Datang ke Suatu Tempat, Tinggalkan Yang Baik-Baik Thursday, 02 November 2017 04:36

Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP tidak berubah meski saat ini menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud). Dia menduduki kursi itu sejak 17 Juli 2016. Gayanya masih seperti ketika menjadi dosen dan rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Spontan. Sosok pribadi yang sabar dan santun.

 Ditemui di ruang kerjanya di Lantai 2 Gedung Ki Hadjar Dewantara, Kemendikbud, Muhadjir menyambut ramah. Tidak ketinggalan selingan gurauan yang menyegarkan suasana pertemanan.

Setelah diberi ucapan selamat karena belum lama menjadi Mendikbud, Muhadjir berujar, ”Jabatan itu titipan Allah SWT. Kapan pun bisa dicabut.”

Karena memiliki visi seperti itu, kata guru besar Universitas Negeri Malang (UNM), punya jabatan juga harus siap-siap untuk turun.  

Menurut suami Ny. Suryan Widati ini, dengan bervisi demikian, dirinya tidak  kaget ketika naik jabatan. “Ketika turun jabatan juga tidak stres,” ujarnya.

Muhadjir berpendapat bahwa kita hidup harus berbuat sesuatu yang diperhitungkan orang lain. Kita harus menunggu peluang daripada berebut saling senggol. “Gak usah ngoyo,” kata bapak tiga anak ini seraya menegaskan bahwa jika diberi kebaikan, balaslah dengan yang lebih baik.

Sebagai guru, pria kelahiran Madiun ini memiliki sifat ulet yang patut dicontoh dalam belajar. Ketika menyelesaikan studi S-2 tentang kebijakan publik di Pascasarjana Universitas Gajah Mada (UGM) –yang diselesaikannya pada 1996– dia sering pergi-pulang dengan menyetir mobil sendiri.

“Suatu ketika saya pernah sakit perut di Sragen dalam perjalanan pulang dari Yogya ke Malang. “Saya terpaksa masuk rumah sakit,” kenangnya.

S-2 di UGM. S-3 di Unair. “tapi, S-1 saya di IKIP Malang (saat ini Universitas Negeri Malang–UNM),” tutur ayahanda Muktam Roya Azidan (11), Senoshaumi Hably (6), dan Harbantyo Ken Najjar (4) ini.

Bimbingan Terbaik Guru Besar Unair

Muhadjir menyelesaikan S-3 studi sosiologi militer di Program Pascasarjana Unair pada 2008. Dia mengaku mendapatkan bimbingan yang bagus dari para guru besar. Apalagi, saat itu Muhadjir harus menjalani perkuliahan beda-beda tempat. Kadang di Malang, selain yang rutin di Unair.

“Saya berterima kasih kepada Prof. Hotman Siahaan dan Prof. Ramlan Surbakti. Beliau memberikan bimbingan terbaik ketika saya menemukan kesulitan,” katanya. Disertasi Muhadjir di Program Pascasarjana Unair adalah ”Persepsi Perwira Menengah tentang Profesinoalisme Militer.”

Muhadjir juga mengapresiasi pimpinan Unair yang memiliki renstra kerja untuk menjadi 500 perguruan tinggi kelas dunia. “Unair punya potensi ke sana (500  dunia),” tuturnya.

Tentu saja tidak mudah. perlu usaha keras. Perbaikan sistem perkuliahan harus terus dilakukan. “Jika itu sudah dijalankan, insya Allah Unair bisa masuk 500 perguruan tinggi world class,” kata Mendikbud yang saat ini terus mendorong profesionalisme guru itu.

Sumber : Buku Jejak Langkah Ksatria Airlangga