Punya 20 Cabang Perusahaan dengan Ribuan Kandang Ayam Thursday, 07 September 2017 07:17

Dunia peternakan adalah dunia usaha yang tak menentu. Terutama di peternakan ayam. Risikonya besar. tapi, seperti pepatah dalam dunia bisnis, high risk, high revenue, pendapatannya juga besar jika berhasil. Situasi tidak menentu dan penuh risiko itu menjadi makanan sehari-sehari Direktur PT Intertama Trikencana Bersinar (ITB) Tjandra Srimulianingsih.

PT ITB yang didirikan Tjandra pada 2004 menghadapi situasi tidak menentu itu. Mereka pernah merugi gara-gara penyakit flu burung. Namun, mereka terus berusaha survive. Justru risiko besar itu membuat mereka tangguh seperti sekarang.

Setelah lebih dari satu dekade pendiriannya, perusahaan yang berlokasi di Kramat Jati tersebut memiliki 20 cabang dengan ribuan kandang ayam. Diantaranya di Bangka, Lampung, Samarinda, Balikpapan, Pontianak, dan sejumlah daerah di Jawa Tengah. Total karyawan mereka mencapai 2 ribu orang.

Apa rahasia sukses Tjandra mengelola risiko besar di dunia peternakan unggas tersebut? Ibu dua anak itu mengungkapkan, pertama sebelum yang lain, adalah meniatkan segala usaha untuk Tuhan. Tanpa itu, tidak akan ada yang kuat menghadapi tantangannya. Menurut dia, Tuhan punya kuasa atas makhluknya. Biarpun hitung-hitungan bisnis ternak ayam sudah sangat jelas, jika Tuhan tidak memberi sukses, semuanya akan sia-sia.

Karena itu, dia mewajibkan semua karyawan untuk memulai aktivitas setiap hari dengan berdoa bersama. Ketentuan itu sudah jadi budaya kerja perusahaannya selama bertahun-tahun.

Tjandra mengaku harus menanamkan nilai-nilai itu meski sejatinya dia memiliki kepakaran yang jauh lebih dari cukup untuk sukses. Istri Elli Sabda Arista tersebut adalah lulusan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga (Unair) pada 1992. Dia lantas melanjutkan pendidikan di University of Western Sydney, Hawkesbury, Australia.

 Merintis Karir di peternakan ayam

Pada kurun 1993–1999 dia merintis karir di dunia peternakan ayam dengan bergabung ke PT Surya Hidup Satwa yang kemudian berlanjut ke Charoen Pokphand Group. Di perusahaan penguasa peternakan indonesia tersebut Tjandra berkecimpung di bidang obat, vaksin, dan desinfektan. Sembari menjalani kesibukannya, perempuan kelahiran Magelang itu masih sempat melanjutkan studi di Unika Atmajaya, Jakarta, dan lulus pada 1995 dengan gelar magister manajemen.      Karir Tjandra terus menanjak. Pada 1999–2001, dia pindah ke PT Sierad Produce. Kali ini tugasnya adalah pemasaran pakan dan DOC (day old chick). Menjelang akhir kiprahnya di Sierad, Tjandra membuat keputusan terbesar dalam hidupnya: keluar dari pekerjaan dan merintis bisnis sendiri di dunia yang sama.

Keputusan itu tidak mudah. sebab, sudah delapan tahun dia bekerja di perusahaan-perusahaan besar yang sudah mapan. Dia jelas sudah sangat nyaman dengan segala fasilitas dan pekerjaan yang dia lakoni. Memulai usaha adalah mengulangi segalanya dari nol. namun, dia nekat membongkar semua benteng rasa nyaman tersebut demi pertumbuhan karirnya.

Pada 2001 dia berkongsi dengan salah satu customer untuk mendirikan peternakan. Bersama dirinya plus satu rekan lain, total ada tiga orang dalam perusahaan tersebut. Tjandra bertindak sebagai direktur.

Namun, usaha Tjandra baru benar-benar terwujud pada 2004 dengan didirikannya PT ITB. Perusahaan tersebut didirikan hanya dua orang. Satu rekan lain yang sudah sangat senior hanya menjadi pihak yang menyewakan kandang-kandangnya. pilihan itu diambil karena risiko besar di dunia peternakan ayam sangat dinamis.  

Kini, PT ITB tak hanya punya banyak cabang. Mereka juga menjadi salah satu dari 13 perusahaan yang mendapat jatah kuota impor bibit grand parent (GP). GP dengan spesifikasi unggul dalam bidang pedaging diimpor dari Eropa. Kemudian anak-anaknya ditetaskan. Anak ayam tersebut akan tumbuh besar dan dikawinkan dengan jenis unggul lainnya. Hasilnya, anak ayam ”cucu” Gp bisa diperjualbelikan. Tjandra tak pernah menyangka perusahaannya bakal sebesar ini. Dia awalnya hanya mengira bakal punya segelintir kandang ayam di beberapa lokasi. tapi, dalam perjalanan waktu, dia bertemu orang-orang yang tepat. Orang-orang itu yang membantu mewujudkan mimpinya. Bahkan, lebih indah dari bayangannya.

Sumber : Buku Jejak Langkah Ksatria Airlangga