Berbagi Lewat Aplikasi Berbasis Saling Mendukung Friday, 12 January 2018 03:24

 

Memilih untuk melanjutkan studi di Sistem Informasi bagi Audrey adalah sebuah keinginan untuk belajar lebih lanjut. Diawali dengan hobi membaca buku otobigrafi dari pemuka teknologi seperti Bill Gates, Steve Jobs, Larry Page dan masih banyak lagi semakin memicu keingintahuan Audrey terhadap komputer.

Terlalu sering melihat status timeline di media sosial, Audrey menemukan banyak status dan tweet dari orang-orang di sekitarnya yang isinya kesedihan, kegalauan, dan bahkan depresi. Rasa iba menghampiri Audrey karena teman-temannya justru mem-bully komentar-komentar dari postingan orang-orang yang sedang memiliki masalah tersebut. Dengan keanehan fenomena tersebut, Audrey mencoba melakukan riset singkat.

“Dari sini saya belajar bahwa di balik hiruk pikuk kemeriahan, kegembiraan, dan kesenangan dalam media sosial mulai dari selfie sampai nongkrong-nongkrong hits, masih banyak orang di luar sana yang mengalami kehidupan sehari-hari yang berat,” tutur Audrey dikutip dari Ziliun.com memberi pernyataan. Baginya, mengapa tidak dibuat sebuah program yang dapat membantu orang-orang yang depresi, tidak mengenal mereka bukan berarti tidak bisa membantu satu sama lain. Akhirnya, dengan segala rumusan masalah beserta tujuannya, Audrey pun mengembangkan bakatnya dalam membuat sebuah aplikasi bernama Riliv.co.

Riliv.co merupakan sebuah aplikasi yang menjadi jembatan bagi para klien yang memiliki masalah untuk mendapatkan teman curhat yang membantu memberi saran atas permasalahan user. Audrey mulai membuat aplikasi ini sejak tahun 2015 sejak mengikuti program Startup Surabaya. Dengan kemampuannya mengoperasikan teknologi berbasis aplikasi, Audrey juga menggandeng sejumlah psikolog di aplikasinya.

Tentu bukan sesuatu yang mudah dalam mengembangkan usaha ini. Hambatan yang dihadapi pun berbagai macam. Membangun bisnis digital seperti yang dilakukan Audrey ini memiliki kesulitan dalam sumber daya manusia, produk, dan pengolahan bisnisnya. Namun yang lebih menantang adalah bagaimana cara meyakinkan para partner serta memberi edukasi di pasaran untuk menggunakan produk berupa aplikasi pada versi-versi awal tersebut. Dengan banyak belajar bersama para mentor dan teman bisnis, bagi Audrey dapat membantu mengatasi hambatan yang ada. “Saya rasa kalau Indonesia semuanya berpikir untuk gotong royong atau saling berkolaborasi, Indonesia bisa jadi bangsa yang besar.”

Kerja keras yang dilakukan Audrey tidak pernah sia-sia, ia mendapat sejumlah prestasi yang menbanggakan diantaranya menjadi pemenang dalam kompetisi Satu Mulai pada tahun 2015 yang diselenggarakan oleh Google Indonesia, Best 16 Young Social Entrepreneurs (YSE) 2016, juara pertama Ideacanvas Aseanpreneur 2013 dan pemenang Wempy Dyocta Koto Award 2015.

Audrey berharap dengan aplikasi yang dikembangkan ini semakin meningkat. “Dengan misi Riliv, kami berharap dapat membantu setiap orang dalam membangun kualitas pola pikir yang damai di dalam dirinya. Baru setelah itu, kami percaya kedamaian dunia akan tersebar dengan sendirinya sehingga dengan adanya kualitas emotional intelligence yang lebih baik yang dibangun sejak dini, dimasa depan masyarakat Indonesia tidak akan bekerja lebih keras, tetapi akan bekerja lebih pintar,” pungkas Audrey. (tak)

 

Sumber: Jejak Entrepreneur Universitas Airlangga

Tags :