The Dolphin's Entrepreneur Friday, 13 October 2017 06:14

“Karya tidak akan berhenti begitu saja, lakukan yang terbaik dan jadi dirimu sendiri”. Itulah ungkapan yang disampaikan oleh wanita tangguh satu ini. Garina panggilannya, adalah perempuan yang telah mendirikan usaha kerajinan tangan dengan berbahan dasar batik. Berbagai karya diproduksi dan dijual di Garina Collection, nama usaha dari Garina. Dia bebas menyalurkan karyanya dan tentunya berpenghasilan. Mulai dari kain batik, kaos, sepatu, bando, handphone case, handycraft, dan masih banyak lagi. Usaha ini mampu meraup untung hingga 30 juta per tahunnya.

Keunikan yang ditawarkan Garina dalam usahanya ada pada permintaan customer. Mereka bisa menentukan dengan bebas kebutuhan dari barang yang diinginkannya. Mulai dari bentuk dan barang yang diinginkan, hingga pilihan motif batik. Garina menyediakan pembuatan batik tulis dengan motif baru dan berbeda yang dia tulis sendiri, baik batik kontemporer maupun klasik. Garina juga menyediakan batik printing yang didatangkan langsung dari Pekalongan. Berlokasi produksi di Blitar, mempermudah baginya untuk mempromosikan karya batiknya di tanah sang proklamator. Tercatat puluhan instansi negeri maupun swasta sudah memesan produk batik dari Garina Collection.

Darah seni mengalir lancar di dalam tubuh wanita berkulit putih ini. Ayah Garina merupakan seorang seniman yang mampu membatik dan mengukir. Di dalam rumahnya di Blitar, beberapa karya ayah menghiasi sudut ruangan. Lantas kemampuan membatik Garina juga diturunkan dari tangan dingin seorang ayah. “Meskipun tidak semahir Ayah, sedikit-sedikit bisa lah,” senyumnya. Beberapa kali belajar dari ayahnya, namun pengembangan dilakukan otodidak oleh Garina.

Beberapa prestasi telah ditorehkan Garina di usaha batik ini. Garina pernah diberangkatkan untuk menjadi delegasi di ajang bergengsi di Jakarta, yakni Global Entrepreurship Week. Beberapa kali juga meladeni pesanan dari Negara Cina untuk membuka pameran ataupun order. Selama dua kali berturut-turut menjadi salah satu undangan di Wirausaha Bank Indonesia Jawa Timur di Ciputra. Garina juga pernah mengikuti lomba Desain Batik Jawa Timur 2013 sebagai finalis.

Saat ini Garina tidak hanya fokus di usaha batiknya saja. Dia juga mendapat kesempatan untuk membagi pengalaman dan ilmunya untuk orang lain. Beberapa kali dia menjadi pembicara di seminar kewirausahaan. Beberapa kali juga menjadi kesibukan Garina, di Universitas Trunojoyo Madura dan Universitas Wijaya Kusuma Surabaya pada kajian kewirausahaan. Tidak jarang Garina juga membuka pintu rumahnya untuk tempat singgah kawan-kawan mahasiswa yang mau belajar usaha membatik atau ilmu lain yang dimilikinya.

Bukan lain, orang tua lah yang berperan penting disini. Garina termasuk dari keluarga yang berkecukupan secara materi. Kedua orang tuanya adalah seorang PNS, ayahnya bekerja di PKPRI Kota Blitar dan ibunya di Dinas Perindustrian Kota Blitar. Namun istilah manja tidak ada dalam kamus didikan keluarganya, mandiri selalu menjadi asas penting dalam didikan orang tuanya. Garina harus mampu mengurusi dirinya sendiri sejak dini. Garina sejak SD hingga SMA tidak mendapatkan uang jajan, hanya uang transportasi dan bekal makan dari rumah. “Kedua orang tua keras dan tegas. Paling ingat, hanya 5000 perak dari ibu dan habis untuk kendaraan saja,” candanya.

Demi mendapatkan uang jajan di Sekolah Dasar, Garina harus menjual jepit kepada teman sekelasnya. Meskipun tidak seberapa, setidaknya mampu memberikannya sedikit uang untuk membeli makanan ringan di saat sekolah. Jual menjual dilakukannya hingga SMA, jilbab adalah barang dagangan yang selalu ada di tas sekolahnya. Teman sekelas dan luar sekolah bahkan guru pun membeli barang dagangannya. “Di akhir sekolah, saya dapat untung banyak. Ketika itu menjadi tour leader. Pendapatan dari jasa pariwisatanya cukup untuk bekal tambahan wisata kala itu” ingatnya.

Di bangku perkuliahan semakin menjadi ajang bakat berdagang Garina. Beberapa kali Garina mendirikan usaha seperti bumbu pecel untuk gado-gado. Dia buat sendiri dan didagangkan di penjual gado-gado. Cukup menguntungkan baginya. Di tahun 2013 lalu, selain usaha batiknya Garina juga mendirikan kafe di Blitar. Baginya, menjadi seorang wirausahawan harus mampu menjalankan penghasilan yang didapatkan. Demi mempraktekkan ilmunya dalam mengelola keuangan, Garina mendirikan kafe bermodalkan 30 juta rupiah. Kala itu dia mengajak anak-anak yang kurang beruntung menurutnya. Beberapa dari pegawainya ada yang mengkonsumsi narkoba, peminum, bahkan bertato. Inilah salah satu semangat Garina untuk membantu mereka. Dia merasakan kepuasan batin ketika para pegawainya sudah jauh dari kehidupan terlarang itu. Meskipun usaha ini tidak berjalan dengan baik dan akhirnya ditutup, setidaknya semua pegawainya sudah terbebas dari belenggu kehidupan kelamnya.

Melalui usaha Garina Collection, Garina mencurahkan seluruh tenaganya untuk berkreasi. Logo dolphin menjadi identitas usaha perempuan berambut ikal ini. Logo dolphin ini bukan asal dipilihnya, tetapi ada makna yang menjadi pondasi awal wirausahanya. Dia menyukai sosok binatang satu ini, selain itu dolphin adalah makhluk mamalia yang cerdas dan berkemampuan, serta dia ada untuk membantu orang lain. Kemampuan-kemampuan dolphin ini yang mengilhami Garina untuk menjadi berguna bagi orang lain dengan karya yang dihasilkannya.

Sumber : Buku Jejak Entrepreneur Universitas Airlangga