Partner Palsu Dalam Riba Thursday, 31 August 2017 03:57

Kaku dan tegas menjadi kesan pertama ketika melihat penampilan Dimas. Akan tetapi kesan tersebut akan luntur menjadi kesan sederhana dan mudah bergaul ketika mengenal pribadinya. Pada awalnya, dia berkeinginan untuk masuk di Fakultas Kedokteran dan menjadi dokter. Takdir berkata lain, dia masuk Fakultas Ekonomi dan menjadi mahasiswa S1 Manajemen.

Pola pikirnya terus berubah dari menjadi dokter ke wirausaha. Pada awalnya Dimas memang tidak diizinkan oleh kedua orang tuanya untuk menjadi wirausaha. Kedua orang tuanya yang menginginkan Dimas untuk menjadi PNS mampu diluluhkan hatinya oleh Dimas dengan mengajukan proposal hidup atau visi yang dirancangnya untuk masa depan. Setelah mengantongi ijin orang tuanya, pemuda ini mengawali kegiatan wirausaha dengan bisnis pulsa kecil-kecilan.

Menjadi seorang wirausaha memang tidaklah mudah. Masa-masa rebuild pernah dialami oleh Dimas beberapa kali pada awal mengawali kegiatan bisnisnya. Masa-masa ini terjadi ketika dia sedang mengembangkan bisnis tas yang bekerja sama dengan pengrajin Tanggulangin. Pada masa itu masalah yang menjadi batu sandungannya adalah kesehatan dan partner palsu.

Setelah melewati diskusi panjang dengan dokter dan keluarga besarnya akhirnya dia memutuskan untuk tidak mengembangkan bisnis tas itu. Partner palsu ini memberikan sebuah pengalaman yang sangat berarti baginya. Strategi yang didapatkan dari beberapa komunitas yang dia ikuti membuatnya semakin ahli dalam melihat peluang pasar.

Berawal dengan kepercayaannya jika Indonesia mampu memenuhi kebutuhannya sendiri dari sektor alam yang membuat dia berani menjalani bisnis barunya. Setelah mengalami kegagalan tersebut, Dimas mengawali bisnis barunya dengan Agribisnis dan kuliner. Agribisnis yang sekarang dia geluti adalah agen tunggal untuk madu pak lebah, penanaman jahe dan ekspor jahe.

Bisnis Madu Pak Lebah ini dia menggandeng produsen di Jawa Barat dan IPB (Institut Pertanian Bogor). IPB dipilih dengan berbagai alasan salah satunya adalah kepercayaan masyarakat yang begitu tinggi untuk institusi ini dalam bidang makanan, minuman serta obat. Perjuangannya terbayarkan ketika Madu Pak Lebah ini menyandang gelar madu terbaik kedua se-nasional.

Prestasi yang diperoleh oleh Dimas tidak membuatnya berhenti berusaha. Prestasi ini justru melecutnya untuk menjadikan dia lebih berusaha. Di saat yang bersamaan, dia mengembangkan bisnis jahe dimulai dari penanaman jahe sampai ekspor jahe. Untuk bisnis penanaman jahe dan ekspor jahe dia menggandeng beberapa dusun di Blitar dan Jombang untuk menjadi produsennya. Di kotanya sendiri dia mengembangkan produksi jahe ini pada tiga titik, yaitu di Kecamatan Bantar Gading, Kecamatan Jombang dan Kecamatan Ploso. Selain tiga titik di Jombang tersebut, sekarang dia sedang mengusahakan pengembangan produksi jahe di Nganjuk yang bertepatan di Kecamatan Prambon dan Lengkong. Dengan kemampuan lobbying Dimas mampu membuat sebuah keluarga di masing-masing desa untuk menjadi agen atau perwakilannya di desa itu.

Dengan adanya produksi jahe dari masyarakat ini dia berharap jika terjadi proses pemberdayaan masyarakat dan masyarakat tidak terjerat oleh rentenir seperti yang terjadi selama ini.

Selain dua bisnis agribisnis tersebut, tidak lupa dia juga melebarkan sayapnya pada bisnis kuliner pada saat yang hampir bersamaan. Bisnis kuliner yang saat ini digelutinya adalah makanan ayam dalam kemasan yang dipasarkan pada kantin-kantin. Bisnis kuliner ini diberi nama Chickoo yang identik dengan ayam.

Bisnis kuliner yang satu ini diawali dengan pengakusisian salah satu perusahan makanan kemas ini menyita banyak waktu dan pikirannya. Dia merombak awal konsep bisnis ayam dalam kemasan dan menjadikan Chickoo dengan image yang baru dan lebih fresh. Dimas juga harus rela mengeluarkan budget yang tidak sedikit demi memperoleh rasa yang pas untuk menggaji koki ahli dalam mengolah rasanya.

Beranjak dari pengalaman yang sudah dia peroleh dari berbagai bisnis yang sudah dia jalankan, dia percaya diri untuk merambah bisnis lain yang sekarang menjadi trending topik di masyarakat. Dua bisnis yang akan digelutinya untuk beberapa tahun kedepan adalah ketela dan cacing merah.

Keberhasilan Dimas untuk memberdayakan masyarakat yang ada di kotanya merupakan salah satu bentuk pengabdiannya dan upayanya untuk menjadi manusia yang berguna. Pencapaiannya selama ini tidak bisa terlepas dari peran PPKK, Indonesian Mouslem Entrepreneour dan Gerakan Anti Riba.

Bagi Dimas, PPKK adalah angel baginya. Menurut dia, PPKK merupakan salah satu jalan pertama yang dia mampu membuat dia menjadi sampai sekarang ini. Melalui PPKK dia diperkenalkan dua komunitas yang sangat berguna untuk dirinya dalam pengembangan karirnya sebagai wirausaha. Dalam tiga wadah wirausaha ini karakter dan mindset-nya ditempa.

Bagi Dimas, orang berhasil adalah orang yang pantas berhasil. Maka dari itu, dia bertekad untuk menjadi orang yang pantas untuk berhasil. Prinsipnya adalah selama itu benar dan untuk Allah kita harus yakin melakukannya. Beli Indonesia dan pengusaha tanpa riba yang salah satunya berfokus pada pembebasan masyarakat dari rentenir. Yang menjadi landasannya untuk memerangi riba adalah “Wahai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (riba yang belum dipungut, jika kalian orang beriman.

Maka jika kalian tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah bahwa Allah dan Rosul-Nya akan memerangi kalian. Dan jika kalian bertaubat, maka bagi kalian pokok harta kalian, kalian tidak mendzalimi dan tidak pula didzalimi (Qs. Al Baqarah, 278-279). Berdasarkan hal itu maka Dimas mengikuti dan aktif dalam komunitas pengusaha anti riba.

Dimas berharap jika misi sosial dengan cara memberdayakan masyarakat ini mampu bertahan dan dicontoh oleh teman-temannya. Dengan begitu maka akan tumbuh generasi-generasi yang akan mampu membuat Indonesia mampu BERDIKARI (Berdiri di kaki sendiri).

Sumber : Buku Jejak Entrepreneur Universitas Airlangga