Tak Tertarik Politik, Ikut Pilkada Karena ”Cremet” Thursday, 05 October 2017 02:47

Serentang waktu pada 2014, Direktur Utama sekaligus pemilik Rumah Sakit (RS) Bina Sehat, Jember, dr. Hj. Faida, MMR, menyelenggarakan acara bakti sosial untuk duafa. Bentuknya berupa operasi bibir sumbing, katarak, bayi kelebihan jari, dan sebagainya.

Peserta bakti sosial harus membawa surat rekomendasi dari lurah-camat bahwa mereka betul-betul duafa. Aneh, rekomendasi dari perangkat pemerintah terdepan itu sulit sekali diperoleh. Mbulet!

Dokter Faida sampai mengadu ke bupati Jember. namun, jawaban bupati lebih banyak berkilah daripada memberikan solusi. Dokter humoris itu sama sekali tak tanggap bahwa tahun itu menjelang pemilihan kepala daerah (pilkada). Salah satunya di Jember.

Akhirnya dia mendapat bocoran bahwa aksi kemanusiaan yang digalangnya tersebut dinilai sebagai pencitraan diri. Faida dicurigai bakal maju sebagai calon bupati Jember dalam pilkada 2015. Padahal, dia tahu pilkada pun tidak.

Begitu paham persoalannya, Faida memutuskan untuk sementara menghentikan aksi kemanusiaannya. Dia pergi ke kiai, minta pendapat. Intinya, Pak Kiai menyarankan agar aksi kemanusiaan dilanjutkan. Sebab, duafa merupakan kelompok rentan, termasuk rentan kufur. Faida pun mengangguk.

Ibu dua putra itu segera menemukan solusi cerdas. Peserta operasi gratis tidak perlu lagi minta rekomendasi duafa dari lurah-camat. Cukup rekomendasi dari pondok pesantren (ponpes) dan para takmir masjid di Jember dan sekitarnya.

Bakti sosial berupa operasi gratis bagi 1.000 pasien duafa dari lima kabupaten itu pun berjalan lancar. Para takmir masjid dan santri ponpes ikut menjadi panitia sehingga Rs Bina Sehat tak ubahnya pesantren. Aksi kemanusiaan itu tercatat rekor Muri sebagai operasi pasien terbanyak. Paling banyak operasi bibir sumbing. Memang secara berkala dr. Faida melakukan aksi kemanusiaan. Dana operasional diambil dari sepuluh persen pendapatan rumah sakit plus dana CSR dan zakat keluarga.

Bakti sosial sudah berlalu dengan sempurna. Tapi, kegundahan hati tentang sulitnya mendapatkan rekomendasi duafa dari lurah-camat membuat Faida cremet. Artinya, gemas atau geregetan –dalam bahasa dia.

Dia ingin para perangkat bisa ringan tangan memberikan rekomendasi kepada para duafa. Tak bisa tidak, caranya dia harus menjadi pimpinan para perangkat itu. tiba-tiba muncullah dorongan hati untuk maju dalam pilkada Jember.

Ternyata semua keluarganya mendukung. Kepada para partai politik yang mau mengusungnya, dia jauh-jauh hari mengatakan, tidak mau ada mahar politik. Faida mengaku lebih baik tidak maju pilkada daripada bayar mahar.

Empat parpol sepakat. Yaitu, Nasdem, Hanura, PAN, dan PDIP. Dalam pemilihan, Faida menang dengan perolehan suara 53,76 persen. Sisanya, 46,24 persen dikantungi rivalnya.

Perempuan Pertama Bupati Jember

Dokter Faida mencatat sejarah. Dia menjadi perempuan pertama yang menjabat bupati Jember dengan masa jabatan 2016–2021.

Sebagai kepala daerah, anak ketiga dari empat bersaudara itu menitikberatkan perhatian pada peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM). ini sesuai concern-nya sejak memimpin rumah sakit.

Semua pegawai Pemkab Jember harus menjalani in house training, meski sekadar dua jam per hari. Selain itu, dia punya program gropyokan (dikerjakan bersama-sama) yang lebih banyak mengundang partisipasi masyarakat.

Gropyokan yang dilakukan, antara lain, menanggulangi buta aksara duafa, anak putus sekolah, janda dan anak yatim, rumah sehat, duafa sakit, dan sebagainya. Untuk pembangunan fisik, Faida mengutamakan infrastruktur.

Faida tumbuh di lingkungan dokter. Ayahnya, Musytahar Umar Thalib, adalah dokter. Dia mendirikan RS Al Huda, Banyuwangi, dengan uang Rp 45 juta. RS yang diresmikan pada agustus 1991 itu awalnya hanya dilengkapi enam tempat tidur.

Sekitar tiga tahun kemudian, ketika lulus FK unair, Faida bekerja di rumah sakit itu. Meski anak pemilik, dia tetap harus melamar.

Setelah sepuluh tahun bekerja bersama ayahnya di Al Huda, Faida ditugasi menangani RS Bina Sehat, Jember. RS itu diresmikan pada Maret 1995.

Ketika abah –begitu Musytahar dipanggil oleh anak-anaknya– meninggal dunia pada 30 November 2009, Al Huda ditangani kakak pertamanya, dr. Asyhar. namun, pada Desember tahun itu juga dr. Asyhar menyusul sang abah ke hadirat ilahi.

Faida pun pontang-panting mengurus dua rumah sakit, Al Huda, Banyuwangi, dan Bina Sehat, Jember, plus 700 karyawan.

Dia menunggu adiknya, Mumtaz, yang hampir lulus FK Unair, untuk bisa membantunya. Namun, takdir berkata lain. Mumtaz pun meninggal dunia. Dia mengalami kecelakaan lalu lintas ketika hendak diwisuda.

Tinggallah Faida dengan ibunya. Adapun kakak perempuannya, Mustafida, sudah berkeluarga di Surabaya. Faida ingat pesan abahnya: Jadikan rumah sakit ini  seperti istana. tapi, istana yang bisa dimasuki para duafa.

Maka, Faida nekat meminjam uang ke bank dengan agunan seluruh aset keluarga. Dia bermaksud membangun Al Huda dan Bina Sehat menjadi rumah sakit megah dan modern. Namun, tak ada seorang pun dari 700 karyawan yang yakin  rencana Faida bakal terwujud.

Sekarang, RS Bina sehat –yang semula memanfaatkan rumah-rumah tetangga itu–berdiri tiga lantai di atas lahan satu hektare, dengan kapasitas sekitar 250 bed. Sedangkan Al Huda berdiri dua lantai di atas lahan 4 ha. Kapasitasnya juga 250 bed. Kepedulian Faida terhadap pengembangan kualitas SDM ternyata membuahkan sayap bisnis lain. Yaitu, Bina Sehat Training Center (BSTC). Lembaga itu khusus menangani peningkatan kualitas dan pendidikan perawat yang disiapkan bekerja di Arab Saudi dan Kuwait.

Ketika awal dibuka pada 2006, lembaga itu hanya diikuti 12 orang. Dua tahun kemudian sudah membengkak menjadi 80 orang. Kini lembaga itu tidak hanya diikuti para perawat, tapi juga siswa pariwisata dan perhotelan. Bahkan, 60 persen siswanya berasal dari Jakarta.

Pengalamannya bersama abah, pergumulannya dengan para perawat –yang selalu terhimpit utang dan sebagainya– telah membuahkan delapan buku. Bagaimanapun Faida tetap cinta Unair. Anak pertamanya, Abdul Malik Akmal, kuliah di FE, Unair. Dia berharap Unair mampu membangun koneksi lebih baik. Saat ini kesungguhan alumni dalam membangun koneksi lebih besar dibanding Unair sendiri.

Sumber : Buku Jejak Langkah Ksatria Airlangga