Tekankan Pola Pikir Kritis untuk Transformasi Perekonomian Thursday, 19 October 2017 05:00

ekonomi
Dra. Eva Kusuma Sundari, M.A., M.Dev, Anggota Komisi III DPR RI memberikan kuliah umum di FEB UNAIR. (Foto: Siti Nur Umami)

UNAIR NEWS – Perekonomian di Indonesia terus bergerak mengikuti perkembangan yang ada. Sejarah perekonomian menunjukkan, terjadi berbagai dinamika ekonomi, mulai dari krisis finansial, kebutuhan hutang, pengambilan kebijakan, hingga kemajuan teknologi yang membawa tantangan tersediri.

Menjawab dinamika tersebut, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) menghelat kuliah umum bertajuk Transformasi Perekonomian Indonesia, Rabu (18/10). Hadir sebagai pemateri, Dra. Eva Kusuma Sundari, M.A., M.Dev, Anggota Komisi III DPR RI. Kuliah umum ini membahas napak tilas perekonomian Indonesia yang berkembang hingga saat ini.

Bertempat di Aula Fajar Notonegoro, Wakil Dekan III FEB, Nisful Laila, SE., M.Com, secara personal merasa bangga atas kedatangan Mbak Eva – sapaan akrabnya- sebagai alumnus FEB UNAIR yang hadir untuk berbagai ilmu pengetahuan.

“Kegiatan ini salah satu bentuk ‘Alumni Pulang Kampung’, yaitu kegiatan yang menghadirkan alumni-alumni untuk menginspirasi dan berbagi,” tutur Nisful dalam sambutannya.

Dalam kesempatan itu, Eva mengajak peserta untuk membentuk pola pikir mereka. Terdapat tiga bentuk pola pikir, yakni magical yang cenderung mempercayai takdir, naif yang cebderung menghakimi, serta kritis yang selalu mencari runtut sebab akibat sebuah persoalan.

“Kalau kita memilih untuk berfikir naif, maka kita hanya akan menyalahkan kondisi yang ada. Sedangkan dengan berfikir kritis, maka kita akan mengetahui bagaimana suatu fenomena terjadi,” Jelas Eva yang merupakan alumnus S-1 Ekonomi Pembangunan.

Menurut perempuan kelahiran Nganjuk, 8 Oktober 1965 ini, Indonesia belum menjadi negara mandiri, meskipun nilai pendapatan domestik brutonya tinggi, rasio hutang rendah, serta memiliki cadangan devisa tinggi dalam 15 tahun terakhir. Hal ini lantaran belum intensifnya division of labour, yakni nilai dasar tukar negara berkembang dengan basis pertanian lebih kecil dibanding negara industri.

“Dalam berfikir kritis, penyebab ketidakmandirian adalah faktor eksternal, seperti teknologi terbatas infrastruktur yang tidak memadai, serta hak kepemilikan yang terpusat pada negara-negara utara,” tuturnya.

Tak hanya itu, menurut Eva, stabilitas negara memiliki pengaruh dalam meningkatkan perekonomian. Semakin stabil kondisi negara, maka iklim investasi akan tumbuh.

Ke depan, untuk mengantisipasi tren dan dinamika perekonomian, DPR berupaya untuk terus kritis dan update

Sumber : http://news.unair.ac.id/2017/10/18/tekankan-pola-pikir-kritis-untuk-transformasi-perekonomian/