Jalan Memutar Untuk Menjadi Seorang Wirausaha Tuesday, 26 September 2017 02:29

Mendengar fotokopi mungkin tiap orang akan berpikir usaha ini biasa-biasa saja. Tapi siapa sangka usaha fotokopi bisa mencapai omset per bulan hingga 50 juta. Sungguh angka yang sangat menggiurkan. Inilah usaha yang kini dinikmati oleh Muhammad Fakhri Zulkifli alumni Universitas Airlangga progam studi Ilmu Informasi & Perpustakaan. Usaha yang dimulai sejak tahun 2014 ini telah memiliki 2 cabang dan 8 pekerja tetap dan 2 freelance. Kini di usia yang menginjak 25 tahun Fachri bisa dibilang sebagai salah satu pengusaha fotokopi yang cukup sukses.

Tentu keberhasilan mencapai ini semua bukan tanpa perjuangan. Pahit manisnya hidup sepertinya sudah menjadi hal yang biasa yang harus dijalaninya selama proses mencapai keberhasilan ini. Pengalaman menjadi seorang pembantu rumah tangga (PRT) tak luput dari perjalanan hidupnya. Berawal dari kegagalan masuk perguruan tinggi lewat jalur SNMPTN pada 2008 silam. "Saya harus merelakan tidak kuliah di tahun pertama. Kerja jadi PRT di Surabaya. Waktu itu bingung mau kerja apa. Lulus SMA tidak punya skill. Sampai akhirnya dikenalkan tetangga di kampung, untuk jadi PRT di Mulyorejo,". Dengan gaji yang hanya Rp. 500.000 per bulan, Fachri harus bertahan hingga 6 bulan sampai akhirnya diterima di Universitas Airlangga.

Perjalanan semasa kuliah pun tak seindah seperti apa yang dibayangkan. Karena kesulitan finansial di keluarganya, Fachri pun mau tidak mau harus memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri. Membagi fokus antara kuliah dan mencari nafkah. Dengan hanya berbekal uang Rp 170.000 tiap minggu yang diberikan kakaknya, Fachri harus mencari jalan lain untuk memenuhi kebutuhan yang terus meningkat. Fachri mampu bernafas sedikit lega ketika mendapat beasiswa dari salah satu BUMN. Semester 5 berjalan, Fachri sempat meninggalkan kuliah untuk berjualan es buah di Lamongan. Bermodalkan uang Rp 500.000, es buah yang diberi label Sobu-Sobu ini tak kurang dari 5 hari harus gulung tikar. Sistem packaging yang kurang baik membuat es buah ini tidak bisa bertahan lama. “Soalnya saya lemah dalam packaging, belum sampai di sekolahan es sudah tumpah. Ngirim 10 bungkus sampai di sekolah tinggal 7. Terus kalau tumpah kan merusak packaging yang lain. Dari situ sudah give up dan tidak tahu harus melakukan apa lagi,” ujar Fachri.

Terlepas dari gagalnya jualan es campur, sambel terasi pun menjadi pilihan Fachri untuk menyambung hidup berikutnya. Bersama teman semasa SMP yang kuliah di Unair sekaligus menjadi mentornya dalam berwirausaha, Bagus Budi Raharjo, Fachri menjual sambal terasi dalam botol. "Sehari kadang dapat untung Rp 25.000 yang dibuatnya untuk makan. Waktu itu harga sewa kos di Surabaya Rp 200.000 per bulan," kata Fachri. Lagi-lagi masalah muncul akibat packaging yang kurang bagus. "Lama-kelamanan ada yang komplain di dalam kelas. saya merasa merugikan orang lain dan pada akhirnya dihentikan kurang lebih 3 bulan (jualan sambal terasi)," ujarnya.

Gagalnya sambel terasi tak membuat Fachri berhenti berusaha, akhirnya dia mencoba untuk berbisnis jual handphone. Dengan mengambil handphone bekas dari WTC lalu Fachri jual lagi. Namun usaha ini tak berumur panjang, meskipun dijual secara langsung maupun online ternyata tak ada handphone yang laku terjual. "Tidak laku sama sekali. Salah ambil barang, kurang diminati orang. Waktu itu ruginya sekitar Rp 3 juta," Ujarnya. Akhirnya Fachri pun menjadi perantara sebagai usaha sampingan untuk sekedar memenuhi kehidupan sehari hari. "Kata lainnya makelar. Untuk membiayai kehidupan sehari-hari, tapi tidak cukup.  Sampai saya waktu itu sehari puasa, sehari tidak. Bukan niat puasa, tapi untuk mengurangi operasinal," ujarnya. Dari sinilah selanjutnya Fachri mulai terjun di dunia fotokopi, ia bergabung dengan salah satu fotokopi di kampus. Gaji  Rp100.000 per  minggu diterima sebagai upah ia bekerja.

Suatu ketika fotokopi tempat ia bekerja mengalami kesulitan finansial. Saat itu memang yang ada di pikiran Fachri adalah memikirkan nasibnya dan para pekerja yang bekerja bersama dia. Waktu itu Fachri mencoba berkomunikasi dengan CV M-Brother yang tidak lain adalah milik temannya sendiri, Bagus Budi Raharjo. Akhirnya didapatilah kesepakatan untuk M-Brother bersedia menanggung semua beban finansial fotokopi tersebut dan sebagai gantinya fotokopi tersebut harus melepas aset beserta pekerjanya dan selanjutnya dikelola oleh Fachri. Outlet pertama fotokopi ini terletak di Kedung Sroko ini hampir overload. Selang 4 bulan kemudian akhirnya Fachri menambah cabang outlet di Jalan Jojoran. Berbagai inovasi pun dilakukan Fachri sebagai bentuk marketing atas bisnisnya ini. Mulai dari buka 24 jam hingga menawarkan jasa jilid skripsi sehari jadi. Bukan hanya itu aktif dan aktif marketing pun ia lakukan. “Kalau diam saja rejekinya cuma yang lewat aja. Saya yang jemput bola,” ujarnya. Selain fotokopi, usaha ini juga bergerak di bidang percetakan. Banyak lembaga-lembaga yang sudah menjadi langganan tetap seperti Bank Indonesia Jawa Timur, Perpustakaan Sampoerna, Rs. Dr. Soetomo, ITS, Asosiasi Wanita Indonesia, dan lain-lain.

Pemuda yang juga bakat berbicara dan pernah menjadi pembicara di beberapa acara ini pun punya rencana untuk mengembangkan bisnisnya. “Ekspansi target-target selanjutnya adalah dengan menambah cabang. Akhir tahun ini kemungkinan akan berdiri cabang di Unesa dan Unibra. Saya pertama ingin di Malang hawanya dingin, enak mas. Beberapa kali jalan-jalan ke Malang rasanya kok perubahannya besar, justru sedikit persaingan,” tuturnya. Selain berkonsentrasi ke bisnis Fachri juga memiliki cita-cita untuk menjadi seorang pengajar dan memberikan semangat ke orang lain. “Soalnya saya pernah merasa jadi orang yang paling useless saya ingin menjadi orang-orang yang seperti saya membangkitkan gairah,” tutur Fachri.

Memang, banyak proses yang harus dilewati untuk menjadi seorang yang bisa dikatakan berhasil. Pahit dan pasang surutnya hidup sudah menjadi hal yang biasa. Tahun 2013 itu dimulai akhir bulan juni 2013 ibu saya meninggal. Genap satu bulan lebih kemudian motor hilang berlanjut pada beberapa bulan juga ada kerjaan kebetulan tidak ada dana. Saya mencari uang, ketemu duit dompet saya di copet orang. 5 tahun pacaran juga hilang. Tapi bersyukurnya, Gusti Allah itu mengerti manusia punya batasanya sendiri-sendiri. Yang dihilangkan itu dari yang terbesar dulu. Saya gak bisa membayangkan kalau dari kehilangan dompet rodok pahit, terus sepedah motor pahite nemen, kilangan ibu pahite wis bunuh diri ae mas, selesai kehidupan. Dari kehilangan itu saya sudah mengalir aja” kenangnya. Berkat kerja kerasnya dan semangat pantang menyerahnya ini Fachri bisa merasakan hasil jerih payahnya selama ini.

Sumber : Buku Jejak Entrepreneur Universitas Airlangga