Bisnis Katering Dengan Hobi Dokter Kandungan Friday, 10 November 2017 01:57

Kegemaran yang produktif kadang mengalahkan pekerjaan formal. Karena itu, sering ada jokes bahwa pekerjaan bisnis katering, sedangkan dokter kandungan hanya hobi. Jokes itu, tampaknya, pas disematkan kepada Dr. Hari Paraton, dr., Sp.OG.

Dokter kandungan kelahiran Kediri itu sudah sangat dikenal, terutama di Surabaya. Namun, hanya sedikit orang yang tahu bahwa dia punya hobi menguntungkan, kuliner. Bukan sekadar sebagai pengincip (suka mencicipi) makanan, tapi juga pengetahuan tentang makanan dan ilmu masak-memasak. Buktinya, dia mengembangkan hobinya sebagai bisnis.

Sekarang bisnis keluarga itu dilanjutkan anak pertamanya, Amanda, yang juga alumnus FK Unair. Sementara Dr. Hari menekuni ’’hobi’’ yang lain sebagai kepala Divisi Uroginekologi & Rekonstruksi Dep/SMF Obstetri Ginekologi FK Unair RSUD dr. Soetomo. Selain itu, ayah tiga anak tersebut menjabat kepala Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA) Kemenkes RI.

Dokter Hari punya filosofi luhur tentang jabatan atau pekerjaan. Yaitu, jangan mencari keuntungan untuk diri sendiri di atas penderitaan orang lain.

Posisi atau jabatan apa pun adalah untuk bekerja. Kehadirannya harus bermanfaat bagi teman sekerja, tempat bekerja, institusi secara keseluruhan dan masyarakat yang terkait dengan profesi atau institusi tempat bekerja.

Untuk itu, dia harus selalu siap meningkatkan pengetahuan dan kemampuan melaksanakan tugas. Yang tak kalah penting adalah menjaga relationship dan kebaikan dengan semua pihak.

Perguruan Tinggi Hebat Hanya Mengejar Peringkat

Ada persoalan bangsa yang mendesak harus ditangani. indonesia sudah sepakat tentang Masyarakat ekonomi asean (MEA). Hari menilai kesepakatan ini hendaknya selalu disosialisasi dan dikaji secara baik.

Dalam pandangannya di Indonesia banyak perguruan tinggi hebat. Tapi, mereka hanya mengejar peringkat. Mengapa potensi ini tidak diarahkan untuk memecahkan masalah dengan mencari solusi strategis? Untuk mencapai equality pada era Mea, diperlukan kesetaraan status income per kapita dan pertumbuhan ekonomi nasional.

Pemerintah sedang berupaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Hal itu harus didukung dengan baik. Asean production base merupakan masalah serius yang tidak pelu dipertentangkan lagi. Tapi, diupayakan solusi lebih baik, agar Indonesia siap dan layak dijadikan kawasan industri ASEAN yang memproduksi komoditas kebutuhan dunia. SDM yang sesuai dengan kebutuhan industri masal ASEAN, serta kemampuan komunikasi setara antar penduduk ASEAN.

Tugas perguruan tinggi (PT) adalah menjawab tantangan tersebut. Baik di level ASEAN maupun dunia secara keseluruhan. Saat ini PT belum diarahkan ke sana. Contohnya, lulusan pt tak harus bisa berkomunikasi bahasa inggris secara aktif.

Apa pun jurusan/fakultasnya, pemahaman masalah global harus dijadikan mata kuliah pokok. padahal, aspek bahasa dan pemahaman masalah global adalah modal mutlak untuk saling berkomunikasi setara dengan dunia internasional.

Ambisi menjadi yang terbaik, semisal meraih peringkat 500 dunia merupakan usaha yang excellent. Tapi, outcome intellectual dalam bentuk konsep kajian mau-pun sDM alumni Unair harus bisa menjawab tantangan nasional, regional, dan global.

Lebih jauh Hari memaparkan, Unair adalah institusi pemerintah. Karena itu, unair mesti independen dalam bertindak dan menonjol dalam pengaturan internal yang mampu mengetengahkan produk intelektual terkemuka.

Sampai saat ini peran alumni belum diakomodasi secara baik. Kendalanya, di kalangan internal dikotomi golongan terus terpelihara dan dipertahankan. Tentu akan sulit mendapatkan partisiasi dan dukungan secara total.

Di mata Hari, dari dulu hingga kini PT terlalu klasik. Continual improvement selalu gagal paham untuk menemukan orientasi ke depan. Yang perlu dibenahi adalah peran pokok PT dalam menyediakan tenaga pengajar berkaliber internasional dan lulusan ’’hebat”. Mereka diharapkan mampu menjunjung kebenaran dan budaya luhur bangsa Indonesia, tetapi berkapasitas sebagai solution maker pada level nasional, regional, dan internasional.

Suami dr. Sjahjenny Mustokoweni, Sp.PA, kepala Dep/SMF Patologi Anatomi FK Unair/RsUD dr. Soetomo itu bekerja sebagai dokter di berbagai lokasi rig pengeboran minyak lepas pantai selama setahun setelah lulus FK Unair.

Pada 1982–1983 dia bertugas di Puskesmas Becora, Dili, Timor Timur (Timor Leste). Dia kembali ke pengeboran minyak lepas pantai sampai 1984. Pada 1985 Hari mengikuti pendidikan spesialis Obstetri Ginekologi di FK Unair/RSUD dr. Soetomo sampai 1989.

Lulus SpOG dia kembali ke Timor Timur (1990–1992). Dia bertugas di RSUD Bacau Timor Timur selama setahun, dilanjutkan ke RSUP Dili satu tahun.

Pada 1993 sampai sekarang dia bertugas sebagai staf di Dep/SMF Obstetri Ginekologi FK Unair/RSUD dr. Soetomo Surabaya. Untuk melengkapi divisi di Dep/SMF Obgin, pada 2005 Hari merintis pendirian Divisi Uroginekologi & Rekonstruksi. Saat ini divisi tersebut punya 4 staf, 3 konsultan dan 1 staf baru.

Pada 2002 sampai 2005 dia aktif bergabung dengan kelompok AMRIN, Antimicrobial Resistance in Indonesia. Badan ini hasil kolaborasi antara FK Unair/ RSUD dr. Soetomo, FK Undip-RSUP dr. Kariadi, Leyden University Medical Center, Erasmus/Rotterdam UMC, dan Neijmegen UMC.

Mereka melakukan penelitian bersama untuk membuktikan adanya prevalensi bakteri resisten terhadap antibiotik di Indonesia. Sejak 2005 bersama Kementerian Kesehatan melaksanakan PPRA/program pengendalian resistensi antimikroba secara nasional di 20 rumah sakit pendidikan.

Pada 2014 Hari dilantik oleh menteri kesehatan melalui SK Menkes HK02.02/MENKES/2014 sebagai ketua Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA) dengan masa tugas sampai 2019.

Hari juga aktif di berbagai organisasi profesi. Dia ketua POGI cabang Surabaya, pengurus PB POGI, PKMI, Jaringan Nasional Pelatihan Klinik, IDI, HUGI, dan Perkina.

Sumber : Buku Jejak Langkah Ksatria Airlangga