Sosok Hukum Di Balik Mall Wednesday, 15 November 2017 02:29

Megahnya pembangunan pusat-pusat perbelanjaan di Surabaya tak bisa dilepaskan dari sosok Omar Ishananto. Lelaki kelahiran Kertosono, Gganjuk, 22 Februari 1940 itu selama lebih dari dua dekade menjabat direktur PT Pakuwon Jati, pengembang.

Salah satu ’’monumen’’ capaiannya adalah Tunjungan Plaza atau yang akrab isebut TP. Pusat perbelanjaan itu menjadi primadona Surabaya, mal pertama di ibu kota provinsi Jawa timur tersebut.

Pada 1980-an di Surabaya belum ada mal. Kalaupun ada, pengelolaannya tidak berstandar mal. Salah satunya adalah Wijaya (kini BG Junction). Wijaya belum berkonsep mal. Lantainya kerap kotor dan mobilitas pengunjung tidak difasilitasi eskalator dan elevator.

Karena itu, begitu pembangunan TP dimulai pada 1986 banyak reaksi yang bermunculan. Tidak hanya yang pro, yang kontra juga tak kalah banyak. Mereka yang menolak pembangunan beranggapan bahwa warga surabaya belum siap memiliki mal. Mal juga dianggap memicu munculnya sifat-sifat konsumerisme. Demo menolak pembangunan tp terus terjadi. Omar termasuk orang yang berani menghadapi semua demonstrasi tersebut secara langsung.

Setelah lebih dari tiga dekade berlalu, Tp kini menjelma sebagai tetenger khas Surabaya. Belum lengkap berbelanja di Surabaya jika tidak ke TP. tanpa TP, wajah Surabaya bakal jauh dari kesan modern. Surabaya juga tak bakal punya salah satu pusat fashion berkelas.

Namun, banyak yang tidak tahu bahwa salah satu tokoh di balik sukses mal yang kini memasuki pembangunan keenam tersebut adalah Omar. Dia masuk Pakuwon Jati pada 1989 dengan jabatan langsung direktur. Selain TP, sejumlah gedung yang dibangun Pakuwon juga atas kontribusi Omar. Bapak enam anak tersebut ikut berperan dengan wawasan hukumnya yang luas.

Bahkan, setelah pensiun dari jabatannya di Pakuwon pada 1 Juli 2012, banyak yang datang kepadanya untuk berkonsultasi. Terutama terkait pembangunan pusat perbelanjaan dan realestat. Mereka menilai bahwa Omar adalah orang yang tepat. ini mengingat kiprahnya di dunia pembangunan cukup panjang. Pemahamannya terhadap peraturan dan ketentuan pembangunan mal sangat detail.

Pemahaman Omar terkait regulasi memang didapatkan dari kiprahnya di Pakuwon selama lebih dari 2 dekade. Namun, pengetahuan soal hukum dia dapatkan dari kampusnya, Universitas Airlangga.

Dia lulusan Fakultas Hukum Unair, Jurusan pidana pada 1969. Omar masuk Unair pada 1961. Waktu yang dibutuhkan Omar untuk lulus memang cukup panjang. Sekitar 8 tahun. Tapi, itu bukan tanpa alasan. Di era tersebut, para pengajar adalah dosen dari Universitas Gadjah Mada. ujian dan perkuliahan bergantung pada kehadiran dosen dari Yogyakarta. Selain itu, saat masih kuliah, Omar sudah aktif bekerja.

Bela Orang Miskin Dapat Bingkisan Telur

Begitu lulus sekitar 1970-1971 Omar mendirikan kantor hukum dengan fokus perkara pidana. Kehidupan menjadi pengacara itulah yang memengaruhi pandangan hidupnya tentang segala hal. Omar bertemu banyak manusia dari segala lapisan masyarakat. Mulai yang tertinggi hingga yang terendah. Apalagi, dia juga pernah mengalami masa-masa kemiskinan yang parah. Naik turunnya takdir hidup itu dia jalani dengan ikhlas. prinsipnya, ojo dumeh.

Saat menjadi pengacara, Omar cukup peduli terhadap para pencari keadilan dari kalangan kaum alit. Suatu ketika, dia menangani dugaan pembunuhan yang dilakukan seorang bocah dari Lamongan. Dia dianggap membunuh lelaki tinggi besar yang sejatinya merupakan preman di kawasannya.

Omar membantu memperjuangkan keadilan bagi anak tersebut. Dia yakin anak itu tidak bersalah. Bagaimana mungkin seorang anak kecil bisa mengatasi lelaki tinggi besar tersebut. Argumen dan alat bukti yang dia sampaikan akhirnya menyelamatkan bocah tersebut dari ancaman pidana. Ibu sang bocah berterima kasih sambil menangis karena putusan bebas untuk anaknya hampir mustahil.

Esoknya, saat membuka pintu rumah, betapa terkejutnya Omar. Di hadapannya bocah tersebut datang bersama ibunya. Mereka membawa beberapa butir kelapa dan telur. Mereka bilang hanya itu yang bisa dia berikan kepada Omar.

tangis Omar pecah. Dia terharu melihat ketulusan mereka.

Kejadian tersebut akan selalu diingatnya. sebab, itu adalah bayaran ”termahal” yang pernah dia terima. perasaan haru dan bahagia karena bisa membantu bercampur menjadi satu.

Sumber : Buku Jejak Langkah Ksatria Airlangga