Juansih, Polwan Berpangkat Jenderal yang Bergelar Doktor Terbaik Friday, 01 October 2021 04:25

Brigjen Pol. Dr. Dra. Juansih, SH, M.Hum, merupakan wanita tangguh. Dia bekerja di kepolisian, mengurus rumah tangga, dan bisa menamatkan pendidikan dengan predikat terbaik. Ya, wanita kelahiran 2 Agustus 1964 ini memang patut menjadi contoh bagi wanita saat ini, karena semangat dan pengabdiannya mampu membuktikan jika wanita bisa menyamai laki-laki dalam berkarir, dan tetap menjadi ibu rumah tangga yang baik dirumah. Dimulai sejak tahun 1989, dimana ibu dari tiga anak ini memilih kepolisian sebagai pilihan karirnya. Sejak saat itu, Juansih telah menjabat sebagai Inspektur Muda pada Sepolwan dengan pangkat Letnan Satu (Lettu), karirnya terus menanjak. Hanya selang 14 tahun, Juansih menjadi Kapolres Surabaya Timur, wilayah masuk kategori tipe A, yang dikenal dengan basis supporter Persebaya, Bonek Mania. Di sana ia berpangkat Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) pada 2004.

Juansih yang kerap dipanggil “bunda” oleh para Bonek dianggap bisa mengayomi sekaligus menjadi ibu dari suporter yang terkenal garang di Indonesia tersebut. contohnya, ketika ia membuat kebijakan mewajibkan setiap penonton, untuk membeli tiket pertandingan ketika persebaya bermain. Hingga ada suporter yang bertanya, “apakah boleh membeli satu tiket untuk beberapa orang?,” lantas dengan tegas, Juansih mengatakan “Tidak boleh, kalau kamu mau begitu, kamu gendong tuh mereka semua,” ucapnya. Namun, sebagai polwan yang mempunyai jiwa keibuan, Juansih juga memberikan kompensasi. Dia memerintahkan anak buahnya untuk memberikan makanan ringan atau snack kepada setiap penonton yang membeli tiket pertandingan Persebaya.

Selepas dua tahun menjadi Kapolres Surabaya Timur, Istri dari Teddi Supriadi ini menapaki karir yang terus menanjak. Dia menjadi Kapolres Batu, Malang pada tahun 2007, Wakapolwil Bojonegoro pada 2008, dan Kepala Biro (Karo) Pers Polda Banten pada 2009. Setahun berselang, dia kembali ke Jawa Timur, menjabat Karo Logistik Polda Jatim pada 2010. Di posisi ini pangkat Juansih naik dari Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) menjadi Komisaris Besar Polisi (Kombes Pol) dan beralih menjadi Karo Sarpras Polda Jatim pada 2011. Pada 2013, Juansih mengikuti Sekolah Staf dan Pimpinan Tinggi (Sespimti) Polri dan setelah selesai, ia ditarik ke Ibukota Jakarta dengan jabatan Kabag Sarpras Polri. Kemudian menjadi Kabidjemen Sespim Polri. Sejak Februari 2017, Ia mulai berkarir sebagai Direktur Pemberdayaan Alternatif Deputi Bidang Pemberdayaan Masyarakat BNN. Dan puncak karirnya yang didapat saat ini adalah menjabat sebagai Analis Kebijakan Utama bidang Bindiklat Lemdiklat Polri sejak Agustus 2018.

Cumlaude dan Menjadi Yang Terbaik

Dengan karir yang terus menanjak di Polri, ditambah harus mengurus anak tanpa pembantu rumah tangga, Juansih justru tidak melupakan pendidikannya. Dia melanjutkan pendidikannya sampai tingkat tertinggi, pendidikan doktor, di Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga, Surabaya. Bahkan, ia memperoleh nilai yang nyaris sempurna dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) mencapai 3,96 pada tahun 2015. Prestasi tersebut wajar terlihat karena tekad Juansih yang begitu kuat mengejar pendidikan. Baginya, menuntut ilmu itu sepanjang hayat, tidak peduli berapa usia seseorang asalkan ada kemauan, pasti ada jalan. “Apa yang saya raih saat ini bisa saja menjadi contoh wanita berkarir di dunia hukum,” ujar wanita yang pernah bercita-cita menjadi atlet tersebut.

Untuk menamatkan pendidikan doktor di UNAIR, Ia memilih disertasi yang tak jauh dari profesinya sebagai Polwan, yakni mengenai “Pengaruh Optimalisasi Pengembangan Sumber Daya Manusia Petugas Polmas dalam Bentuk Diklat, Transfer of Knowledge dan Capacity Building.” Jika dilihat judul disertasi yang diambil cukup mudah dalam studi hukum, tetapi tidak demikian bagi Juansih. Apalagi melihat efeknya yang cukup besar bagi masyarakat. Sebab, selama ini Polmas (setara dengan Babinkamtibmas) jarang sekali berhubungan langsung dan mendengar keluhan masyarakat. Padahal Polmas menjadi garda terdepan dalam penegakan hukum.

Selain itu, Polmas menjadi penyaring persoalan yang terjadi di masyarakat, apakah memang harus dilanjutkan sesuai hukum yang berlaku atau bisa diselesaikan secara musyawarah? “Mereka (Polmas) secara capacity building belum tahu, kehadiran mereka di masyarakat kebutuhannya kan belum tahu,” terangnya. Terakhir, Juansih yang merupakan satu dari empat jenderal wanita yang ada di Polri saat ini. Mengatakan, dengan memegang teguh tanggung jawab akademik sebagai lulusan UNAIR, perlu menerapkan motto “Excellence With Morality” dalam kehidupan sehari-hari ketika bertugas maupun ketika bermasyarakat. “Karena dengan motto itu, secara tidak langsung UNAIR akan tetap menjadi kebanggaan bagi seluruh masyarakat, semakin unggul dan hebat untuk mewujudkan SDM yang unggul (untuk) Indonesia Maju,” pungkasnya.

Tags :