Bupati Termuda Di Awal Reformasi Monday, 09 October 2017 08:21

Sebagian besar warga Kabupaten Lamongan masih ingat ketika jalan-jalan desa disulap menjadi jalanan mulus. Jalan kampung yang semula sempit dan tak beraspal itu serentak berubah lapang beraspal dan diterangi lampu.

Sebagian besar warga Kabupaten Lamongan juga masih ingat ketika tempat wisata Tanjung Kodok yang kurang terurus, sejak 2003 berubah menjadi tempat wisata yang ramai. Tempat itu kini dikenal dengan nama Wisata Bahari lamongan (WBL).

Sebagian besar warga Kabupaten Lamongan juga hampir pasti masih ingat bahwa itu semua, perbaikan jalan secara simultan, tempat wisata keren, dan kehadiran banyak investor ke daerahnya, terjadi ketika kabupaten itu dipimpin H. Masfuk, S.H.

Pria ramah itu membangun jalan sepanjang 600 km per tahun. Dana bantuan yang diberikan pemkab untuk membangun jalan, disambung serentak berupa partisipasi masyarakat. Masfuk juga menata irigasi sehingga hasil panen meningkat. pendapatan para petani pun ikut meningkat.

Ayah dua putri itu dipilih oleh DPRD Lamongan pada Desember 1999. Kemudian dia dilantik sebagai bupati pada Januari 2000. Masfuk merupakan bupati asal Partai Amanat Nasional (PAN) pertama di Indonesia. Waktu itu pria yang kini berusia 54 tahun tersebut tercatat sebagai bupati termuda di indonesia, 38 tahun. Kemampuannya mengangkat Lamongan menjadi kabupaten yang membanggakan warga, mengantar Masfuk melanjutkan kepemimpinannya periode kedua, 2005–2010.

Tak pernah terpikir di benak Masfuk bahwa dirinya bakal menjadi bupati. Karir politiknya dimulai pada awal reformasi. Pada 1998 dia dilamar beberapa partai. Pilihannya jatuh ke PAN dan menjabat bendahara DPW PAN Jawa Timur.

Tahun itu juga Masfuk diminta pan untuk mencalonkan diri sebagai anggota DPR RI dari daerah pemilihan (dapil) Surabaya. Terpilih. Di DPR dia menjabat bendahara Fraksi Reformasi yang terdiri atas PAN dan Partai Keadilan (PK).

Setiap tiga-empat bulan sekali dia pulang ke surabaya. Beberapa kali dia didatangi anggota DPRD Kabupaten Lamongan. Mereka adalah ketua-ketua Fraksi PDIP, Golkar, TNI/Polri, dan juga PAN.

Mereka minta Masfuk pulang kampung ke Lamongan untuk menjadi bupati. Semula Masfuk menolak. Baru pada permintaan keempat dia memberi jawabannya, setelah melakukan salat istikharah.

Tak mudah bagi Masfuk menjalankan tugas sebagai bupati. Apalagi, dia tak punya latar belakang birokrasi. Sejak lulus FH Unair dia bekerja sesuai disiplin ilmunya, sebagai kepala biro hukum PT Sasana Boga. Pernah menjadi advokat, dosen, kemudian berbelok menjadi pengusaha untuk mengubah nasib.

Ide Becak Motor Berkat Keliling Naik Becak

Di awal Masfuk menjabat bupati, Kabupaten Lamongan termasuk daerah miskin di Jatim. Namun, Masfuk punya keyakinan bahwa daerah miskin pun jika dikelola dengan sungguh-sungguh, banyak terobosan, dan inovatif, pasti maju. Dan, kepala daerah harus menjadi penggeraknya.

Sebagai pengusaha dia menerapkan gaya pengusaha swasta. Di benaknya, mengelola daerah lebih gampang karena uang tersedia. Berbeda dengan pengusaha yang harus mencari modal kerja sendiri.

Langkah pertamanya adalah meyakinkan masyarakat, termasuk anak-anak mudanya, bahwa Lamongan bisa jadi kota maju.

Masfuk sering turun ke bawah untuk melihat langsung kondisi masyarakat. Dia keluar masuk desa menggunakan sepeda motor tanpa pengawalan. Bahkan, dia pernah menyamar sebagai tukang becak. Nggenjot becak ke berbagai sudut kota. Dari situlah Masfuk menemukan ide membuat becak bermotor.

Anak-anak muda disentuh melalui tim sepak bola. Persela Lamongan tidak sekadar tampil untuk berpartisipasi. Persela juga berhasil mengukir prestasi yang membanggakan warga, terutama anak-anak muda.

Adapun di kalangan aparat, Masfuk meyakinkan, dengan aset yang dimiliki seharusnya mereka tidak berpikir pasif, tapi aktif. Sebelumnya, setiap menggelar pameran di alun-alun pemkab mengeluarkan uang. Kini strateginya dibalik. Harus mendapatkan uang. ternyata bisa!

Terobosan-terobosan seperti itu membuat warga dan aparat mulai percaya terhadap kinerja Masfuk. Namun, Masfuk sadar, sebagai orang baru dia belum tahu kondisi Lamongan secara utuh. Karena itu, dia melakukan percepatan. Setiap kepala

dinas wajib membuat presentasi program. Hal itu dilakukan di luar jam dinas. Biasanya dilaksanakan pukul 19.00 sampai pukul 03.00. Forumnya tidak selalu formal. Tak jarang dikemas dalam acara jagongan di pendapa atau rumah dinas.

Dari situ Masfuk melakukan pemetaan, sekaligus menganalisis kekuatan dan kelemahannya. Gebrakan pertama adalah membuka wilayah utara yang punya garis pantai sepanjang 47 km. Pembukaan wilayah ini berkaitan dengan bakal masuknya investor-investor besar.

Pada periode kepemimpinan kedua, angka kemiskinan Kabupaten Lamongan turun 25 persen. Penurunan paling tinggi di Jatim. pada 2008 Masfuk mendapat penghargaan sebagai Bupati terbaik se-Indonesia di bidang investasi, pariwisata, perdagangan, dan investasi.

Sumber : Buku Jejak Langkah Ksatria Airlangga