Dari Juragan Kambing Hingga Juragan Garmen Thursday, 09 November 2017 08:48

Hidup di lingkungan keluarga yang hampir semuanya merupakan pedagang. Bisa jadi bakat yang ia miliki dan dunia yang ia tekuni sekarang merupakan turunan dari keluarganya. Mohammad Ali Irsyad atau biasa disapa sebagai Ijad kini telah menikmati masa-masa menjadi seorang wirausaha. Memulai bisnis sejak duduk di bangku SMA Ijad sudah akrab dengan dunia dagang atau wirausaha. Mulai dari jualan pulsa dan bahkan jualan parfum pernah ia lakoni. Tak berhenti sampai disana, menginjak kelas 12 dia memulai bisnisnya berjualan kambing. Berawal dari hanya menjadi seorang reseller dari teman yang memiliki peternakan dengan stok yang banyak, dia pun memandang bisnis ini bisa ia kerjakan lebih serius lagi. Bisnis yang dia mulai sejak zaman putih abu-abu itu pun kini mulai menampakkan hasilnya. Bisnis yang ia beri label “Ijad Farm” ini telah meraup omset hingga 300 juta pertahun. Bahkan Ijad farm telah mampu megekspor kambingnya ke Timor Leste. Jumlah ternak yang ia miliki pun terus bertambah, tak kurang 100 ekor kambing dan 20 an ekor sapi dia gembalakan dibantu oleh 8 karyawannya.

Menginjak dunia kuliah ia pun tak puas hanya sampai disitu saja, pria berkacamata ini pun terus menambah lini usahanya. Dikarenakan “Ijad Farm” merupakan usaha yang memberikan profit per tahun, dia pun mulai merambah bisnis usaha lain. Garmen menjadi salah satu usaha yang kini ia tekuni. Usaha garmen yang diberi label Rumah Kapas ini bermula saat ia terjun di dunia event organizer. Event organizer yang ia tumpangi ternyata memiliki banyak partner yang bergerak di bidang garmen. Suatu ketika ia di diminta untuk mengerjakan produksi garmen dan jumlahnya cukup banyak. Berbekal dari relasi yang ia dapat ketika bergabung di event organizer, Ijad pun “numpang” ke salah satu partnernya yang bergelut di bidang garmen. Dari sini order pun terus meningkat, tak kurang lima pesanan ia peroleh tiap bulannya waktu itu.

Mencoba berpikir panjang, Ijad pun memberanikan diri untuk mengembangkan dan memiliki garmen sendiri. Satu hal yang mungkin sangat jarang ditemui di garmen lain yaitu Ijad berani memberikan jaminan DP 0%. “Jadi seringkali menjadi cepat deal, tidak usah bayar di awal, DP nya 0%. Terkadang saya memberi penawaran kalau tidak punya dana dibayar 1/2/3 bulan lagi. Yang penting deal dulu,” ujarnya. Kini garmen miliknya mampu mencatat omset hingga 2,5 miliar per tahun. Tidak kurang 20 orang pekerja dan 60 tenaga freelance yang bekerja di garmen miliknya.

Ada satu lagi usaha yang kini sedang ia bangun bersama beberapa rekannya. Comp Entreprises merupakan usaha yang bergerak di bidang event organizer dan membantu klien untuk memberikan solusi melalui marketing communication, rebranding, dsb. Usaha yang baru lahir 6 bulan yang lalu ini sudah mampu mengantongi omset hingga 100 juta. Kalau ditanya soal modal, Ijad sendiri mengakui bawasannya usaha yang ia jalani kini dimulai dengan modal yang sangat sedikit dan bahkan tanpa modal. Sebut saja Ijad farm yang ia mulai dengan hanya menjadi reseller. Selain itu ia mengumpulkan modalnya dari hasil ia bekerja.

Ijad pun memandang bawasannya bekerja merupakan cara yang paling efektif untuk mendapatkan modal. Saat ini total ada 16 perusahaan yang mencatat namanya sebagai karyawan di perusahaan tersebut. Dengan cara inilah Ijad mampu memperoleh modal usahanya dan dengan hasil kerja kerasnya ini ia sampai berani memberi penawaran DP 0% di usaha garmennya.

Melihat usahanya yang kian membesar tentu saja pengalaman yang luar bisa tentunya hal tersebut menjadi salah satu alasan Ijad menjadi seperti sekarang ini. Kisah manis pahitnya dunia usaha pun sepertinya sudah menjadi “jamu” baginya. Salah satu pembelajaran yang tak pernah ia lupakan ketika Ijad Farm harus kehilangan keuntunganya hingga 50 juta. “Itu karena waktu itu agak ditipu menurut saya,” tuturnya. Stand hewan kurban yang seharusnya berjumlah 35 stand tiba-tiba saja bertambah hingga 60 stand. Tentu saja hal ini akan berpengaruh terhadap supply hewan kurban yang tidak seimbang dengan demand nya kala itu.

Alhasil Ijad pun harus mengeluarkan biaya ekstra untuk sisa dagangan yang belum terjual. Komplain dari pelanggan garmennya pun sering ia dapatkan. Berbagai hal seperti order yang tidak selesai tepat waktu karena pengiriman bahan baku yang telat, dsb. Muara dari apa yang Ijad lakukan ini semata-mata hanya ingin memberikan manfaat kepada publik. “Kalau misalnya harus membuat 100 perusahaan untuk bisa lebih bermanfaat lagi mungkin itu yang saya kejar. Terus yang saya harapkan dari perusahaan itu mereka bisa berkembang lebih besar lagi, bisa lebih masif lagi, dan tujuan utamanya sama, yaitu bisa memberikan kemakmuran dan manfaat yang lebih besar lagi,” tegasnya.

Dengan statusnya sebagai seorang wirausaha sekaligus karyawan ini tentu banyak yang bertanya bagaimana dengan prestasi kuliahnya. Pengalaman banyak mengajarkannya untuk menyeimbangkan antara keduanya. Dengan IPK di atas 3,5 tentu saja ini merupakan capaian yang sangat bagus mengingat banyak tanggung jawab dan kesibukan yang ia jalani. Menurutnya, you have to do what you love, and love what you do. “Kalau Anda merasa bawasannya bisnis itu benar-benar apa yang Anda cintai lebih dari kuliah, ya silahkan diatur lagi bisnisnya memiliki porsi yang lebih banyak. Karena saya yakin 100% ketika kita mengerjakan apa yang kita cintai itu output nya akan jauh lebih besar daripada kita dipaksa untuk melakukan sesuatu yang tidak kita cintai,” tegasnya lagi.

Sumber : Buku Jejak Entrepreneur Universitas Airlangga