UNAIR NEWS – Fakultas Hukum (FH) Universitas Airlangga (UNAIR) kembali menyelenggarakan seminar inspiratif bertajuk Lebih dari Sekadar Kuota: Politik Perempuan yang Mengubah, Bukan Menghias pada Sabtu (25/10/2025). Acara ini menghadirkan dua narasumber perempuan inspiratif. Antara lain Wakil Ketua IV DPRD Provinsi Jawa Timur Sri Wahyuni, serta UN Women Indonesia Hosiana Rugun Anggraini. Keduanya membahas peran perempuan dalam politik kontemporer Indonesia dan tantangan dalam memperjuangkan sistem politik yang lebih inklusif dan berkeadilan.
Representasi dan Partisipasi Perempuan dalam Politik
Dalam pemaparannya, Sri Wahyuni menegaskan bahwa politik saat ini tidak lagi menjadi ruang eksklusif bagi laki-laki. Menurutnya, saat ini semakin banyak perempuan yang berani hadir dan bersuara di ranah politik. Namun, perjuangan untuk benar-benar berpengaruh masih panjang. “Politik bukan lagi ruang eksklusif bagi laki-laki. Kini semakin banyak perempuan hadir dan berani bersuara, tetapi perjuangan belum selesai dari ada menjadi berpengaruh,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa nilai-nilai yang melekat pada perempuan justru sangat perlu dalam dunia politik, seperti empati, rasa peduli, dan integritas. “Di ruang politik, nilai-nilai perempuan justru dibutuhkan. Perempuan adalah garda pembawa wajah baru politik yang berlandaskan empati, keadilan sosial, dan kepedulian,” jelasnya.
Menurut Sri Wahyuni, sistem politik yang inklusif memerlukan jaminan kesetaraan dan keberanian moral untuk memperjuangkan prinsip-prinsip kemanusiaan. Indonesia sendiri telah meratifikasi berbagai konvensi internasional untuk menjamin kesetaraan gender, baik secara moral maupun konstitusional.
Efektivitas Kuota Perempuan dan Tantangan Nyata di Lapangan
Lebih lanjut, Sri Wahyuni membahas efektivitas kebijakan kuota perempuan 30 persen dalam sistem politik pemerintahan Indonesia. Ia menilai bahwa keberadaan kuota hanyalah langkah awal menuju perubahan yang lebih substantif. Perempuan yang terpilih menghadapi tantangan baru yakni membuktikan kapasitas dan ketegasan, menavigasi sistem politik yang maskulin, serta menjaga integritas dan idealisme.
Ia menegaskan bahwa politik sejatinya bukan tentang siapa yang paling keras berbicara, tetapi siapa yang paling tulus bekerja. “Perempuan bukan sekadar pelengkap demokrasi, melainkan penjaga nurani demokrasi,” tambahnya.
Dalam pandangannya, keterlibatan perempuan dalam politik memiliki dampak besar terhadap kebijakan publik. Terutama dalam perlindungan anak dan perempuan, akses terhadap kesehatan dan pendidikan inklusif, serta pemberdayaan ekonomi masyarakat dan UMKM.
Perempuan Bukan Penghias, Melainkan Penggerak Perubahan
Menutup sesi materinya, Sri Wahyuni menyampaikan pesan inspiratif bagi generasi perempuan muda agar terus berani berpartisipasi aktif dalam politik. “Perempuan memang tak mungkin mengubah dunia dalam satu hari. Tetapi setiap langkah kecil, keberanian untuk bersuara, berpendapat, dan memimpin adalah bagian dari perubahan besar,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa masa depan politik yang lebih manusiawi, empatik, dan berkeadilan akan lahir dari kontribusi nyata perempuan yang hadir bukan sekadar menghias, melainkan menggerakkan. “Mari kita buktikan bahwa perempuan tidak hanya bisa hadir, tetapi juga memimpin. Tidak hanya bisa bicara, tetapi mampu menggerakkan,” pungkasnya.
Pesan tersebut diperkuat oleh Hosiana Rugun Anggraini, Governance/WPS Programme Analyst dari UN Women Indonesia, yang menegaskan bahwa keterwakilan perempuan dalam politik adalah hak, bukan hadiah. Menurut data IPU dan UN Women (2025), hanya 27 persen anggota parlemen dunia adalah perempuan. Di Indonesia sendiri, meskipun kebijakan kuota 30 persen telah diterapkan, hasil Pemilu 2024 menunjukkan bahwa perempuan baru mengisi sekitar 21 persen kursi DPR RI.
Hosiana menjelaskan bahwa upaya meningkatkan partisipasi perempuan masih menghadapi berbagai hambatan struktural dan kultural. Mulai dari biaya kampanye yang tinggi, sistem politik yang maskulin, hingga kekerasan politik berbasis gender (VAWP) yang kerap menghalangi perempuan untuk maju dan bersuara. Karena itu, UN Women Indonesia terus berperan dalam memperkuat kapasitas, keberanian, dan jejaring perempuan agar dapat berkompetisi secara setara di ruang politik.
“Dengan sinergi antara dorongan inspiratif dan dukungan kelembagaan tersebut, cita-cita menuju politik yang lebih inklusif, empatik, dan berkeadilan bagi perempuan Indonesia semakin menemukan pijakannya,” pungkasnya.
Penulis : Muhammad Afriza Atarizki
Editor: Yulia Rohmawati
Sumber : https://unair.ac.id/perkuat-kesetaraan-gender-fh-sukses-selenggarakan-seminar-sinergi-perempuan-dalam-politik/