan klinik kesehatan reproduksi NTB, dan koordinator Female Cancer Progma (FCP) Lombok,” ujar pria 64 tahun ini.

Sebagai pendidik sekaligus dokter, dia memiliki penilaian terkait berbagai persoalan masyarakat dan bangsa Indonesia. Menurut dia, saat ini masalah yang dihadapi bangsa Indonesia masih berkisar pada ketimpangan ekonomi, lapangan pekerjaan yang sempit, korupsi di berbagai sektor, kemiskinan, layanan pendidikan tidak merata, layanan kesehatan yang belum merata, dan penegakan hukum yang timpang.

Karena itu, saatnya bekerja dengan jujur, taat beribadah, berbuat baik bagi masyarakat dan keluarga, bekerja keras, cerdas, dan ikhlas. ”Kita harus berkeyakinan bahwa hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan besok harus lebih baik dari hari ini,” tegasnya.

Bangga dengan FK Unair

Sebagai alumnus FK Unair dr. Doddy memiliki pengalaman menarik selama  menjadi mahasiswa. Dia bersyukur bisa menjadi mahasiswa FK Unair. ”paling berkesan ialah mata kuliah praktikum anatomi. Yakni, mahasiswa harus melakukan bedah mayat dan walawa (wajib latih mahasiswa),” katanya.

Saat mendengar Unair ingin menjadi 500 besar world class university, dr. Doddy ikut bangga. ”saya sangat apresiatif,” katanya.

Untuk itu, dr. Doddy mengatakan, peran alumni untuk selalu mengingat almamater dan memberikan kontribusi terhadap pengembangan program almamater sangat diperlukan.

Menjaga hubungan baik antara almamater dan alumni, mengingatkan alumni untuk mencintai almamater, dan mendukung almamater perlu terus-menerus dilakukan.

Sebaliknya, dr. Doddy juga berharap agar almamater Unair  mengapresiasikan alumni yang berhasil berkiprah di level nasional dan international. ”Alumni yang berhasil berkiprah di level nasional dan internasional turut mengharumkan nama Unair,” tegasnya.

Dia pun berharap agar Unair tidak puas dengan kondisi saat ini. Masih perlu kerja keras untuk menjadikan Unair sebagai universitas kelas dunia.

”Selain itu, perlu visi yang kuat untuk menggalang kerja sama civitas akademika bersama alumni,” saran mahasiswa angkatan 1971 ini.

Sumber : Buku Jejak Langkah Ksatria Airlangga