Profesional, Harus Berani Bonek Friday, 13 October 2017 02:30

Pada pertengahan 2016, Indonesia mengekspor kereta api ke Bangladesh. Kereta buatan putra-putra Indonesia juga akan dikirim ke Srilanka, Vietnam, dan Cairo.

Tak banyak yang tahu, bahwa salah seorang yang berperan penting atas terwujudnya ekspor itu adalah Dwi Wahyudi. Alumnus Fakultas ekonomi (FE) Unair yang menjabat sebagai managing director Indonesia Eximbank, perusahaan milik pemerintah.

Dwi Wahyudi lah yang menginisiasi ekspor tersebut. Bekerjasama dengan Kementerian Perhubungan dan PT INKA, Dwi melakukan negosiasi, mengatur, sampai dealing dengan berbagai pihak di luar negeri. Hal itu berhubungan dengan peran Indonesia Eximbank, yang mensuport semua pembiayaan ekspor tersebut.    Indonesia Eximbank bisa dikatakan bank plus. Produk yang bisa dan tidak bisa dilakukan perbankan lain, bisa dilakukan Indonesia Eximbank dalam kapasitasnya untuk mendukung ekspor.

Misalnya, proyek-proyek di luar negeri bisa dibiayai asal untuk meningkatkan ekspor. Misalnya, untuk meningkatkan ekspor raw material atau barang setengah jadi dari Indonesia.

Bank tersebut tatarannya memang tak hanya di dalam negeri. Tapi, juga di luar negeri. Karena itu, Dwi, yang sudah menjabat direktur sejak 2009, banyak melakukan kerjasama dengan berbagai pihak luar negeri.

Indonesia Eximbank semula bernama Bank ekspor indonesia (BEI). Dwi bekerja di BEI sejak 1999. Kemudian diubah menjadi indonesia eximbank pada 2009,  Dwi langsung diangkat sebagai direktur. Waktu itu dia berusia 39 tahun.    Pada 2009 aset Indonesia Eximbank ’’hanya’’sekitar Rp 12 triliun. Dalam waktu tujuh tahun (2016) membengkak menjadi Rp 98 triliun dengan tingkat finansial yang sehat.

Tidak mudah bagi Dwi dipercaya pemerintah selama tujuh tahun menjabat direksi. ’’Angin’’ datang dari kiri-kanan. namun, dengan karakter kuat danmampu memberikan kontribusi positif, dia secara tak langsung bisa bersaing dengan rival-rivalnya.

Kontribusi positif yang diberikan itu meliputi semua aspek. Yaitu, aspek profesional, inovatif, kreatif, dan integritas. Selain itu, diakuinya, juga sedikit bonek (bondho nekat). Bonek dengan integritas.

Dwi Wahyudi memang arek Suroboyo asli. Sejak kecil sampai menamatkan Unair berada di Surabaya. Loyalitasnya pada Unair sangat tinggi. Meski dia mengantongi gelar MBA dari Universitas Oklahoma City, ketika ditanya presiden atau Wakil Presiden dia selalu menjawab lulusan Unair.

Anak kedua dari empat bersaudara itu melanjutkan studi di Oklahoma, mengambil jurusan Finance setelah lulus dari FEB unair pada 1992.

Unair Harus Membangun Networking Yang Kuat

Pulang ke indonesia pada 1994 Dwi langsung bekerja sebagai Relationship  Manager Bank Danamon. Dia lalu pindah ke Bank PDFCI, kemudian masuk BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional) sekitar sembilan bulan, baru masuk Bank Ekspor Indonesia (BEI) pada 1999.

Dwi menembus bursa kerja di Jakarta tanpa bantuan siapa pun. tak punya networking dan tidak tahu ketatnya persaingan.

Dia merasakan beratnya menembus dominasi jaringan existing university yang sudah terbentuk sejak lama.

Tapi dengan modal working culture yang profesional, integritas, dan kreativitas dalam pengembangan, ayah dari Davinka Azzahra Wahyudi itu bisa menduduki jabatan mapan.

Dia baru merasakan bahwa untuk bisa survive dan sukses tidak cukup berjuang sendiri. Harus ada kekuatan networking.

Karena itu, sudah waktunya Unair merapatkan barisan untuk membuat kekuatan di semua lini. Mulai dari entrepreneurship, birokrat, parlemen, penegak hukum. Semua alumni harus hand in hand mengembangkan dan memperkuat posisi Unair. Karena alumni paling efektif sebagai jaringan.

Harus jadi Orang “Luar Biasa”

Ketika mahasiswa, Dwi Wahyudi aktif di lembaga kemahasiswaan. Dia ketua Himpunan Mahasiswa Manajemen.

Sikap profesionalnya ditempa dalam keluarga. ayahnya seorang pengusaha. ajaran sang ayah yang tak pernah  dilupakannya ialah: Jangan bekerja semata untuk mencari duit. Tapi, harus bisa memberikan kontribusi positif pada siapa saja.

Prinsip itu pula yang dibawanya ketika dia melakukan negosiasi menjual gerbong kereta ke luar negeri. Mindset- nya harus bisa menjual produk yang membawa untung dan bermanfaat bagi negara.

Pria yang bercita-cita ’’jadi orang luar biasa’’ itu berharap Unair mampu melakukan terobosan semua lini. Mulai pengajaran, sistem, sarana, dan lain-lain  dengan benchmark universitas-universitas ternama di dalam dan luar negeri. selain itu, tak lupa mengaktifkan hubungan alumni dengan almamater. Unair juga  harus punya spesifikasi. Misalnya, semua aspek masalah Indonesia bagian timur, jagonya haruslah Airlangga.

Sumber : Buku Jejak Langkah Ksatria Airlangga